Ritual
Ritual
Upacara Adat Sumatera Barat Suku Minangkabau
Tradisi Malam Bainai
- 3 September 2014

Secara harfiah bainai artinya melekatkan tumbukan halus daun pacar merah yang dalam istilah Sumatera Barat disebut daun inai ke lengan dan kuku-kuku jari calon pengantin perempuan (anak daro). Tumbukan halus daun inai ini kalau dibiarkan lekat semalam, akan meninggalkan bekas warna merah yang cemerlang pada kuku. Untuk melaksanakan acara ini calon anak daro didandani dengan busana khusus yang disebut baju tokah dan bersunting rendah. Tokah adalah semacam selendang yang dibalutkan menyilang di dada sehingga bagian-bagian bahu dan lengan tampak terbuka. Setelah didandani, calon anak daro duduk di pelaminan. Disana para tamu dan sanak saudara telah berkumpul untuk mengaji dan berdo'a bersama, kemudian melantunkan shalawat nabi sambil diiringi prosesi tepung mawar. Setelah prosesi tepung mawar selesai, sebagai salah satu keharusan dalam malam berinai, calon anak daro diharuskan menari. Dua gadis dan tiga jejaka telah siap menyambut calon anak daro untuk menari. Mereka berbaris membentuk banjar, satu banjar pria dan satu banjar perempuan. Kemudian calon anak daro bergabung melengkapi jumlah ganjil perempuan. Musik akordion mulai dialunkan, lalu terdengar syahdu mengiringi tarian mereka. Calon anak daro dan penari lainnya mulai menarikan sembilan tarian wajib melayu. Namun, calon anak daro hanya menari dari tari pertama sampai tari ketiga saja, Kuala Deli, Mak Inang, dan Serampang XII. Sebab tak semua tarian dilakukan dengan jumlah tiga pasang. Ada yang hanya dua pasang, bahkan hingga tersisa satu orang saja. Tibalah saat Tari Piring. Yang tersisa tinggal seorang pria. Ia menari dengan membawa bakul berisi enam atau tujuh piring kecil berisikan inai yang akan diusapkan ke calon anak daro. Setelah tari-menari, calon anak daro dibawa ke kamar untuk dipakaikan inai pada kuku dan punggung tangan, kemudian kuku kaki. Cara memakai inai cukup sederhana, dengan mengusapkan tumbuhan inai yang telah ditumbuk. Inai diusapkan oleh saudara ibu dan saudara perempuan calon anak daro yang sudah balig. Malam bainai dilakukan di rumah keluarga calon anak daro dan hanya satu malam. Tujuannya untuk memberitahu tetangga bahwa calon anak daro sudah ada yang memiliki dan sudah siap untuk menikah, sekalian pamit dengan orang tuanya, sebab calon anak daro akan meninggalkan rumah dan akan dibawa ke rumah calon marapulai (pengantin pria). Prosesi malam bainai sebenarnya terdiri dari tiga tahap. Inai curi, inai kecil, dan inai besar. Inai curi dilakukan oleh teman dari calon anak daro, sedangkan inai kecil dan besar sudah mulai melibatkan pihak keluarga. Inai curi dilakukan tiga hari sebelum pembacaan akad nikah. Di malam hari saat calon anak daro tertidur, teman-temannya datang mengusapkan tumbuhan inai pada kedua tangan dan kaki. Ketika calon anak daro bangun esok paginya, ia akan terkejut melihat tangan dan kakinya sudah berwarna merah kecoklatan. Oleh karena dilakukan pada saat calon anak daro tertidur, makanya dinamakan inai curi. Tahap berikutnya adalah inai kecil dan besar. Inai kecil dilakukan dua hari sebelum akad nikah dan calon anak daro hanya menggunakan pakaian biasa. Sedangkan inai besar dilakukan pada malam sebelum akad nikah, pada saat ini marapulai dan anak daro sudah menggunakan pakaian adat pernikahan dan duduk di pelaminan. Pada inai besar, semua kerabat, teman-teman, dan undangan sudah bisa menyaksikan prosesi ini. Prosesi dari malam bainai memiliki makna filosofis tersendiri. Tradisi malam bainai telah ada sejak masyarakat Minangkabau masih menganut kepercayaan animisme, yaitu percaya pada roh-roh nenek moyang. Menurut kepercayaan mereka, bainai memiliki kekuatan gaib, supaya pasangan baru tersebut langgeng, kuat dan bertenaga. Sehingga pengantin yang diinaikan bisa membangun rumah tangga yang baik. Bainai dipercaya mampu mengelakkan dan menjauhkan segala sihir dan roh jahat yang mengganggu. Warna merah pada inai diartikan sebagai kekuatan yang memberikan kekuatan. Inai yang diusapkan pada kedua tangan dan kaki dipercaya menjadi sumber utama mobilitas dan kekuatan manusia. Sebenarnya, beberapa daerah juga memiliki tradisi bainai yang mirip dengan tradisi budaya Minangkabau, namun dengan nama yang berbeda. Di Aceh disebut bohgaca, di Palembang dikenal dengan berpacar, sedangkan di Betawi disebut dengan malem pacar. Walaupun beragam namanya, namun makna dan tujuannya tetap sama. Sebab tradisi itu berasal dari rumpun budaya yang sama.

MALAM BAINAI DI MASA KINI

Kepraktisan zaman dan modernisasi membuat tradisi malam bainai mulai terkikis dari keasliannya. Malam bainai yang sejatinya dilaksanakan selama tiga malam berturut dipersingkat menjadi hanya satu malam saja. Banyaknya waktu yang dibutuhkan membuat masyarakat lebih memilih untuk melaksanakan malam bainai lebih singkat dan cepat. Walaupun kini pada rangkaian upacara pernikahan adat Minangkabau masih dilakukan malam bainai, namun inai curi sudah mulai jarang tampak. Biasanya langsung ke inai besarnya. Berdasarkan nilai filosofisnyapun malam bainai tidak lagi diartikan sebagai pemberi kekuatan gaib. Karena perkembangan agama, bainai diartikan sebagai pertanda seorang gadis telah memiliki suami guna menghindarkan dari fitnah. Inai sebagai suatu pemberi kekuatan memang sudah tak ada lagi, tapi karena bainai merupakan bagian dari kebudayaan maka tradisi itu tetap ada.

 

TRADISI DAN MAKNA MALAM BAINAI

Pulau Jawa terkenal dengan prosesi siraman bagi mempelai wanita menjelang hari pernikahannya, begitu pula dalam adat Sumatra Barat terdapat prosesi yang di sebut sebagai malam bainai bagi calon anak daro-sebutan untuk mempelai wanita dalam bahasa Minang. Malam bainai dilakukan di rumah calon anak daro sebagai wujud doa dan restu dari para sesepuh keluarga calon anak daro. Selain itu, tradisi malam bainai di percaya akan menghindarkan calon anak daro dari mara bahaya.

Prosesi malam bainai di lakukan dengan cara meletakkan tumbukan daun inai (daun pacar merah) selama satu malam di kuku-kuku mempelai wanita. Tumbukan daun inai ini menghasilkan warna merah yang menandakan bahwa waita tersebut sudah berumah tangga dan mempercantik tangan mempelai wanita ketika di hari pernikahan. Penggunaan daun inai inilah yang membuat prosesi ini di sebut sebagai malam bainai.

 Video Tradisi Malam Bainai https://www.youtube.com/watch?v=KOU2WHzLvQI

 

 

Pakaian wajib yang di pakai selama malam bainai adalah baju tokah dan hiasan kepala yang di sebut suntiang. Baju tokah merupakan sebuah selendang yang di pakaikan secara menyilang di dada calon anak daro namun bahu dan lengan di biarkan terbuka. Suntiang merupakan hiasan kepala calon anak daro yang memiliki beberapa tingkatan dan jumlah tingkatannya harus ganjil. Jumlah tingkatan suntiang paling sedikit adalah tiga tingkatan.

Calon anak daro akan menjalani ritual bamandi-mandi pada pagi atau siang harinya. Calon anak daro akan di percikan dengan air kembang oleh kedua orang tuanya menggunakan daun sitawa sidingin (daun cocor bebek). Jumlah percikan air kembangnya harus berjumlah ganjil.

Ritual bamandi-mandi di dampingi saudara perempuan dan di kawal oleh saudara laki-laki dari calon anak daro. Ritual bamandi-mandi merupakan simbol dimana orang tua memandikan anak perempuan mereka untuk terakhir kalinya dan melepas anak perempuannya kepada calon suami.

Calon anak daro kemudian akan di tuntun oleh kedua orang tuanya berjalan di atas kain berwarna kuning menuju pelaminan. Hal ini melambangkan perjalanan calon anak daro dari kecil sampai dewasa. Setiap kain yang dilewati oleh calon anak daro akan digulung oleh dua orang laki-laki yang menandakan kesiapan naniak mamak dan urang sumando pada keluarga calon anak daro yang selalu siap sedia untuk melindungi calon anak daro.

Kemudian calon anak daro akan di pakaikan daun inai secara silih berganti oleh bako, istri dari mamak, dan ibu-ibu yang dituakan. Pemilihan jari dalam menempelkan daun inai mempunyai makna di masing-masing jarinya. Ibu jari melambangkan bahwa mempelai wanita menghormati calon suaminya, jari telunjuk melambangkan kehati-hatian calonistri  dalam bertindak, jari tengah melambangkan kehatian-hatian dalam menimbang hati calon mertua, jari manis melambangkan keidealisan pasangan ketika sudah berumah tangga, kemudian jari kelingking melambangkan pengharapan agar calon anak daro dapat bersikap rendah hati dan tidak tersisihkan posisinya dalam keluarga oleh calon ipar, calon besan, calon mertua serta keluarga lainnya.

 

 

Sumber:

  1. https://www.bridestory.com/id/little-story-photo/projects/nakinda-andhika-malam-bainai
  2. http://bobo.grid.id/Sejarah-Dan-Budaya/Budaya/Malam-Bainai-Dalam-Pernikahan-Adat-Minang
  3. https://azhoma.wordpress.com/2013/05/16/malam-bainai-manjapuik-marapulai-basandiangminangkabau-precious-wedding-moment-2/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu