Bunyi lesung yang dipukul-pukul padendang terdengar bertalu-talu di atas perahu yang berputar-putar mengelilingi danau. Bebunyian itu mengiringi rapal-rapal doa yang dipanjatkan pacoa tappareng . Atas nama masyarakat, selain mengucap syukur, pemimpin upacara itu juga memanjatkan doa kiranya kehidupan mereka selalu diberkahi sepanjang masa. Sejurus kemudian, aneka sesaji dilarung ke tengah danau ini.
Begitulah potongan dari ritual upacara maccera tappareng yang digelar oleh masyarakat nelayan yang tinggal di sekitar Danau Tempe, Sulawesi Selatan itu. Dari ketinggian, danau yang menyerupai baskom raksasa itu diapit oleh tiga kabupaten yaitu Wajo, Soppeng, dan Sidrap. Danau inilah yang menjadi sumber penghidupan mereka dari generasi ke generasi. Mereka sangat tergantung pada kelestarian danau itu.
Demi maksud itu, sejumlah aturan adat pun ditetapkan. Misalnya, larangan menangkap ikan di malam dan hari Jumat. Secara ekologis, pembatasan ini sebetulnya sebagai pengingat untuk tidak mengeksploitasi alam secara terus menerus. Makna lainnya adalah nelayan Danau Tempe menganggap hai itu adalah waktu yang sangat sakral untuk beribadah. Sederhananya, mereka adalah kelompok masyarakat yang sangat religius
Larangan lainnya adalah, tak diijinkan membawa dua parewa mabbenni atau alat tangkap ikan. Pesan berikutnya, setiap orang punya hak yang sama atas anugerah yang telah diberikan Tuhan. Hak itu berlaku bagi siapa saja, tanpa membedakan asal-usul dan status apapun. Si kaya atau si miskin, tetap harus menggunakan satu alat lengkap ketika mencari ikan.
Rambu-rambu adat selanjutnya adalah dilarang berselisih dan menyelesaikan masalah di atas danau, karena bisa berakibat fatal jika terjadi perkelahian dan tidak ada orang yang melerai. Oleh karena itu masalah harus diselesaikan di darat dengan cara musyawarah, dan mengedepankan prinsip sipakatau (saling menyegani), sipakainge (saling menasehati), dan sipakalebbi (saling menghargai).
Sejauh ini, ketentuan-ketentuan adat itu dijalankan dengan sepenuh hati. Di dalamnya termasuk juga ketaatan untuk hanya mencari ikan di zona-zona khusus seperti bungka, palawang cappeang, dan makkajala. Serta menjauhi tempat-tempat larangan yang disebut pacco balanda. Berkat ketaatan mematuhi aturan inilah, sampai saat ini, kehidupan nelayan di sekitar Danau Tempe tetap berjalan harmonis, selaras dengan alam.
Upacara maccera tappareng yang digelar tiap tahun ini bisa menjadi buktinya. Pesta suka cita ini merefleksikan keberkahan yang mereka dapatkan. Ritual uni juga menjadi peristiwa yang sangat tepat untuk saling mengingatkan, bahwa kehidupan manusia mustahil tercabut dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang terjaga, pasti akan membawa kebaikan. Jika sebaliknya, segala bemcana tak perlu lama pasti akan segera tiba.
Sumber:
Ahdiat, Yayan. 2014. Warisan Kita Ed. 02. Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya: Jakarta
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditindb/2015/06/19/ritual-mencari-berkah/
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...