Ornamen
Ornamen
Lukisan Kulit Kayu Papua Sentani
Lukisan Kulit Kayu, Goresan Kehidupan Masyarakat Asei
- 4 Maret 2015

Melukis diatas lembaran kulit kayu, merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang tinggal di sebuah pulau di tengah Danau Sentani, Papua. Di pulau kecil yang bernama Asei ini, sedikitnya 70 kepala keluarga menetap sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Traveling ke Danau Sentani belum lengkap kalau membawa buah tangan atau cenderamata khas pulau besar Asei yaitu Lukisan lembaran Kulit Kayu. Selain bentuknya unik juga mengandung makna filosofi yang mendalam.

Bagi masyarakat Sentani, Papua, seni lukis tidak sekadar sarana mengekspresikan nilai estetika. Lebih dari itu, seni lukis dengan lembaran kulit kayu sebagai media sarat simbol budaya setempat. Puyakha puyakhapu adalah sebutan Danau Sentani. Puyakha berarti ciri nyata dan puyakhapu bermakna kawasan air. Itu sebabnya Danau Sentani dikenal sebagai Negeri Puyaka atau Negeri Nyata.

Danau jernih berkedalaman 50 hingga 70 meter itu hanya berjarak 36 kilometer dari ibu kota Jayapura. Ada sekitar 21 pulau yang menjulang di sekitar kawasan terbesar di Bumi Cenderawasih ini. Daerah seluas seluas 9.630 hektare ini memiliki beragam suku dan adat isitiadat. Variasi itu membuat Sentani memiliki kultur gotong royong yang sangat kuat. Sesama warga saling menghormati keberadaan makhluk ciptaan Tuhan.

Tradisi Negeri Puyakha menjadi identitas masyarakat di sana. Suatu kehidupan yang lekat dengan keagungan alam semesta. Para penduduk percaya akan keberadaan para leluhur. Mereka meyakini kekuasaan sang pencipta. Tanda-tanda itu mengental dalam kehidupan masyarakat Sentani. Semuanya tercermin dalam simbol-simbol etnik yang ada.

Dari lambang tersebut, penduduk setempaat bisa mengetahui latar belakang kedudukan seseorang dalam masyarakat. Tapi, tak seoarng pun yang bisa menjelaskan proses pencuatan kreasi tadi. Bentuk yang ada tertuang begitu saja. Diberikan kepada si pewaris secara turun-temurun dari para leluhur.

Makna karya seni itu bermakna besar ketika simbol digoreskan seorang Ondofolo, pemegang posisi kunci dalam sebuah kampung. Ondofolo juga seseorang yang disegani dan ditaati masyarakat setempat. Motif yang ada bermacam juga menandakan kekuasaan kepemimpinan adat dalam suatu keluarga atau suku. Biasanya, motif tersebut juga digunakan khusus oleh putri sulung, moyang dari suku Pepuho. Tanda tersebut untuk mencirikan pelimpahan tahta dan warisan yang jatuh padanya kelak.

Lain lagi dengan motif Hakhalu yang menggambarkan keberadaan Tuhan, Sang Pencipta langit dan bumi yang memberikan garis keturunan atas seluruh makhluk ciptaan-Nya. Simbol ini dikenakan oleh anak kedua atau bungsu dari moyang suku Pepuho. Kedua lambang tersebut diyakini masyarakat setempat sebagai cikal bakal pengembangan motif seni ukir dan lukis, seperti lukisan kulit kayu.

Ada juga motif bergambar binatang dan tumbuhan yang berada di kawasan Danau Sentani seperti daun sagu, burung cenderawasih, ikan, kura-kura, cicak, tokek, buaya. motif daun sagu, siku burung, kura-kura yang semuanya bermakna atau lambang  kemakmuran. 

Warisan Budaya Dunia

Keunikan dan kandungan makna yang mendalam di lukisan kuliat kayu berpotensi dapat menjadi warisan budaya dunia, sepeti halnya Noken yang telah diakui UNESCO. Unik, karena proses pembuatan dan bahan bakunya hanya ada di Danau Sentani. Kulit kayu yang dipakai sebagai media (kanvas) lukisan berasal dari kulit pohon kombow yang hanya terdapat di Sentani. 

Dahulu, kulit kayu yang berasal dari kulit inti pohon kombow digunakan sebagai bahan pakaian (daka homo) dan celana untuk kaum pria (cidako) oleh penduduk Asei Besar, Sentani. Namun, kini, peninggalan budaya itu diwariskan sebagai lembaran kulit kayu, media kanvas seni lukis. Mutu lukisan tergantung pada penanganan bahan kulit kayu. Keterlibatan emosi seniman juga berperan dalam hasil akhir kreasi tersebut.

Tak semua jenis pohon ini, dapat diambil kulit kayunya. Selain yang telah cukup umur, dipilih yang memiliki sedikit dahan. Batang pohon ini kemudian ditandai bagian-bagiannya yang akan dipotong. Lembaran-lembaran kulit kayu ini tak bisa langsung digunakan begitu saja.

Bahan dasar untuk melukis ini, lapisan luarnya yang kasar dibuang. Lalu ditumbuk dengan menggunakan plat besi untuk mendapatkan lembaran kulit kayu yang lembut dan lebar. Lebarnya bervariasi, tergantung besar kecilnya diameter batang kayu. Proses menumbuk ini memakan waktu cukup lama dan menguras tenaga. Lembaran-lembaran ini nantinya dicuci, dibuang ampasnya, selanjutnya dijemur hingga kering.

Lembaran-lembar yang telah kering inilah, dijadikan sebagai media untuk mengeskpresikan jiwa seni mereka. Layaknya kehidupan tradisional, seni kerap dimunculkan dengan memanfaatkan alam sebagai unsur yang terpenting. Dalam melukis masyarakat Sentani hanya menggunakan tiga jenis warna. Warna utama adalah hitam yang, dibuat dari jelaga yang dicampur dengan minyak kelapa. Warna lain adalah putih, dari bahan sagu atau kerang. serta warna merah, terbuat dari tanah liat.

Warna dasar tersebut juga memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat suku Asei. Warna putih menggambarkan kebesaran suku. Nuansa merah melambangkan keperkasaan suku. Goresan hitam mencerminkan kehidupan di bumi tidak kekal. Begitulah, seniman Negeri Puyakha, menyembunyikan makna kehidupan yang terkandung di dalam karya seninya. (DAM)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Sekaten adalah Upacara Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan sejarah serta fungsi,
Ritual Ritual
Daerah Istimewa Yogyakarta

Sekaten adalah Upacara Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan sejarah serta fungsi, makna, dan nilai budaya Identitas Ritual Sekaten adalah rangkaian upacara tahunan yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid Nabi) [S1][S3]. Ritual ini berlangsung selama delapan hari, dimulai pada tanggal 5 Rabi'ul Awal (Mulud dalam kalender Jawa) dan berakhir pada tanggal 12 Rabi'ul Awal dengan upacara penutup bernama Garebeg Mulud [S3]. Nama "Sekaten" sendiri berasal dari adaptasi istilah Arab syahadatain , yang merujuk pada dua persaksian (syahadat) dalam Islam [S1]. Komunitas pelaksana Sekaten adalah institusi keraton sebagai pusat ritual, dengan melibatkan masyarakat luas dalam prosesi dan perayaan [S2]. Lokasi utama penyelenggaraan adalah Yogyakarta, meskipun tradisi serupa juga dilaksanakan di Surakarta [S1]. Upacara ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan laku budaya-religius...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Tenun NTT: Simbol Status, Identitas, dan Kisah Leluhur
Motif Kain Motif Kain
Nusa Tenggara Timur

Tenun NTT: Simbol Status, Identitas, dan Kisah Leluhur Identitas dan Asal-Usul Tradisi tenun yang paling populer di Indonesia merujuk pada Tenun Ikat , khususnya varian yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Popularitas ini tidak terlepas dari keunikan teknik, motif, dan makna filosofisnya yang kuat dalam budaya masyarakat setempat [S1]. Tenun ikat di NTT merupakan warisan budaya yang bertahan hingga kini, diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian integral dari identitas komunitas [S2]. Secara geografis, sentra tenun ikat NTT tersebar di berbagai pulau, dengan Pulau Sumba dikenal sebagai salah satu pusat tradisi ini yang paling kuat. Di Sumba, pembuatan kain tenun ikat tradisional masih lestari, dengan kampung-kampung seperti Kanatang dan desa-desa di wilayah Sumba Timur menjadi lokasi perajin aktif [S3]. Proses pembuatannya sangat mengikat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat, di mana kain tenun bukan sekadar produk ekonomi tetapi juga warisan leluhur yang...

avatar
Kianasarayu