Tradisi Malam Selikuran merupakan salah satu wajah Islam Nusantara yang mewarisi semangat akulturasi Islam-Jawa versi Wali Songo dalam berdakwah.
Selepas salat tarawih, ratusan prajurit Kasunan Surakarta berbaris membawa pedang, tombak, dan panah di depan Kori Kamandungan memimpin Kirab Malam Selikuran. Mereka berjalan menuju Masjid Agung Kauman, diikuti para punggawa keraton dan abdi dalem yang memikul 1.000 nasi tumpeng dan membawa 1.000 lampu ting (lentera).
Sebagian abdi dalem berbaris sambil menabuh gamelan, sementara lainnya menyanyikan tembang Macapat Dandhangula, yang diambil dari Serat Wulangreh karya Sunan Pakubuwono IV yang bertutur tentang Al-Qur’an sebagai sumber ajaran sejati serta rahasia malam seribu bulan.
Tidak seperti tahun sebelumnya, kirab tumpeng sewu dan lampu ting tidak berakhir di Masjid Agung, melainkan berlanjut menuju Kebonraja Taman Sriwedari yang berjarak sekitar tiga kilometer. Tahun ini, kirab dikembalikan mengikuti kebiasaan Sunan Pakubuwono X yang melakukan kembul bujana (kenduri) Malam Selikuran di Sriwedari.
Di Joglo Sriwedari, para abdi dalem meletakkan kotak-kotak kayu yang dipikulnya dan menatanya di tengah lantai. Setiap kotak berisi nasi tumpeng yang dikemas dalam bungkusan plastik per porsi makan–nasi berbentuk kerucut dalam wadah takir (mangkuk kertas)–untuk mempermudah dan mempercepat pembagian.
Setiap bungkus terdiri dari nasi gurih, cabai hijau besar utuh, kedelai hitam goreng, irisan mentimun, dan telur puyuh. Nasi putih melambangkan kesucian hati untuk menyambut sepertiga terakhir bulan Ramadan, sedangkan sebiji cabai warna hijau sebesar telunjuk jari melambangkan ketauhidan dan persaksian tentang keesaan Allah.
Setelah panitia membacakan sejarah Malam Selikuran, ulama keraton memimpin doa kenduri dengan khusyuk dan diamini oleh semua yang hadir. Sebagai akhir ritual, nasi tumpeng bungkus dibagikan kepada semua orang untuk disantap bersama.
Karena jumlahnya terbatas 1.000, tidak semua orang yang datang bisa mendapatkannya. Selain warga yang menyaksikan, para abdi dalem sendiri juga ikut berebut. Satu tumpeng nasi gurih kira-kira setara dengan satu bungkus nasi Padang, cukup mengenyangkan untuk satu orang.
Dulu tradisi ini dikenal sebagai Maleman Kebonraja yang mampu menarik masyarakat pedesaan dari sekitar Solo. Setiap Maleman, orang-orang di Sukoharjo, Sragen, Klaten, Wonogiri, dan Boyolali datang ke Sriwedari untuk menyaksikan kirab, termasuk ikut berebut nasi gurih.
Tradisi dari Sunan Pakubuwono X inilah yang membuat Kebonraja populer di kalangan orang-orang tua sejak 1927 sebagai pusat keramaian malam. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, pihak keraton mengalihkan tujuan kirab Malam Selikuran ke Masjid Agung karena lahan Sriwedari dilanda sengketa hak waris.
Tradisi Malam Selikuran sudah ada sejak Kerajaan Demak, dan dilanjutkan oleh Kerajaan Pajang, Mataram, dan Kartasura untuk menyambut Lailatul Qadar, yang dalam kepercayaan Islam merupakan malam paling agung karena kemuliaannya sama dengan 1.000 bulan.
Sebagai penerus tahta, Kasunan Surakarta tetap melestarikannya dengan menggelar kirab setiap malam ke-21 bulan Ramadan setiap tahunnya.
Selikur artinya 21, yang memiliki makna sebagai awal malam ganjil di sepuluh hari terakhir di mana satu di antaranya merupakan Lailatul Qadar. Malam ke-21 Ramadan juga istimewa karena menandai peristiwa turunnya Nabi Muhammad dari Gua Hira di Jabal Nur setelah menerima wahyu (Al-Qur’an) pertama dari Allah lewat malaikat Jibril pada hari ke-17 Ramadan.
“Saat Nabi turun dari Jabal Nur di malam yang gelap di malam 21, 23, dan 25, para sahabat dan pengikutnya selalu membawa obor-obor untuk menyambut dan menerangi jalan beliau menuju ke rumah,” kata perwakilan keraton Kasunanan Surakarta yang memimpin acara, KPHA Sosronegoro.
“Kirab lampu ting ini untuk mengingat dan melestarikan peristiwa Nabi yang mendapatkan wahyu pertama kali.”
Lampu ting juga menggambarkan cahaya seribu bulan yang menandai turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadan. Ini mengadung ajaran bahwa cahaya itulah (Al-Qur’an) yang menjadi penunjuk jalan bagi manusia untuk melangkah. Namun, untuk mendapatkan cahaya itu, setiap orang Islam harus mempelajari dan mengamalkannya.
Lampu ting merupakan teplok–lampu minyak dengan kaca semprong–yang diberi tangkai sebagai penerang jalan kirab. Namun, saat ini panitia juga menggunakan petromaks selain teplok.
Meskipun sekarang cahayanya kalah oleh lampu listrik di jalan-jalan, pihak keraton tetap membawanya sebagai bagian dari ritual agar tidak menghilangkan makna Malam Selikuran. Selain lampu ting, beberapa abdi dalem juga membawa lampion yang berlambang Kasunanan Surakarta.
Sedangkan tumpeng sewu melambangkan sedekah Ramadan dari Kasunanan untuk masyarakat sebagai ungkapan syukur dan kegembiraan menyambut malam Lailatul Qadar. Ini meniru kebiasaan para sahabat Nabi yang berlomba-lomba menyediakan makanan sepulang Nabi dari Jabal Nur.
Tradisi Malam Selikuran merupakan salah satu wajah Islam Nusantara, yang mewarisi semangat akulturasi Islam-Jawa versi Wali Songo dalam berdakwah. Para wali sengaja mengumpulkan massa dengan cara memasukkan syiar Islam ke dalam tradisi lokal yang sudah mengakar di masyarakat sebelum Islam masuk ke Jawa.
Raja-raja dinasti Mataram meneruskan ajaran Wali Songo dengan tidak menghilangkan unsur kejawen dalam setiap peringatan hari-hari besar Islam. Selain Malam Selikuran, keraton juga melestarikan Gerebek Gunungan pada Maulid Nabi, Idulfitri, dan Iduladha.
“Kirab ini sudah dimulai oleh Sultan Agung pada zaman Mataram, lalu kami teruskan sampai sekarang ini. Jadi kira-kira sudah ada sejak lebih dari 350 tahun,” ujar Sosronegoro.
Acara Malam Selikuran melibatkan lebih dari 1.000 orang dari keraton, 200 personil polisi, dan 150 orang dari Pemerintah Kota Surakarta. Kirab juga dijaga polisi bersenjata lengkap di beberapa sudut jalan.
sumber: https://www.rappler.com/indonesia/ayo-indonesia/173207-malam-selikuran-tradisi-islam-jawa-lailatul-qadar
#SBJ
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...