Bagi orang Bogor, mungkin sudah banyak yang tau tentang PDAM tirta pakuan. Secara lokasinya yang strategis di tengah pusat kota. Tapi, siapa sangka Bogor masih punya PDAM lagi selain tirta pakuan loh. Yaitu PDAM tirta kahuripan.
Ya, mungkin ini terdengar sedikit kurang familiar ditelinga masyarakat Bogor umumnya. Tapi nyatanya, PDAM yang satu ini memang ada, dan bertempatan di daerah ciomas, Jl pintu ledeng. Dari nama tempatnya aja sudah terdengar kata ledeng, yaa memang tepat dibawah jalan itu terdapat pipa pipa besar yang berisi air untuk masyarakat.
PDAM ini mengambil air dari sekitaran kaki Gunung Salak. Dan lebih tepatnya lagi, dari mata air yang terkenal di sekitar sini, yaitu mata air ciburial. Mata air ciburial ini terkenal dengan keankeran di daerahnya.
Pada awalnya, mata air ini digunakan sebagai konsumsi penjajah yang berada di kota Bogor umumnya sewaktu jaman penjajahan. Ketika Indonesia merdeka, mata air ini diambil alih oleh masyarakat sekitar sebagai sumber mata air konsumsi sekitaran daerah.
Tapi siapa sangka sih, ternyata di dalam PDAM Tirta kahuripan ini terdapat tujuh sumber mata air yang membentuk sumur besar dengan diameter lebih dari 5 meter. Dan konon katanya, pernah ada seorang anak gadis berusia sekitar 12 tahun, yang di jadikan tumbal di tujuh sumur itu. Dan sampai sekarang pun katanya, proses tumbal itu masih di lakukan.
Percaya ga percaya soal tumbal, saya sebagai orang yang tinggal berdekatan dengan PDAM tersebut pun belum pernah masuk ke daerah PDAM tirta kahuripan, tentu berbeda dengan PDAM tirta pakuan yang orang bebas keluar masuk dengan seenaknya. Karena PDAM ini dijaga ketat dan jarang ada masyarakat yang diperbolehkan masuk ke daerah tersebut.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara