Kalau ingin meresapi tradisi lokal orang Mandar di pedalaman, datanglah ke desa ini, desa terjauh di kecamatan Alu, kabupaten Polewali Mandar, kalau di Mamuju ada kecamatan Kalumpang dengan desa-desa terpencil yang sulit diakses dan terkenal dengan jejak Austronesia nya maka desa ini kurang lebih sama terpencilnya, terlihat jelas beberapa tahun yang lalu saat salah satu stasiun TV Swasta meliput langsung ke desa ini, dengan mengendarai ojek sepeda motor bayaran menyentuh hampir Rp 100.000 untuk sampai ke desa ini.
Puppuuring adalah desa yang paling sulit diakses di kecamatan Alu, walau masuk kedalam wilayah Kabupaten Polewali Mandar, jika dilihat dengan menggunakan peta, maka wilayahnya lebih dekat ke pesisir dari wilayah kabupaten Majene. Dari daerah Totolisi di kecamatan Sendana, Puppuuring lebih singkat dituju.
Dialek bahasa yang digunakan di daerah Puppuring dipengaruhi oleh bahasa Mandar di pedalaman, erat dengan bahasa-bahasa di pegunungan atau bahasa-bahasa Ulu Salu. Menurut Ahmad Sukri, bahasa di Pupuuring kedengarannya mirip dengan bahasa Aralle. Daerah desa ini memang terdapat di daerah terpencil di pegunungan, karena itu wajar jika ia dipengaruhi bahasa pegunungan.
Kegiatan Mopare tampaknya adalah kegiatan memanen padi, seperti yang tampak diposting oleh Arif Sattari, tenaga pengajar yang bertugas di desa Puppuuring dan sempat mendokumentasikan kegiatan lokal masyarakat Mandar ini dalam beberapa video singkat dan foto-foto, sementara Mattaradde adalah kegiatan menyusun tumpukan padi yang belum dipisahkan dari batang utamanya menjadi layaknya gunungan. Satu hal yang menarik adalah nun jauh di pedalaman Alu, pangan disuplai dengan padi jenis dataran tinggi yang tidak membutuhkan pengairan terus menerus seperti padi di dataran rendah.
Dalam kegiatan Mopare, dibawah rangka kayu yang akan menjadi tumpukan padi yang disusun dilakukan ritual Mattunu Undung dengan bahan makanan yang diletakkan diatas nampan, dan nampan tersebut diletakkan diatas beberapa ikatan padi yang masih ada dalam batangnya, lalu seorang tampak melakukan pembakaran undung atau dupa dengan mengambil parang dan sabit lalu diketuk-ketukkan bagian belakangnya hingga bahan logamnya saling bersentuhan. Makanan yang disajikan diatas nampan tidak boleh diambil dan dimakan, jika ritual mattunu undung telah selesai dan padi akan digantung barulah kemudian makanan berupa penganan kecil ini bisa disentuh dan dimakan, ini yang menjadi target buruan anak-anak desa Puppuuring.
Setelah kegiatan Mattunu Undung dilakukan maka kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Mattaradde, saat padi yang masih dalam batangan disusun vertikal dan para penduduk desa bergotong royong menyusunnya, beberapa orang akan berada di atas rangka bangunan kayu, sementara yang lainnya akan melempar ikatan padi pada orang yang berada diatas rangka bangunan.
Menurut Ishana Rachmawati Masang, dalam bahasa Pannei, kegiatan Mopare biasa disebut Mipare, alat yang digunakan adalah Rappakang, dan jenis padi yang dipanen adalah "pare uma" yang rasa nasinya sangat wangi berbeda dengan nasi yang biasa ditanam di sawah dataran rendah, pare uma bukanlah beras merah, jenis padi ini biasa juga dikenal orang dengan nama "padi kebun" yang artinya padi yang ditanam di kebun, bukan di persawahan. Tak perlu saluran irigasi untuk padi jenis pare uma, sebab kebanyakan air akan menyebabkan gagal panen, asalkan tanah lembab saja maka padi sudah bisa tumbuh dengan baik. Ditambahkan oleh Uwais Al Qarni, beras gunung lebih baik dari beras organik. Lebih kaya kandungan mineral dari beras sawah karena sistem pengairannya berasal dari air tanah di punggung bukit/gunung. Tidak banyak tempat di Indonesia yang membudidayakan padi gunung seperti ini. Seperti halnya di pulau Jawa yang sudah tak ada. Di Sumatera, masih ada beberapa. Di Papua, masih cukup banyak. Sementara di Sulawesi, Uwais hanya pernah menemuinya di sekitar wilayah Toli-Toli, Sulawesi Tengah, dan di Toraja, Sulawesi Selatan.
Beras yang dihasilkan di desa di pegunungan lebih banyak untuk dikonsumsi sendiri oleh warga desa, tidak untuk dijual. Menurut penuturan Irwan, yang sering mengadakan perjalanan ke daerah pedalaman Polman, masih ada daerah-daerah lain di kabupaten Polewali Mandar yang membudidayakan padi pegunungan seperti di Puppuuring, misalnya saja di daerah-daerah pedalaman seperti kecamatan Bulo, Tubbi Taramanu (Tutar), dan Matangnga. Sementara di kabupaten Mamasa juga masih ada, namun mulai berkurang. Padi pegunungan punya masa produksi yang lebih lama dibandingkan dengan padi persawahan, kalau padi di persawahan bisa dipanen sebanyak dua kali dalam setahun maka padi pegunungan punya masa produksi yang lama, butuh waktu panen sekali dalam setahun.
Menurut Muhammad Ridwan Alimuddin, desa Puppuuring hampir sama dengan kampung-kampung lain di Mandar. Bedanya hanya kemudahaan akses ke sana. Motor bisa mengakses, namun juga ada ojek. Rumah-rumah penduduk terbuat dari rumah panggung, juga ada yang dari rumah berdinding batu. Kabar terbaru adalah sinyal telepon seluluer juga sudah masuk ke desa ini hanya saja saat Ridwan berkunjung kesana sinyal belum menyentuh tingkat 4G. Pekerjaan orang-orang di desa ini banyak bertani dan berkebun. Akses ke kota dari segi jarak dekat via Totolisi, tetapi akses jalan berbahaya. Sehingga orang-orang di Puppuuring lebih banyak memilih via desa Alu-kelurahan Petoosang.
Puppuuring memiliki potensi kealamian untuk soal destinasi wisata, lokasinya yang jauh dari hingar bingar perkotaan dan akses jalan yang agak sulit membuat ia menjadi tempat yang nyaman untuk jadi kunjungan wisata petualangan. Ada satu hal menarik lagi dari desa ini , ada hamparan batu yang tersusun rapi di jalur sungai (deskripsinya lebih cocok untuk istilah batu meappar) yang jadi misteri, apakah disusun oleh manusia, atau merupakan bentukaan alami alam, namun jika dibentuk oleh alam maka hasilnya tampak sangat sempurna.
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...