Ritual
Ritual
Ritual Adat Sulawesi Selatan kabupaten Takalar
Maudu Lompoa, Tradisi Merawat Alam dari Cikoang Takalar
- 24 Desember 2018

Maudu Lompoa bisa diartikan Maulid Akbar. Sebuah perayaan hari kelahiran junjungan Nabi Muhammad SAW, yang dirayakan di setiap 12 Rabiul Awal H. Disebut Maudu Lompoa karena Maulid ini terbesar sebagai puncak dari penyelenggaraan di daerah itu. Maulid akbar biasanya di peringati oleh Warga Desa Cikoang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan pada 29 Rabiul Awal Hijriah.

Perahu yang digotong itu bukanlah perahu biasa. Mereka menyebut julung-julung. Sebuah replica perahu kayu khas Sulawesi, yang biasa digunakan nelayan setempat menangkap ikan. Berbeda dengan perahu biasa, perahu ini lebih ‘berwarna’. Perahu ini telah didandani sedemikian rupa dengan beragam macam kelengkapan sehari-hari. Mulai dari baju, celana, kain, hingga lemari plastik, dan seprei. Bahkan sabun, odol dan panci bergelantungan di sepanjang sisi perahu.

Layar yang dibuat berwarna-warni dari berbagai macam kain ini konon perlambang kedatangan ajaran kebenaran Nabi yang dibawa Sayyid Jalaluddin, sang pelopor. Motif kain yang dipilih bisa bermacam-macam sesuai selera pemilik perahu.

Julung-julung atau perahu arakan ini bertiang empat agak tinggi hingga terlihat mirip sebuah panggung. Di bagian belakang perahu ditempeli uang kertas Rp5.000 atau Rp10.000. Julung-julung ini berisi hidangan khas berupa nasi pamatara atau setengah matang. Dilengkapi lauk ayam kampung dan telur warna-warni penuh hiasan bunga kertas dan male atau guntingan kertas minyak menyerupai tubuh manusia.

Uniknya, perahu-perahu ini, sepanjang perayaan maulid, hanya ditambatkan di sepanjang pesisir Sungai Cikoang, yang hanya berjarak 100-an meter dari pesisir pantai. Lokasi itu menjadi tempat berlabuh perahu-perahu nelayan setelah berlayar di lautan lepas.Prosesi arak-arakan julung-julung ini disebut angngantara’ kanre maudu atau mengantar persiapan maulid ke lokasi Maudu Lompoa.

Setelah tiba di lokasi, sebuah ruang terbuka di depan balla lompoa (aula besar) masyarakat adat Karaeng Laikang, rombongan menyebar mengililingi perahu. Tabuh gendang tetap terdengar bertalu-talu. Tidak hanya saling menyiram air dan melempar lumpur, sejumlah pemuda membentuk lingkaran kecil. Mereka memperagakan mappenca’ atau atraksi pencak silat. Dua orang bergantian bertarung adu silat, dan saling berpelukan setelah pertarungan tuntas.

Pencak silat ini membuat suasana makin gaduh.

Tak jauh dari tempat itu, di sebuah aula yang lain, berlangsung proses lain perayaan maulid ini. Yaitu, proses inti dari perayaan ini diebut zikkiri’ bisa diartikan berdzikir,meski berisi pembacaansyair puja-puji kepada Nabi Muhammad SAW. Juga pembacaan Sura’ Rate’, yang menceritakan kelahiran Nabi hingga masa Islam di Cikoang yang dibawa Sayyid Jalaluddin.

Puluhan pemuka agama keturunan Sayyid Cikoang bergantian membacakan zikkiri’ dan Sura’ Rate’ ini, dikelilingi ratusan warga setempat dengan hikmat.

Perayaan Maudu Lompoa di Cikoang sudah sejak ratusan tahun silam. Tepatnya sejak 1621, ketika ulama besar dari Aceh bernama Sayyid Jalaluddin datang ke daerah ini untuk penyebaran agama Islam.

Sayyid keturunan Arab Hadramaut Arab Selatan yang dianggap sebagai keturunan dari Nabi Muhammad SAW ke-27. Di Cikoang, meski sempat pendapat penentangan dari kerajaan setempat, karena dinilai orang asing yang tidak jelas. Setelah mampu menunjukkan kesaktian, dia diterima dengan baik. Dia dinikahkan dengan putri dari bangsawan Kerajaan Gowa bernama I Acara Daeng Tamami, kebetulan berdomisili di Cikoang. Sayyid menjadi cikal bakal keturunannya di Cikoang.

Di mulai zaman Sayyid inilah Maudu Lompa rutin dan terlembagakan dalam ritual kerajaan setempat. Apalagi ketika pengaruh Sayyid, selalu diartikan sebagai “keturunan Nabi” di Cikoang ini makin kuat dari segi pemerintahan dan keagamaan.

Dari zaman Sayyid ini hingga sekarang perayaan Maulid terus dilakukan. Inilah yang membuat Desa dikenal sebagai ‘Kampung Maulid’. Perayaan Maulid ini bukanlah sekedar ritual tahunan. Makna sosial dari perayaan ini adalah keterikatan sosial. Baik antara masyarakat sebagai sebuah komunitas dari garis keturunan sama, yaitu Sayyid dan keterikatan dengan lingkungan sekitar, tempat mereka hidup dan berkembang.

Ada makna konservasi lingkungan di balik perayaan ini. Sebuah tradisi merawat alam, dengan mensyukuri apa yang diberikan Tuhan baik dari laut maupun daratan. Dengan Maulid di pesisir sungai dan pantai ini, bisa dimaknai luas keterkaitan warga sekitar terhadap alam, lautan tempat mencari nafkah.

Apalagi, dalam ritual ini, kondisi muara Sungai Cikoang, sebagai tempat ritual dibersihan terlebih dahulu. Di sepanjang sungai, tak hanya pusat Maulid, juga lomba balap jolloro (perahu) pancing dan tangkap itik yang sengaja dilepas di sungai. Warga pun akan berhamburan turun ke sungai.

Peneguhan ‘laut’ sebagai simbol sumber penghidupan setidaknya terlihat dari kenyataan tak hanya nelayan andil dalam perayaan ini. Sebagian, pedagang, yang berharap dengan mengikuti perayaan itu rezeki akan bertambah.

Sebelum Maulid, berbagai persiapan dilakukan, seperti penyediaan ayam, beras, minyak kelapa, telur, perahu, dan berbagai perlengkapan lain. Proses ini dimulai sebulan sebelum 12 Rabiul Awal, atau sekitar 10 Shafar Hijriah.

Beberapa persiapan dengan mengurung ayam yang akan disembelih agar sehat. Ayam-ayam inilah disembelih oleh anrongguru atau pemuka agama dari keluarga Sayyid.

Beras yang digunakan harus ditumbuk sendiri, bukan dari pabrik. Lesung untuk menumbuk padi dipagari dan tak boleh rapat ke tanah. Tak diperkenankan bagi penumbuk padi menginjak bagian atas lesung.

Proses ini secara hati-hati dan dipastikan tak satu pun padi yang ditumbuk tercecer ke tanah. Ampas padi harus dikumpulkan pada tempat yang tidak mudah kena kotoran dan terjaga hingga selesai zikkiri’ atau pembacaan Sura’ Rate’.

Pada bagian akhir Maulid dilakukan pambageang kanre maudu’ atau pembagian makanan Maulid. Semua makanan dan aksesoris perahu dibagikan kepada setiap orang di tempat itu, dimulai dari para tokoh agama yang membacakan zikkiri dan Sura’ Rate’. Proses ini berlangsung meriah, orang-orang berebutan mengambil telur yang dinilai sebagai berkah.

Setelah semua proses itu, perahu-perahu ini mengarungi sungai dan lautan, menuju rumah mereka masing-masing dengan arak-arakan.

sumber : http://www.mongabay.co.id/2014/02/07/maudu-lompa-tradisi-merawat-alam-dari-cikoang-takalar/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu