Apakah teman-teman semua sudah tau apa itu BakCang? Atau mungkin teman-teman pernah mendengar sekilas dari masyarakat keturunan TiongHoa yang ada di sekitar anda. Pada artikel berikut ini, akan dijelaskan mengenai asal-usul BakCang dan cara membuatnya.
[ASAL USUL]
Berdasarkan cerita dari orang tua dan kakek nenek saya, BakCang sudah ada sejak Dinasti Zhou ( salah satu dinasti yang ada di negara Tiongkok ). Pada zaman ini pula, hidup seorang penyair yang bernama Qu Yuan. Beliau adalah seorang penyair yang amat sangat peduli dengan kesejahteraan rakyat pada zaman itu. Rakyat di negara itu pun sangat peduli dengan Qu Yuan. Hingga tiba suatu waktu dimana beliau merasa sangat putus asa karena penderitaan yang dialami oleh rakyat di negaranya. Beliau pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat ke sebuah sungai yang bernama Mi Luo.
Masyarakat mengetahui akan hal ini pun merasa sangat sedih. Mereka pun segera membuat nasi yang dibungkus dengan daun bambu yang kemudian diikat, untuk kemudian di buang ke sungai Mi Luo tersebut, dengan harapan ikan-ikan yang ada di sana tidak memakan jenazah Qu Yuan, melainkan nasi bungkus (BakCang) yang telah dibuat oleh masyarakat. BakCang yang dibuat pada waktu itu memiliki bentuk seperti tanduk kerbau ( niu jiao )
Jadi begitulah cerita singkat bagaimana BakCang bisa ada hingga sekarang. BakCang sendiri masih tetap eksis hingga saat ini berkat pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat keturunan TiongHoa, dimana pada setiap tanggal 5 bulan 5 kalender lunar, warga TiongHoa memperingati "Duan Wu Jie" (memperingati Qu Yuan) dengan mempersembahkan BakCang saat sembahyang.
[Proses Membuat]
BakCang merupakan makanan khas warga TiongHoa yang dimana berisikan beras ketan dan biasanya ditambahkan daging cincang (yang sudah diberi bumbu) sebagai isinya yang kemudian dibungkus dengan daun bambu.
Bahan-Bahan Dasar : Beras ketan putih ; Daging ( B2, sapi, atau ayam ) ; Udang kering (ebi) ; Chestnut (biji kenari) ; Jamur kering (shitake) ; Daun bambu ; Tali/benang
Bumbu-Bumbu : Bawang merah ; Bawang putih ; Merica bubuk ; Serbuk ngo hiang (five spicy powder) ; Kecap asin hitam ; Minyak goreng ( minyak wijen ) ; Penyedap rasa ; Garam halus
Cara Membuat : Bawang merah dan putih dipotong halus; Cara masak beras ketan yaitu panaskan minyak di wajan lalu tumis bawang merah dan putih, setelah keluar aroma baru masukkan beras ketan putih, garam dan penyedap rasa secukupnya, aduk rata. Cara masak dagingnya yaitu tumis bawang merah dan bawang putih lalu masukkan daging yang dicincang halus yang telah dikukus terlebih daulu , jamur kering (shitake) , merica bubuk secukupnya, serbuk ngo hiang ( five spicy powder ), tambahkan kecap hitam secukupnya, garam dan penyedap rasa. Tumis sekitar 15 menit hingga wangi dan jangan lupa dicicipi terlebih dahulu. Kemudian kukus sebentar daun bambu kemudian bentuk seperti bangun ruang limas dan isi beras ketan dan daging, bungkus dan kemudian ikat. Jadi deh!
#OSKMITB2018
Tenun Sumba: Simbol Kehidupan dalam Setiap Helai Benang Identitas dan Asal-Usul Tenun Sumba merupakan kain tradisional yang berasal dari Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur [S1][S2]. Kain ini dikenal sebagai wastra yang diolah menggunakan pewarna alami dengan proses pengerjaan yang cukup panjang, berkisar antara enam bulan hingga tiga tahun [S3]. Keberadaan tenun Sumba tidak hanya sebagai karya seni tekstil, tetapi juga menjadi simbol identitas masyarakatnya yang mencerminkan kearifan lokal setempat [S2]. Sejarah tenun Sumba berkaitan erat dengan tradisi lisan masyarakatnya yang tidak mengenal tradisi tulis di masa lalu [S5]. Berdasarkan sastra lisan yang diwariskan turun-temurun dalam kepercayaan Marapu, nenek moyang masyarakat Sumba diyakini sebagai pendatang yang memasuki pulau ini secara bergelombang melalui beberapa titik, seperti Tanjung Sasar, Muara Sungai Pandawai, Muara Sungai Wulla, dan pantai selatan Pulau Sumba [S5]. Dalam Lii Marapu (sabda leluhur), diungkapka...
Tenun Sumba: Simbol Kehidupan dalam Setiap Helai Benang Identitas dan Asal-Usul Tenun Sumba merupakan kain tradisional yang berasal dari Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur [S1][S2]. Kain ini dikenal sebagai wastra yang diolah menggunakan pewarna alami dengan proses pengerjaan yang cukup panjang, berkisar antara enam bulan hingga tiga tahun [S3]. Keberadaan tenun Sumba tidak hanya sebagai karya seni tekstil, tetapi juga menjadi simbol identitas masyarakatnya yang mencerminkan kearifan lokal setempat [S2]. Sejarah tenun Sumba berkaitan erat dengan tradisi lisan masyarakatnya yang tidak mengenal tradisi tulis di masa lalu [S5]. Berdasarkan sastra lisan yang diwariskan turun-temurun dalam kepercayaan Marapu, nenek moyang masyarakat Sumba diyakini sebagai pendatang yang memasuki pulau ini secara bergelombang melalui beberapa titik, seperti Tanjung Sasar, Muara Sungai Pandawai, Muara Sungai Wulla, dan pantai selatan Pulau Sumba [S5]. Dalam Lii Marapu (sabda leluhur), diungkapka...
Sasando: Antara Nada Lontar dan Merdu dari Rote Identitas dan Asal-Usul Sasando adalah alat musik tradisional berdawai yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) [S1][S5]. Secara organologis, sasando diklasifikasikan sebagai kordofon, yaitu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari petikan jari terhadap senar [C2][C3]. Keunikan utama sasando terletak pada wadah resonansinya yang terbuat dari anyaman daun lontar, yang menghasilkan suara khas dan tidak dapat ditemukan pada alat musik lainnya [S2][C4]. Bentuknya yang unik ini membuat sasando mudah dikenali dan sering kali memikat perhatian pada pandangan pertama [S4][C7]. Alat musik ini memiliki kemiripan prinsip dengan kecapi atau harpa karena sama-sama dimainkan dengan cara dipetik, namun sasando memiliki bentuk dan karakter suara yang sangat khas [S5]. Perbedaan mendasar terletak pada konstruksi dan materialnya. Tabung bambu sebagai tempat merentangkan senar diletakkan di dalam sebuah wadah resonansi dari anyaman...
Sasando: Antara Nada Lontar dan Merdu dari Rote Identitas dan Asal-Usul Sasando adalah alat musik tradisional berdawai yang berasal dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) [S1][S5]. Secara organologis, sasando diklasifikasikan sebagai kordofon, yaitu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari petikan jari terhadap senar [C2][C3]. Keunikan utama sasando terletak pada wadah resonansinya yang terbuat dari anyaman daun lontar, yang menghasilkan suara khas dan tidak dapat ditemukan pada alat musik lainnya [S2][C4]. Bentuknya yang unik ini membuat sasando mudah dikenali dan sering kali memikat perhatian pada pandangan pertama [S4][C7]. Alat musik ini memiliki kemiripan prinsip dengan kecapi atau harpa karena sama-sama dimainkan dengan cara dipetik, namun sasando memiliki bentuk dan karakter suara yang sangat khas [S5]. Perbedaan mendasar terletak pada konstruksi dan materialnya. Tabung bambu sebagai tempat merentangkan senar diletakkan di dalam sebuah wadah resonansi dari anyaman...
Ulee Balang: Filosofi di Balik Busana Kebesaran Aceh Identitas dan Asal-Usul Pakaian Adat Ulee Balang merupakan busana tradisional khas Aceh yang identitasnya melekat erat dengan nama golongan bangsawan atau pemimpin wilayah di masa Kesultanan Aceh [S1], [S3]. Nama “Ulee Balang” sendiri merujuk pada status sosial pemakainya, yakni para raja kecil atau hulubalang yang berkuasa di daerah-daerah tertentu dalam struktur kerajaan. Sebagai representasi status sosial dan budaya, busana ini bukan sekadar pakaian, melainkan cerminan identitas sebuah komunitas yang diwariskan secara turun-temurun [S3]. Secara geografis, pakaian ini berasal dari wilayah Aceh yang berada di ujung utara Pulau Sumatera [S2]. Dalam konteks historis, pakaian ini merupakan produk akulturasi budaya Melayu dan Islam yang kental, yang membentuk karakter masyarakat Aceh [S1], [S5]. Sumber-sumber yang ada menyepakati bahwa busana ini lazim digunakan dalam acara-acara sakral seperti pernikahan dan upacara adat [S1], [...