Musik dan Lagu
Musik dan Lagu
Musik daerah Aceh Aceh
Makna musik do daidi dari Aceh
- 4 Januari 2019
Aceh merupakan daerah yang kaya akan khazanah sejarah dan kebudayaan. Setidaknya banyak aktivitas sejarah dan budaya penting yang menjadi sebuah kearifan lokal dalam masyarakat di Aceh, terutama dalam usaha membangun peradaban Islam..
 
Islam dibawa dan disebarkan ke Aceh dengan berbagai cara. Hal utama yang dilakukan adalah melalui perkawinan. Selanjutnya, anak yang lahir dari hasil perkawinan tersebut dididik melalui unsur-unsur yang juga bernuansa Islami. Salah satu metode ringan yang biasa digunakan adalah Dodaidi (meng-”nina”-”bobok”-kan). Dodaidi berasal dari bahasa Aceh, yaitu “doda” dan “idi”. Doda atau peudoda yang berarti bergoyang, dan idi atau dodi yang berarti berayun.
 
Dodaidi merupakan upaya  orang tua khususnya kaum “mak” atau ibu untuk menidurkan anaknya diiringi lantunan syair-syair dalam bahasa Aceh. Dodaidi biasanya memerlukan beberapa alat seperti ija kroeng (kain sarung) / ija sawak (kain selendang) dan tali yang digantungkan pada bara kayu, tidak jarang pula digantungkan di pohon-pohon depan rumah sehingga kenyaman tidur si bayi lebih terasa atau agar mudah diawasi si ibu  yang melakukan kegiatan ringan di halaman rumah.
 
Rumah Aceh yang  berkonstruksi kayu serta berarsitektur panggung dan terdiri atas  tiang-tiang yang tinggi sangat memungkinkan ibu-ibu zaman dahulu mengikat ayun di bawah lantai rumah sambil melakukan kegiatan lainnya. Hal tersebut dapat dijumpai di daerah perkampungan di Pidie, Aceh Besar, Aceh Utara, Aceh Tamiang,  dan daerah lainnya. Kebiasaan masyarakat Aceh, Dodaidi hanya dilakukan pada siang hari. Mungkin si ibu hendak mengerjakan pekerjaan rumah yang banyak tertinggalkan, maka agar pekerjaannya dapat dikerjakan tanpa gangguan si anak, sang ibu menidurkan anaknya terlebih dahulu dengan metode Dodaidi.
 
Ada pesan terindah dibalik syair Dodaidi. Itulah sebabnya masyarakat Aceh sangat menyukainya. Banyak seniman yang telah menghabiskan waktunya untuk memajukan peradaban, sehingga senandung pengantar si bayi tidur tersebut masih terpelihara dan tercatat sampai sekarang. Tetapi sangat disayangkan, karya yang  sarat dengan nilai-nilai agama itu sekarang kurang diminati, bahkan hampir bisa dikatakan tidak ada lagi, apalagi dipengaruhi oleh modernisasi yang semakin meresahkan. Para ibu lebih menyukai cara terbaru saat menidurkan anaknya. Terkadang caranya tidak memberikan kebaikan bagi anak. Ibu zaman sekarang lebih senang mengayunkan bayinya dalam ayunan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan memegang remote control seraya menyaksikan gosip selebriti kesayangannya.
 
Belum lagi ibu-ibu yang menyandang status wanita karier. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tidak cukup suami yang menafkahi melainkan istri juga ikut berpartisipasi. Akhirnya si anak hanya dititipkan pada pembantu, baby sitter. Kini, sudah banyak pula dipakai ayun elektronik.  Dengan metode baru ini, tak perlu bersentuhan pun dengan ayunan. Sang ibu  cukup menekan remote control dari jauh untuk menggerakkan ayunan.
 
Dengan cara demikian, tentu tak mungkin berharap  banyak agar  terjalin  hubungan batin antara anak dan ibu. Ikatan batin antara si anak dan ibu pun terus berkurang. Padahal, untuk mengaplikasikan syair-syair Dodaidi,  butuh kolaborasi antara si ibu dengan anak. Seperti syair berikut, “Allah hai do dodaidi, boeh gadong bi boeh kayee uteun, rayeuk sinyak hana peue mak bri, ayeb ngoen keji ureung donya kheun. Wahe aneuk bek taduk le, beudoeh saree tabila bangsa, bek tatakot keu darah ile, adak pih mate poma karela.”
 
Walau anak hampir ketiduran dengan merdunya lantunan syair oleh ibu, terasa ibu dan anak saling berinteraksi. Ada pesan moral  mendalam untuk si anak saat dewasa kelak. Meskipun syair tersebut berbaur politik yang membuat anak kadang tidak memahaminya, tetapi itulah pesan moral yang merupakan turunan  perintah agama, sehingga menjadikan watak masyarakat Aceh keras bila agama mereka ditindas.
 
Seiring terjadinya perubahan zaman  yang semakin modern, syair Dodaidi yang dikenal telah melahirkan generasi yang berbudi luhur, kini telah hilang ditelan arus globalisasi yang merajai Aceh saat ini. Masyarakat saat ini  telah lupa akan budaya yang pernah dimiliki, sehingga menjadikan kita terus mengikuti arus tanpa menyadari manfaat dari makna-makna yang telah kita punahkan.  
 
Konsep dasar pendidikan Islam menganggap bahwa proses pendidikan mulai dari bayi usia dini sampai kematian seseorang. Mungkin konsep pendidikan seumur hidup ini telah mengilhami tradisi Aceh untuk menambahkan pesan pendidikan dalam lagu Dodaidi. Tentu saja, metode ini juga diakui dalam konsep pendidikan modern seperti yang diterapkan dalam gaya bermain kelompok melalui lagu pengantar tidur yang berbeda.
 
Dalam Islam, memperkenalkan pendidikan agama adalah kewajiban bagi orang tua. Itulah sebabnya pesan agama selalu ditemukan dalam lagu Dodaidi. Tujuan utama adalah memperkenalkan anak-anak dengan Allah dan ajaran-ajaran Islam. Oleh karena itu umumnya semua lagu  Dodaidi diawali dengan asma Allah, seperti “Allah hai Do dodaidi”. Sedangkan yang lainnya dimulai dengan frasa lengkap melafazkan ke-Esaan Allah, seperti, “Laa Ilaaha Illallah”, tidak ada Tuhan selain Allah.
 
Demikianlah indahnya budaya Aceh yang satu ini. Sebagian besar perilaku masyarakat dan karya seperti syair tersebut selalu bersandarkan pada Alquran dan hadist.
 
Rasulullah bersabda, “Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat.” Sungguh pesan nabi dalam hadist ini telah diamalkan oleh masyarakat Aceh sejak dulu melalui Dodaidi. Memang ketika syair Dodaidi dilantunkan, bukan si cabang bayi yang mempelajarinya sendiri, melainkan sang ibu yang melantunkannya dengan penuh harap untuk kebaikan si anak pada masa mendatang. Bagaimana pun juga, sedikit banyak anak akan memahami maksud sang ibu. Karena itu, tutur dan perilaku orang tua sangat mempengaruhi watak anaknya, sehingga jika perilaku orang tua tidak baik, maka tidak jarang pula anaknya berperilaku hal yang sama saat bermasyarakat. Bahkan dalam ilmu kedokteran dinyatakan, perilaku orang tua mempengaruhi janin dalam kandungan, seperti pepatah menyebutkan, “Kiban bruek meunan bhoi” atau “Anak adalah cerminan orang tua.”  Akan tetapi, tentu tak semuanya demikian. Dalam sebuah komunitas, hampir selalu ada pengecualian. Tak ada keseragaman mutlak.  
 
Sepengetahuan penulis, sekitar tahun 1990-an, Dodaidi pernah dilombakan di Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang, tepatnya di Kampong Masjid yang diikuti oleh  lima kampong dalam kemukiman Kampong Mesjid. Perlombaan tersebut merupakan selingan dalam MTQ saat itu. Panitia MTQ mempersiapkan peralatan sebagaimana penulis sebut di atas. Namun, yang menarik di ajang tersebut adalah panitia memutar rekaman bayi sedang menangis, sedangkan para kontestan berasal dari kalangan wanita muda. Wanita muda tersebut menggendong bantal, seolah-olah bayi sedang menangis dan berupaya menenangkan, mendiamkannya,  sambil mendodaidi diiringi syairnya.
 
Budaya Dodaidi harus kembali dihidupkan demi terjaganya warisan indatu Aceh, sehingga menjadikan Provinsi Aceh daerah yang sangat khusus dan istimewa di antara provinsi lain di Indonesia. Agar generasi muda berminat dan mengamalkan kembali petuah tersebut, ada baiknya Dodaidi dijadikan sebagai cabang budaya yang patut diperlombakan, apalagi mengingat tahun 2013 adalah tahun penyelenggaraan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA-VI). Semoga tulisan singkat ini menjadi inspirasi bagi generasi muda Aceh khususnya kaum  perempuan untuk memikirkan kembali akan pentingnya budaya Dodaidi.
 
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2013/05/19/dodaidi-budaya-yang-tereliminasi?page=2

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Resep Ayam Ungkep Bumbu Kuning Cepat, Praktis untuk Masakan Harian
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...

avatar
Apitsupriatna