Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Jawa Tengah Magelang
Mangut Beong Khas Magelang
- 27 Februari 2017

Mangut Beong merupakan makanan khas Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Bagi sebagian orang, makanan Mangut Beong mungkin masih asing di telinga. Mangut adalah salah satu jenis masakan seperti gulai namun lebih encer dan pedas. Biasanya ikan air tawarlah yang diolah menjadi mangut. Sedangkan Beong adalah ikan endemik yang hanya bisa ditemukan di sungai Progo dan kini sudah mulai langka namun ada kabar baik bahwa Beong mulai dibudidayakan warga sekitar. Yang paling disukai dari Mangut Beong adalah bagian kepalanya. Mangut Beong ini diproses dengan digoreng garing terlebih dahulu baru dimasukkan ke kuah super pedas hingga bumbunya meresap

Bagi para pecinta kuliner nusantara, makanan khas yang satu ini perlu dicoba dan sangat mudah ditemukan di warung makan yang menyediakan mangung beong di Kabupaten Magelang, terlebih di Kecamatan Borobudur.

Resep Nikmat Mangut Beong

Ikan beong memang pas diolah menjadi mangut, sebab jika hanya digoreng atau dimasak gurih akan menjadi kurang lezat. Bau amis pada ikan beong sangat tajam, dan cukup sulit untuk dihilangkan. Namun, dengan memasaknya menjadi mangut yang pedas, bau amis ikan ini dapat dihilangkan.

"Proses pembuatan mangut beong sendiri dimulai dengan membersihkan ikan terlebih dahulu. Kemudian menyiapkan semua bumbu dapur seperti kunyit, lengkuas, serai, daun salam, ketumbar, dan merica. Untuk menghilangkan bau amis dari beong, jangan lupa untuk memberikan daun jeruk. Kemudian, ikan beong terlebih dahulu digoreng sebelum dimasukkan ke dalam gulai. Setelah semua bumbu disiapkan, lalu ditumis hingga baunya terasa. Setelah itu, ditambahkan santan hingga mendidih. Lalu, ikan beong yang sudah digoreng dimasukkan ke dalam santan yang mendidih. Jangan lupa terus diaduk agar bumbunya meresap ke dalam daging", ungkap Nur Rohman, pemilik salah satu rumah makan di Kabupaten Magelang.

Waktu yang dibutuhkan untuk memasak mangut beong sekitar 45 menit. Cara pembuatannya terbilang mudah, akan tetapi membutuhkan keahlian khusus serta kepekaan dalam cita rasa. Sehingga yang dihasilkan adalah mangut beong spesial pedas dan gurih.

Harga

Harga per porsi mangut beong berbeda-beda tergantung besar kecilnya irisan ikan, mulai dari Rp 20.000 - Rp 50.000. Beberapa pecinta wisata kuliner lebih suka bagian kepala ikan, ada juga yang permintaan bagian badan/ekor. Kalau mau yang masih berwujud ikan utuh pun biasanya disediakan.

Sumber

http://wisatajawa.co.id/mangut-beong-kuliner-magelang-yang-wajib-di-coba/ http://www.magelangkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1598:mangut-beong-kuliner-cita-rasa-pedas-khas-kabupaten-magelang&catid=204:berita-kebudayaan http://goborobudur.com/2016/02/06/mangut-beong-kuliner-legendaris-dan-langka-dari-borobudur/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker