Mapag dalam kosa kata sunda berarti menjemput dan Cai berarti air (menjemput air) adalah sebuah tradisi agraris yang masih ada di Karawang, dimana tatakelola air diatur berdasarkan keikutsertaan semua masyarakat (partisipatoris), bagaimana air didistribusikan secara adil dengan penjadwalan pergiliran air sesuai dengan musim tanam dan penggolongan air. Biasanya peristiwa ini dilakukan ketika musim tanam tiba, dimana pada musim tanam, kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman padi sangat diperlukan. Begitu pentingnya air untuk pertumbuhan tanaman padi, menjadikan konflik-konflik perebutan air antar petani masih sering terjadi, tidak sedikit yang menjadi korban atas perebutan air ini.
Tradisi mapag cai sendiri sebenarnya sudah lama dilakukan ditatar sunda Karawang dengan basis pertanian yang begitu luas, tradisi ini bisa dilihat dengan ditemukannya Candi Jiwa & Blandongan yang ditengarai keberadaannya sejak abad 2 M di tengah hamparan persawahan, di areal kawasan percandian ditemukan beberapa sumber mata air (sumur) yang diyakini sumber mata air tersebut adalah sebagai pusat pengambilan prosesi ritual air Mapag Cai, dimana air adalah lambang keberkahan, kesuburuan dan kemakmuran, sehingga air harus diperlakukan dengan arif. Pemberian sesajenan seperti jajanan pasar, kembang dan ayam panggang yang ditaruh di dekat sumber air sebenarnya adalah upaya-upaya pelestarian sumber air dari pengrusakan yang masih kental dalam tradisi agraris.
Dalam kekinian, Proses upacara ritual Mapag Cai sendiri dilakukan dengan pembukaan pintu air utama dengan dilakukan secara adat sunda Karawang, Bupati sebagai sesepuh dan wakil pemerintah melakukan opening dengan pembukaan pintu air sebagai tanda prosesi Mapag Cai dilakukan dan dimulainnya musim tanam.
Menurut pengakuan salah satu petani di Desa Teluk Jaya, Kecamatan Pakis Jaya, Bapak Adang, dengan adanya upaya menghidupkan kembali tradisi Mapag Cai ini, cukup dirasakan manfaatnya. Sawah miliknya yang Cuma 0,25 h yang tadinya sulit kebagian air ketika musim tanam tiba, apalagi posisi persawahan di kecamatan pakis jaya adalah paling hilir, artinya air sampai areal persawahannya dalam kondisi yang sangat terbatas karena sudah banyak di bagi-bagi di daerah hulu, dengan adanya Mapag Cai ini air sampai ke areal persawahannya tidak lagi sekecil sebelumnya, walaupun harapannya air sampai di areal persawahannya lebih dari cukup, untuk itu Bapak Adang berharap tradisi yang hampir punah ini harus terus dilestarkan (Hasil wawancara langsung 6/juni/2010).
Karawang salah satu lumbung padi Jawa Barat dari tahun ke tahun mengalami konversi lahan persawahan, seperti data hasil Laporan Tahunan Dinas Pertanian, Kehutanan dan PerkebunanTahun 2008 Kab. Karawang, Luas lahan di Kabupaten Karawang adalah 175.327 Ha terdiri dari lahan sawah 94.311 Ha dan lahan kering/darat 81.0161 Ha. Pada Tahun 2008 terjadi alih fungsi lahan sawah seluas 78,4494 Ha dengan rincian sebagai berikut :
TABEL LUAS ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH TAHUN 2008 DI KABUPATEN KARAWANG, JAWA BARAT
NO KECAMATAN LUAS (HA) PERUNTUKAN 1 Karawang Timur 25.8 Perumahan, TPU, RS Swasta 2 Karawang Barat 9.4 Perumahan,Bengkel,Gudang 3 Rengasdengklok 6.04 SPBU, SMP, Bengkel 4 Telukjambe Barat 3.05 Maxing Blending, Kantor 5 Telukjambe Timur 3.01 Mess, Kantor 6 Pakisjaya 4.25 Perumahan, Industri 7 Klari 6.5 SMP 8 Telagasari 0.9 SMP 9 Jayakerta 1.1 SMP 10 Pedes 0.3 SMP 11 Cilebar 0.6 SMP 12 Tirtajaya 1 SMP 13 Ciampel 2 SMA 14 Cilamaya Wetan 2.1 SMP 15 Cilamaya Kulon 1.6 Kantor 16 Kota Baru 8.46 Perumahan, SMP, TPAS 17 Purwasari 2.2 Perumahan JUMLAH 78.31
Sumber : Karawangkab.go.id
Dari data di atas bisa kita lihat terjadinya alih fungsi sawah yang begitu massif di Kabupaten Karawang. Industrialisasi dan perumahan adalah penyumbang terbesar dari alih fungsi lahan persawahan di Karawang. Banyaknya industri–industri yang bermunculan di Karawang tentunya membutuhkan lahan–lahan baru untuk pembangunan pabrik, sayangnya banyak pembangunan pabrik-pabrik di lahan yang masih produktif, munculnya pembangunan pabrik membuat konsekuensi urbanisasi meningkat yang akhirnya kebutuhan akan tempat tinggal semakin tinggi, tuntutan pembangunan perumahan juga dilakukan seiring meningkatnya jumlah kaum urban, alih-alih pembangunan perumahanpun tidak sedikit yang dilakukan diatas lahan produktif persawahan. Pergeseran Karawang sebagai lumbung padi menjadi kawasan industri semakin tidak terabaikan , pertanian berikut kebudayaan agrarisnya tentunya akan semakin termarjinalkan.
Potensi Tanaman Padi Sawah Kabupaten Karawang, Jawa Barat:
Luas baku sawah: 94.311 Ha
1. Sawah pengairan teknis : 81.595 Ha
2. Sawah setengah teknis : 5.107 Ha
3. Sawah pengairan sederhana: 4.391 Ha
4. Sawah tadah hujan: 3.218 Ha
Luas pemanfaatan lahan sawah sebagai berikut:
1. Ditanami padi 2 kali satu tahun: 80.562,5 Ha
2. Ditanami padi 3 kali satu tahun: 12.084 Ha
3. Ditanami padi 1 kali setahun : 1.503 Ha
4. Ditanami sayuran/palawija : 1.683 Ha
Sumber : Karawangkab.go.id
Memaknai Mapag Cai
Semangat kegotong royongan, solidaritas dan lestari adalah semangat Mapag Cai rohdari tradisi ini, bagaimana masyarakat dengan partisipatoris melakukan musyawarah menentukan jadwal pergiliran air, pembersihan irigasi, dan memperlakukan air dengan kearifan yang mereka miliki. Artinya dalam gerusan industrialisasi dan globalisasi yang terus menggerus pertanian dan budaya agrikulturnya terutama di Karawang, masih ada sedikit tersisa dari kearifan masyrakatnya, semoga lestari.
*M. Ridwan SM/ anggota Perkumpulan Budaya Bumi Bagus, Penggiat Front Kebudayaan Nasional & pengusaha kecil di Karawang
sumber: https://bumibagus.wordpress.com/2011/01/12/mapag-cai-menggayung-sisa-kearifan-tradisional-melimpahkan-beras-di-karawang/
#SBJ
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...