Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan Kepulauan Riau Kepulauan Riau
Mendu (kepulauan Riau)
- 16 April 2016
Ada dua versi yang berkenaan dengan seni pertunjukan Mendu. Henri Chambert-Loir yang dikutip oleh Raja Hamzah Yunus (1997) mengatakan bahwa, Mendu kemungkinan besar berasal dari Asia Tenggara, karena kesamaannya dengan seni pertunjukan yang disebut sebagai Mendura yang berkembang di Siam, Yunan, Vietnam, dan Kamboja. Kesamaan ini terutama terletak pada pementasannya yang dilakukan di areal tanah terbuka (tanah lapang). Sedangkan versi lainnya (B.M. Syamsudin, 1987), mengatakan bahwa Mendu yang berkembang di daerah Bunguran berasal dari Wayang Parsi yang berkembang di Pulau Penang sekitar tahun 1780-1880. Menurutnya pula, dahulu Mendu hanya dimainkan oleh kaum laki-laki. Namun, memasuki tahun 70-an, ia tidak hanya milik laki-laki semata, tetapi perempuan juga ikut ambil bagian dalam pementasan Mendu. Dari kedua versi itu, tampaknya yang sangat beralasan adalah versi yang pertama, sedangkan versi yang kedua lebih mendekati asal usul Mak Yong ketimbang Mendu. Lepas dari asal-usul tersebut, yang jelas Mendu mulai dikenal oleh masyarakat Bunguran Barat sekitar tahun 1870, sebagaimana yang dikemukakan oleh B.M. Syamsudin.
 
Sebuah kesenian yang tidak jauh berbeda dengan Mak Yong dan Bangsawan (sama-sama menggabungkan unsur nyanyi, tari dan pertunjukan ini menyebar ke berbagai tempat di daerah yang disebut sebagai Pulau Tujuh, yakni: Bunguran Timur (Ranai dan Sepempang), Siantan (Terempa dan Langi), dan Midai. Bahkan, di Tanjungpinang dewasa ini telah ada group Mendu yang anggotanya orang-orang yang berasal dari Natuna. Walaupun demikian, jika orang-orang mendengar istilah Mendu, maka yang terbayang di kepala orang yang bersangkutan adalah Bunguran-Natuna. Dan, ini dapat dimengerti karena di sanalah “pusat” kesenian yang disebut sebagai Mendu di Propinsi Kepulauan Riau.
 
Ada keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan seni pertunjukan lainnya (Mak Yong dan Bangsawan). Keunikan itu adalah ceritera yang dimainkan tanpa naskah, sehingga para pemainnya harus hafal benar alur ceriteranya. Dengan kata lain, harus hafal di luar kepala. Dialog-dialognya disampaikan dengan tarian dan nyanyian yang diiringi dengan musik yang khas, gabungan dari bunyi gong, gendang, beduk, biola, dan kaleng. Sementara itu, lagu-lagu yang dinyanyikan adalah: Numu Satu, Lemak Lamun, Lakau, Catuk, Air Mawar, Jalan Kunon, Ilang Wayat, Perang, Beremas, Ayuhai, Tale Satu, Pucok Labu, Sengkawang, Nasib, Numu Satu Serawak, Setanggi, Burung Putih, Wakang Pecah, Mas Merah, Indar dan Tarik Lembu. Sedangkan tarian-tariannya adalah: Ladun, Jalan Runon, Air Mawar, Lemak Lamun, Lakau, dan Baremas.
 
Ceritera yang dimainkan adalah Hikayat Dewa Mendu yang diangkat dari ceritera rakyat masyarakat Bunguran-Natuna. Ceritera itu terbagi dalam tujuh episode. Ke-7 episode tersebut adalah sebagai berikut: Episode pertama, menceriterakan kehidupan di kayangan dan turunnya Dewa Mendu dan Angkara Dewa ke dunia yang fana. Dalam episode ini juga diceriterakan bagaimana Dewa Mendu bertemu dengan Siti Mahdewi hingga keduanya bersepakat untuk membentuk sebuah keluarga (episode ini kadangkala dibagi menjadi dua, yakni turunya Dewa Mendu dan Angkara Dewa, dan perkawinan Dewa Mendu dengan Siti Mahdewi). Episode kedua, menceriterakan berpisahnya Dewa Mendu dengan Siti Mahdewi akibat perbuatan jin jahat yang diutus oleh Maharaja Laksemalik. Dalam episode ini juga diceriterakan bagaimana Sang Dewa Mendu mencari isterinya tercinta. Episode ketiga, menceriterakan perjalanan Siti Mahdewi, kelahiran anaknya yang kemudian diberi nama Kilan Cahaya, dan perjumpaannya dengan Nenek Kabayan. Episode keempat, mengisahkan tentang perjalanan Dewa Mendu yang kemudian sampai di sebuah kerajaan yang rajanya bernama Bahailani. Masih dalam episode ini, diceriterakan juga bahwa Dewa Mendu akhirnya menikah dengan puteri raja Bahailani. Episode kelima, menceriterakan perjalanan Dewa Mendu ke sebuah kerajaan yang rajanya bernama Majusi. Dalam episode ini juga diceriterakan tentang perkawinan Angkara Dewa dengan puteri Raja Majusi. Episode keenam, menceriterakan perjalanan Dewa Mendu ke sebuah kerajaan yang rajanya bernama Firmansyah. Konon, raja ini sedang mengalami masalah karena puterinya dipinang oleh Raja Beruk yang tidak disukainya. Dalam episode ini juga diceriterakan puteri Firmansyah bertemu dengan Kilan Cahaya. Dan, Episode ketujuh mengisahkan bagaimana Dewa Mendu bertemu dengan Kilan Cahaya yang diawali dengan perkelahian antarkeduanya. Ceritera Dewa Mendu ini dapat dimainkan dalam beberapa versi, namun inti ceriteranya tetap sama.
 
Tokoh-tokoh dalam seni pertunjukan Mendu, disamping Dewa Mendu itu sendiri adalah: Angkara Dewa, Siti Mahdewi, Maharaja Laksemalik, Kilan Cahaya, Nenek Kebayan, Raja Bahailani, Raja Majusi, Raja Firmansyah, Raja Beruk, dan tokoh-tokoh pendukung lainnya yang jenaka seperti Selamat Salabe dan Tuk Mugok. Kedua tokoh ini diibaratkan sebagai garam dalam sebuah sayur. Tanpa mereka rasanya hambar. Oleh karena itu, mereka menjadi bagian yang penting dan sangat disenangi oleh penonton.
 
Bahasa yang dipergunakan dalam berdialog adalah bahasa Mendu dan bahasa Melayu sehari-hari masyarakat pendukungnya. Bahasa Mendu digunakan oleh para tokoh utama, sedangkan bahasa Melayu sehari-hari digunakan oleh tokoh-tokoh lainnya, seperti: jin, dayang, dan peran pembantu lainnya. Berikut ini adalah beberapa kata dari bahasa Mendu dan bahasa Melayu sehari-hari masyarakat Bunguran-Natuna.
 
Bahasa Mendu Bahasa Melayu
Hutan baiduri Hutan rimba
Mahdiri kami Saye
Ampun yadi tuanku Ampun tuanku
Yadi tuan puteri Tuan puteri
 
Sebagai catatan, bahasa Mendu di masing-masing daerah seringkali berbeda. Dengan perkataan lain, bahasa Mendu yang digunakan oleh masyarakat Bunguran Barat berbeda dengan Bunguran Timur, Sintan dan sebaliknya. Bahasa yang dicontohkan di atas adalah bahasa Mendu yang dipergunakan oleh masyarakat Bunguran Barat dalam pementasan Mendu. Sebagaimana seni pertunjukan Mak Yong dan Bangsawan, seni pertunjukan Mendu mengandung pesan (nilai) bahwa kejahatan pada akhirnya akan mengalami kehancuran. Dengan kata lain, kejahatan akan kalah dengan kebaikan.
 
Untuk sebuah pementasan jumlah pemainnya minimal 25 orang (25--35 orang). Jika jumlah pemainnya hanya 25 orang, maka pengaturannya 5 orang sebagai pemusik, kemudian selebihnya sebagai pemain (pelakon). Jika, karena satu dan lain hal, jumlahnya hanya 20 orang, maka harus ada yang berganti peran pada adegan berikutnya. Lalu, jika jumlah pemainnya lengkap (35 orang), maka setiap orag akan melakukan satu peran tertentu. Dengan perkataan lain, setiap orang hanya dapat melakonkan satu tokoh dalam keseluruhan episode.
 
Sebagaimana Bangsawan, pementasan Mendu juga memerlukan panggung sebagai tempat para pemain berlaga. Panggung yang diperlukan itu berukuran 4 x 14 meter, berada di areal terbuka, dan terdiri atas tiga bagian, yakni ruang rias, balai penghadapan, dan arena berladun. Orang yang paling bertanggung jawab untuk pementasan kesenian ini disebut sebagai Khafilah. Tugasnya adalah, sebagaimana layaknya seorang sutradara, yaitu mengatur jalannya pementasan. Sesekali ia bermadah (menyampaikan prolog untuk penampilan berikutnya yang berisi ringkasan ceritera. Sedangkan, yang bertanggung jawab terhadap lingkungan disebut sebagai Syekh. Tugasnya adalah sebagai pelindung bagi para pelakon dari ancaman kekuatan jahat. Oleh karena itu, pementasan Mendu memerlukan pohon pulai (alstonia scholaris) yang ditanam pada bagian depan panggung sebagai penangkal kekuatan magis yang dapat mencelakakan pelakon. Kedua orang ini (Khafilah dan Syekh) biasanya berada di bagian belakang. Sebagai catatan, Syekh ada kalanya berperan sebagai Khafilah, tetapi tidak sebaliknya.
 
Kostum yang dikenakan oleh para pelakonnya adalah baju kurung teluk belanga (laki-laki) dan kebaya (perempuan), atau menyesuaikan peran yang dilakonkan karena tidak ada patokan yangg khusus. Demikian juga perlengkapan pendukungnya. Di masa lalu pementasan kesenian rakyat ini memerlukan waktu yang sangat panjang. Jika keseluruhan episode dilakukan maka bisa sampai 40 malam. Namun, dapat juga diperpendek dalam 3 malam. Dewasa ini pementasan yang biasanya dimulai sekitar pukul 21.00, lamanya menyesuaikan waktu yang tersedia, terkadang sampai dini hari. Dengan kata lain, dapat dimainkan dalam waktu 45 menit sampai dengan 2 jam dengan mengambil fragmen-fragmen yang diperlukan. Sedangkan, pementasan itu sendiri biasanya dilakukan dalam rangka memeriahkan sebuah perkawinan, hari kemerdekaan Indonesia, dan hari-hari besar agama Islam. Sekali-sekali kesenian ini juga tampil dalam sebuah festival kesenian yang diselenggarakan oleh pemerintah propinsi dan lembaga pemerintah lainnya yang bergerak di bidang kebudayaan.
 
Pementasan seni pertunjukan yang disebut sebagai Mendu ini tentunya dilakukan secara berurutan. Dan, urutan itu adalah sebagai berikut: pertama, pertunjukan diawali dengan peranta, yakni pemberitahuan bahwa Mendu akan dipentaskan atau dipanggungkan dengan memukul alat-alat perkusi (gong dan kaleng) sekitar 2 jam lamanya; kedua, madah yang dilakukan oleh Syekh Mandu; ketiga, berladun; yaitu seluruh pelakon menari dan bernyanyi bersama membentuk lingkaran. Setelah itu, secara berpasangan, ada yang berjalan dari kiri dan kanan panggung sambil menari dan menyanyi. Selain itu, mereka berpantun yang isinya ucapan selamat datang dan sekaligus permohonan maaf jika sekiranya nanti pertunjukan kurang mengena di hati penonton. Keempat, para pelakon menyanyikan lagu wayat atau hikayat. Kelima, adegan pertama yang menggambarkan susana kerajaan. Adegan ini diiringi oleh nyanyian Numu Satu. Sebagai catatan, setiap adegan diiringi nyanyian. Untuk adegan Dewa Mendu ada beberapa lagu yang dapat dinyanyikan. Lagu-lagu itu ialah: Lamak Lamun, Numu satu, Serawak, Aik Mawa atau Burung Putih. Keenam, pementasan Mendu itu sendiri, dan ketujuh, penutupan yang sering disebut beremas. Artinya, berkemas-kemas untuk pulang. Di sini para pelakon berbanjar dua baris, menari bersama, dan mengucapkan selamat berpisah disertai permintaan maaf kepada penonton, dan saling meminta maaf diantara para pelakon itu sendiri. 
 
 
 
 
 
Sumber:
Galba, Sindu dan Siti Rohana, 2002, Peta Kesenian Rakyat Melayu Kebupaten Kepulauan Riau, Tanjungpinang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
 
Syamsudin, B.M, 1987, Kesenian Melayu Riau dan Perkembangannya (Pandangan Setempat). Tanjungpinang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang.

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu