Salah saru yang paling saya ingat dari memori masa kecil adalah pernah membeli rujak dengan pecahan genting, Saat itu saya kira itu halusinasi atau mimpi, tapi waktu saya tanya orangtua saya, memang benar ada rujak yang bisa dibeli dengan pecahan genting. Rujak versi gimana sih? Namanya rujak tingkeban, tingkeban adalah syukuran yang biasa dilakukan oleh orang sunda untuk merayakan 7 bulan kehamilannya. Nah, sebenarnya nggak ada resep khusus untuk si rujak tingkeban ini seperti rujak biasa dibuat dari buah- buahan dan bumbunya dari tumbukkan gula merah, asam, garam, dan sedikit terasi. Tapi, katanya sih rujak ini harus dibuat dengan bumbu yang sangat pas. Orang- orang zaman dulu percaya jika rujaknya trerlalu asam nanti anaknya pelit senyum, kalau rujaknya terlalu pedas nanti anaknya galak, dan kalau rujaknya manis anaknya akan murah senyum. Unik kan budaya yang satu ini? Bisa menentukan sifat anak dari sepiring rujak. Lalu, kok bisa sih rujak ini dibeli dengan genting? Dibeli dengan genting adalah sebagai bentuk rasa syukur si ibu karena kehamilannya sudah berumur 7 bulan. Genting sendiri pada zaman itu mudah untuk didapatkan, sehingga kita tidak perlu uang untuk beli rujak tingkeban. Kalau kata orang tua saya sih "Sebenarnya mau sedekah aja, tapi bentuknya dengan rujak"
Tapi sayangnya setelah saya remaja, belum pernah lagi membeli rujak ini dengan genting, mungkin karena orang- orang sudah semakin modern ya? Tujuan bersyukur dengan tujuh bulanan tetap ada tapi sepertinya sudah diganti dengan tradisi yang lain. Tetap rujak ini adalah budaya atau tradisi yang ada di Indonesia, kalau tertarik mungkin kalian mau jadi orang yang memperluas lagi budaya ini? Merasakan syukuran tujuh bulanan dengan rasa jadoel sepertinya asyik juga!
Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland