Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Bangunan Masjid Sumatera Utara Deli Serdang
Masjid Kerajaan Negeri Bedagai: Masjid Jami’ Ismailiyah
- 17 September 2014

 

Masjid Jami' Ismailiyah  terletak di Desa Beringin, Kecamatan Bedagai, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Sebelah utara masjid berbatasan dengan Sungai Bedagai dan rumah penduduk, sebelah timur dengan jalan besar, sebelah selatan dengan kebun rakyat serta bekas kerajaan Negeri Bedagai, dan sebelah barat dengan kebun rakyat. Adapun bekas kerajaan yang masih terlihat adalah struktur bata merah serta tanah lapang yang luas. Masjid yang merupakan masjid kerajaan ini berdiri di atas lantai bata yang ditata rapi, luas tanah sekitar 900m2, dan dibangun dua lantai dengan pagar tembok dan besi di sekililingnya.

Kepemilikan dan pengelolan masjid diatur oleh keturunan Sultan Bedagai, dimana sampai saat ini fisik dan fungsinya masih terjaga. Menurut ahli waris Sultan Bedagai, masjid dibangun pada tahun 1884. Pemugaran dilakukan pada tahun 1937, yakni penggantian atap yang semula dari genteng menjadi seng, meninggikan posisinya melebihi bangunan istana yang masih berdiri pada waktu itu, dan kubahnya diganti dengan yang lebih besar. Kemudian pada tahun 1982 dilakukan pemugaran kedua dengan mengganti lantai bagian dalam masjid dari tegel menjadi keramik dan dilakukan pembangunan menara. Bentuk asli masjid masih terlihat pada pagar tembok yang bergelombang di bagian atasnya dan memiliki dua tiang sebagai penyangga atap. Bangunan masjid ini terdiri dari serambi, ruang utama, menara, tempat wudhu, dan makam.

Serambi berada di semua sisi masjid dengan pagar setinggi ±1meter dan di atasnya berdiri tiang sejumlah 22 buah yang berhiaskan lengkungan. Lengkungan bagian dalam pagar serambi dihiasi bunga dan sulur-suluran, sementara di bagian tiang dihiasi sulur-suluran dan huruf Arab. Adapun hiasan di dinding pembatas antara serambi dengan ruang utama adalah keramik coklat bermotif matahari dan sebagian dicat putih. Terdapat dua buah anak tangga berkeramik kuning sebelum masuk ke serambi. Serambi di sisi utara dan selatan merupakan serambi tertutup berupa ruangan dengan pintu di bagian depan dan belakangnya. Semua sisi serambi selebar 3 meter dari ruang utama atau ruang sholat.

Ruang sholat berlantai keramik dan dinding bercat putih berhias kaligrafi ini memiliki ukuran ±21mx17m. Memiliki sembilan pintu dan empat jendela dengan bentuk lengkungan di atasnya serta dihiasi ornamen bunga-bungaan. Menurut masyarakat setempat ornamen ini disebut “roda sula” yaitu ornamen khas suku Melayu.  Di dalam ruang utama terdapat empat tiang kayu, mihrab, dan mimbar. Mihrab terletak di sisi barat berbentuk lengkungan setengah lingkaran dan terbuat dari bahan keramik. Bagian luar mihrab berbentuk bulatan, dua pintu di sisi kanan dan kiri mihrab terlihat dibagian dinding belakang. Di sisi kiri mihrab terletak mimbar yang terbuat dari kayu berukir dengan dua pintu dan tiang di kedua sisi pintu. Mimbar tersebut dibagi menjadi tiga bagian, yakni bawah (memiliki pintu tangga dengan dinding sisi kiri-kanan penuh ukiran), tengah (tempat duduk pemberi khotbah dengan ukiran berbentuk lengkungan), dan atap (berbentuk kerucut dengan ukir-ukiran bunga dan suluran). Atap masjid bertingkat tiga dan diberi jarak antara setiap atap sebagai ventilasi.

Masjid Jami' Ismailiyah juga memiliki menara dengan tinggi ±50 meter, terdiri dari lima tingkat, dan terletak di sudut timur laut halaman masjid. Tingkat pertama terdiri atas tiga tingkat berbentuk ruangan yang dihiasi dua jendela di setiap sisinya. Menara bagian kedua berbentuk segi delapan, sedangkan bagian  ketiga dan keempat berbentuk bulat. Bagian kesatu hingga keempat ini di bagian paling atasnya diberi pagar keliling. Terakhir, bagian kelima berbentuk bulatan-bulatan yang makin kecil ke arah atas, dimana puncaknya dihiasi lingkaran yang di dalamnya berisi bulatan. Selain menara, di halaman masjid sebelah kiri juga terdapat bangunan tempat wudhu yang atapnya berbentuk tumpang dengan hiasan berbentuk “pucuk rebung” sebagai ciri khas bangunan Melayu. Sementara di halaman bagian selatan dan barat dipenuhi makam keluarga Sultan Bedagai. Di bagian belakang masjid terdapat tiga makam dalam satu pagar, yakni makam Sultan Bedagai Tengku Ismail Sulung Laut di bagian tengah dan makam kedua anaknya di sisi kiri-kanan. Nisan dan jirat makam terbuat dari marmer yang mana berdasarkan ahli warisnya, nisan dan marmer tersebut di impor dari Cina.

 

Sumber: http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1341/masjid-kerajaan-negeri-bedagai-masjid-jami-ismailiyah

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu