Ritual
Ritual
Ritual Jawa Barat Karawang
Mapag Cai
- 23 November 2018

Mapag dalam kosa kata sunda berarti menjemput dan Cai berarti air  (menjemput air) adalah sebuah tradisi agraris yang masih ada di Karawang, dimana tatakelola air diatur berdasarkan keikutsertaan semua masyarakat (partisipatoris), bagaimana air didistribusikan secara adil dengan penjadwalan pergiliran  air sesuai dengan musim tanam dan penggolongan air.  Biasanya peristiwa ini dilakukan ketika musim tanam tiba, dimana pada musim tanam, kebutuhan air untuk  pertumbuhan tanaman padi sangat diperlukan. Begitu pentingnya air untuk pertumbuhan tanaman padi, menjadikan konflik-konflik perebutan air antar petani masih sering terjadi, tidak sedikit yang menjadi korban atas perebutan air ini.

Tradisi mapag cai sendiri sebenarnya sudah lama dilakukan ditatar sunda Karawang dengan basis pertanian yang begitu luas, tradisi ini bisa dilihat dengan ditemukannya Candi Jiwa & Blandongan yang ditengarai keberadaannya sejak abad 2 M di tengah hamparan persawahan, di areal kawasan percandian ditemukan beberapa sumber mata air (sumur) yang diyakini sumber mata air tersebut adalah sebagai pusat pengambilan prosesi ritual air Mapag Cai, dimana air adalah lambang keberkahan, kesuburuan dan kemakmuran, sehingga air harus diperlakukan dengan arif. Pemberian sesajenan seperti jajanan pasar, kembang dan ayam panggang yang ditaruh di dekat sumber air sebenarnya adalah upaya-upaya pelestarian sumber air dari pengrusakan yang masih kental dalam tradisi agraris.

Dalam kekinian, Proses upacara ritual Mapag Cai sendiri dilakukan dengan pembukaan pintu air utama dengan dilakukan secara adat sunda Karawang, Bupati sebagai sesepuh dan wakil pemerintah melakukan opening dengan pembukaan pintu air sebagai tanda prosesi Mapag Cai dilakukan dan dimulainnya musim tanam.

Menurut pengakuan salah satu petani di Desa Teluk Jaya, Kecamatan Pakis Jaya, Bapak Adang, dengan adanya upaya menghidupkan kembali tradisi Mapag Cai ini, cukup dirasakan manfaatnya. Sawah miliknya yang Cuma 0,25 h yang tadinya sulit kebagian air ketika musim tanam tiba, apalagi posisi persawahan di kecamatan pakis jaya adalah paling hilir, artinya air sampai areal persawahannya dalam kondisi yang sangat terbatas karena sudah banyak di bagi-bagi di daerah hulu, dengan adanya Mapag Cai ini air sampai ke areal persawahannya tidak lagi sekecil sebelumnya, walaupun harapannya air sampai di areal persawahannya lebih dari cukup, untuk itu Bapak Adang berharap tradisi yang hampir punah ini harus terus dilestarkan (Hasil wawancara langsung 6/juni/2010).

Karawang salah satu lumbung padi Jawa Barat dari tahun ke tahun mengalami konversi lahan persawahan, seperti data hasil Laporan Tahunan Dinas Pertanian, Kehutanan dan PerkebunanTahun 2008 Kab. Karawang, Luas lahan di Kabupaten Karawang adalah 175.327 Ha terdiri dari lahan sawah 94.311 Ha dan lahan kering/darat 81.0161 Ha. Pada Tahun 2008 terjadi alih fungsi lahan sawah seluas 78,4494 Ha dengan rincian sebagai berikut :

TABEL  LUAS ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH TAHUN 2008 DI KABUPATEN KARAWANG, JAWA BARAT

NO KECAMATAN LUAS (HA) PERUNTUKAN
1 Karawang Timur 25.8 Perumahan, TPU, RS Swasta
2 Karawang Barat 9.4 Perumahan,Bengkel,Gudang
3 Rengasdengklok 6.04 SPBU, SMP, Bengkel
4 Telukjambe Barat 3.05 Maxing Blending, Kantor
5 Telukjambe Timur 3.01 Mess, Kantor
6 Pakisjaya 4.25 Perumahan, Industri
7 Klari 6.5 SMP
8 Telagasari 0.9 SMP
9 Jayakerta 1.1 SMP
10 Pedes 0.3 SMP
11 Cilebar 0.6 SMP
12 Tirtajaya 1 SMP
13 Ciampel 2 SMA
14 Cilamaya Wetan 2.1 SMP
15 Cilamaya Kulon 1.6 Kantor
16 Kota Baru 8.46 Perumahan, SMP, TPAS
17 Purwasari 2.2 Perumahan
JUMLAH 78.31  

Sumber : Karawangkab.go.id

Dari data di atas bisa kita lihat terjadinya alih fungsi sawah yang begitu massif di Kabupaten Karawang. Industrialisasi dan perumahan adalah penyumbang terbesar dari alih fungsi lahan persawahan di Karawang. Banyaknya industri–industri yang bermunculan di Karawang tentunya membutuhkan lahan–lahan baru untuk pembangunan pabrik, sayangnya banyak pembangunan pabrik-pabrik di lahan yang masih produktif, munculnya pembangunan pabrik membuat konsekuensi urbanisasi meningkat yang akhirnya kebutuhan akan tempat tinggal semakin tinggi, tuntutan pembangunan perumahan juga dilakukan seiring meningkatnya jumlah kaum urban, alih-alih pembangunan perumahanpun tidak sedikit yang dilakukan diatas lahan produktif persawahan. Pergeseran Karawang sebagai lumbung padi menjadi kawasan industri semakin tidak terabaikan , pertanian berikut kebudayaan agrarisnya tentunya akan semakin termarjinalkan.

Potensi Tanaman Padi Sawah Kabupaten Karawang, Jawa Barat:

Luas baku sawah: 94.311 Ha

1.       Sawah pengairan teknis : 81.595 Ha

2.       Sawah setengah teknis : 5.107 Ha

3.       Sawah pengairan sederhana: 4.391 Ha

4.       Sawah tadah hujan: 3.218 Ha

Luas pemanfaatan lahan sawah sebagai berikut:

1.       Ditanami padi 2 kali satu tahun: 80.562,5 Ha

2.       Ditanami padi 3 kali satu tahun: 12.084 Ha

3.       Ditanami padi 1 kali setahun : 1.503 Ha

4.       Ditanami sayuran/palawija : 1.683  Ha

Sumber : Karawangkab.go.id

Memaknai Mapag Cai

Semangat kegotong royongan, solidaritas dan lestari adalah semangat Mapag Cai rohdari tradisi ini, bagaimana masyarakat dengan partisipatoris melakukan musyawarah menentukan jadwal pergiliran air, pembersihan irigasi, dan memperlakukan air dengan kearifan yang mereka miliki.  Artinya dalam gerusan industrialisasi dan globalisasi yang terus menggerus pertanian dan budaya agrikulturnya terutama di Karawang,  masih ada sedikit tersisa dari kearifan masyrakatnya, semoga lestari.

*M. Ridwan SM/ anggota Perkumpulan Budaya Bumi Bagus, Penggiat Front Kebudayaan Nasional & pengusaha kecil di Karawang

sumber: https://bumibagus.wordpress.com/2011/01/12/mapag-cai-menggayung-sisa-kearifan-tradisional-melimpahkan-beras-di-karawang/

#SBJ

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker