Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Barat Jawa Barat
Lutung Kasarung
- 3 Februari 2010 - direvisi ke 4 oleh hokky saavedra pada 31 Desember 2011

Dikisahkan Prabu Tapa Agung yang bertempat di Jawa Barat di masa lalu yang makin tua dan berniat untuk memilih siapa yang akan menggantikan dirinya. Tapi ia bermuram hati oleh karena ia belum memiliki seorang putera. Ia berfikir untuk memilih dari salah satu puterinya, Purbararang dan Purbasari. Namun ini bukan pilihan yang mudah, karena keduanya cantik dan cerdas. Yang membedakan keduanya hanyalah temperamennya. Purbararang lebih kasar dan kurang jujur, sementara Purbasari lebih baik hati dan peduli. Akhirnya Prabu Tapu Agung memilih Purbasari menjadi ratu sebagai penggantinya.

Namun Purbararang tak menyetujui pilihan ayahnya ini. "Seharusnya aku yang menggantikanmu, Ayah, karena akulah puterimu yang sulung!", katanya. Prabu Tapa Agung tersenyum, "Purbararang, untuk menjadi ratu, tak cukup hanya umur. Diperlukan banyak kemampuan dan kualitas pribadi, jelasnya dengan bijaksana. "Apa yang dipunyai oleh Purbasari yang tak kumiliki?", tanya Purbararang kesal. "Kamu akan menemukannya kelak nanti setelah Purbasari benar-benar telah menggantikanku", jawab sang ayah singkat.

Setelah pembicaraan itu, Purbararang kembali ke kamarnya. "Ada masalah apa, Puteri?", tanya Indrajaya, yang kelak akan menjadi suaminya. "Aku kesal dengan ayah lebih memilih Purbasari untuk menggantikannya daripada aku. Aku harus melakukan sesuatu!", jawabnya. Dengan kemarahan ia mendatangi seorang penyihir dan memintanya untuk mengirimkan penyakit kulit pada Purbasari. Akibatnya, sebelum berangkat tidur, seluruh tubuh Purbasari terasa sakit. Ia mencoba menaruh bedak ke selluruh tubuhnya, tapi radang gatal itu tak kunjung hilang. Saat tertidur ia malah menggaruk-garuk tubuhnya yang gatal sehingga meninggalkan banyak bekas garukan kuku di sekujur tubuhnya. Purbararang yang kemudian menemuinya berpura-pura tidak tahu dan bertanya, "ada apa denganmu?". "Aku tak tahu. Kemarin tubuhku tiba-tiba terasa sakit dan gatal. Aku menggaruk dan menggaruk dan inilah akiba!"tnya", jawab Purbasari. Purbararang menggeleng dan berkata, "sepertinya kamu telah melakukan dosa yang buruk sekali. Mungkin kamu dikutuk oleh para dewa

Hari itu juga, seluruh kerajaan geger. "Dosa apa yang telah kamu lakukan Purbasari?", lata Prabu Tapa Agung. Purbasari menggeleng, "aku tak melakukan apapun yang membuat para dewa dan ayah marah. "Lantas mengapa tubuhnmu jadi seperti itu?" "Jika kamu tak mau mengaku, aku akan mengasingkanmu di hutan", kata Prabu dengan tegas. Purbasari pun menjawab, "aku tak melakukan apapun yang bisa dipersalahkan. Lebih baik aku dibuang ke hutan daripada harus mengakui hal yang tak kulakukan!"

Setelah berbicara dengan berbagai penasihatnya, Prabu Tapa Agung pun memberintahkan agar Purbasari dipindahkan ke hutan. Purbasari sangat sedih, namun ia tak mau menentang perintah ayahnya. Ia pun berangkat ke hutan ditemani seorang pelayan yang membangun sebuah gubuk baginya di hutan belantara. Setelah gubuknya dibangun, tiba-tiba seekor kera hitam mendatangi gubuk itu. Di tangan si kera itu terdapat sesisir pisang. Dari belakangnya beberapa hewan lain mengikutinya. "Apakah pisang itu untukku?", tanya Purbasari. Kera hitam itu mengangguk seolah mengerti ucapan Purbasari. Purbasari lalu dengan girang menerima pisang itu dan mengucapkan rasa terimakasihnya. Hewan-hewan lain yang ada di situ juga seolah tersenyum. "Maukah kalian semua menjadi temanku?", tanya Purbasari. Semua hewan itu mengangguk gembira. Meski ia tinggal sendiri di hutan, Purbasari tak pernah kekurangan makanan. Tiap hari, ada saja hewan yang membawakan buah-buahan dan ikan untuk dimakan.

Lama sudah Purbasari di hutan, tapi tubuhnya masih juga terasa gatal dan sakit. "Apa yang harus kulakukan?", ujarnya sedih. Sekonyong-konyong si kera yang tengah duduk di dekatnya terdiam, dan Purbasari melihat mata si kera itu berkaca-kaca. Rupanya si kera berharap agar Purbasari bersabar dan tetap kuat.

Suatu malam, kera itu membawa Purbasari ke lembah gunung. Di sana ada sebuah kolam air hangat. Tiba-tiba si kera itu berbicara, "air di kolam ini akan menyembuhkan kulitmu!". Purbasari sangat terkejut, "Siapakah kau? Bagaimana bisa kau bicara?" dan si kera menjawab, "nanti kau akan mengetahuinya!". Purbasari menurut saja dan ia berjalan ke arah kolam. Ia mandi di sana. Setelah beberapa jam, ia sangat terkejut melihat bayangan wajahnya di air. Semua bekas luka dan gatal itu lenyap. "Aku telah sembuh! Aku sembuh!", jerit Purbasari girang. Ia lalu mengucapkan terima kasih pada para dewa dan juga kera itu.

Kabar bahwa Purbasari telah sembuh segera menyebar ke istana, yang membuat Purbararang merasa terganggu. Dengan ditemani Indrajaya, ia berangkat ke hutan untuk menemui Purbasari. Purbasari bertanya apakah ia sudah boleh pulang. Tapi Purbararang mengatakan ia hanya boleh pulang jika ternyata rambut Purbasari lebih panjang daripada rambutnya. Purbararang menggerai rambutnya yang menjuntai hingga menyentuh kaki. Tapi ternyata, rambut Purbasari masih lebih panjang dua kali lipat.

"Baiklah, rambutmu lebih panjang ternyata!", kata Purbararang, "tapi ada satu syarat lagi, yaitu bahwa kamu harus punya calon suami yang lebih tampan dariku". Purbasari merasa sedih, karena ia belum pernah bertemu dengan seorang yang ingin dijadikannya suami. Lalu, tanpa pikir panjang, ia menari si kera hitam ke arahnya.

Purbararang dan Indrajaya tertawa kencang sekali. Namun tawa itu tak lama. Si kera hitam itu sejenak bermeditasi dan sekonyong-konyong berubah wujud menjadi seorang lelaki muda yang tampan, jauh lebih tampan dari Indrajaya. "Aku ini seorang pangeran dari tempat yang jauh sekali. Aku dikutuk menjadi kera karena kesalahan yang kulakukan. Aku hanya akan berubah kembali ke wujud asliku jika ada seorang gadis yang bersedia menjadi isteriku", katanya. Akhirnya Purbararang menerima Purbasari sebagai ratu dan mengakui semua perbutannya pada Purbasari.

Purbararang mohon ampun. Namun Purbasari tersenyum sambil berkata, "aku memaafkanmu, saudariku. Beberapa saat kemudian Purbasari pun menjadi ratu. Ia dilantik menjadi ratu dengan didampingi bekas kera hitam yang setia itu, yang tadinya dinamai "Lutung Kasarung".


Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu