Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Gerbang Kuno Jawa Tengah Surakarta
Litang Gerbang Kebajikan
- 14 Juli 2018
Jalan Drs. Yap Tjwan Bing merupakan jalan kenangan bagi saya tatkala SMA. Pada waktu kelas 3, saya sering melewati jalan ini untuk menuju sekolah saya, yaitu SMA Negeri 3 Surakarta, yang berada di Kerkhof, Jagalan. Dulu jalan ini masih bernama Jalan Jagalan. Pada waktu itu, saya juga tahu kalau di sepanjang jalan itu terdapat bangunan lawas yang berhubungan dengan agama Khonghucu. Hanya saja ketika itu saya belum mempunyai kamera dan belum mengenal blog, jadi ya sekadar lewat saja.
 
Setelah sekian tahun berlalu, saya berkesempatan lagi untuk menapak tilas jalan tersebut, dan berkunjung ke sebuah bangunan kuno tersebut yang dikenal dengan Litang Gerbang Kebajikan. Litang ini terletak di Jalan Drs. Yap Tjwan Bing No. 15 RT. 01 RW. 01 Kelurahan Purwodiningratan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi litang ini berada di dalam kompleks SD Tripusaka, atau selatan Rumah Potong Hewan Jagalan ± 300 m.
 
Litang adalah nama tempat ibadah agama Khonghucu yang banyak terdapat di Indonesia. Saat ini sudah ada lebih dari 150 litang yang tersebar di seluruh Indonesia yang berada di bawah naungan Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) di antaranya yang berada di Surakarta, atau yang dikenal dengan Kota Solo ini.
 
Keberadaan litang ini tidak terlepas dari adanya permukiman masyarakat Tionghoa di Kota Solo. Keberadaan masyarakat Tionghoa ini telah ada sejak berabad-abad yang lalu, bersamaan dengan datangnya para pedagang dari Tiongkok semenjak adanya hubungan perdagangan dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan kerajaan-kerajaan yang berada di daratan Tiongkok kala itu.
 
Mula-mula, sejumlah masyarakat Tionghoa yang berada di Solo mendirikan Klenteng Tien Kok yang berada di Pasar Gede bersamaan dengan pindahnya Kraton Kartasura Hadiningrat menuju Solo. Kemudian disusul Klenteng Poo An Kiong semasa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono IX. Lalu, barulah dibangun Litang Gerbang Kebajikan pada tahun 1918, dan bersamaan itu pula dibentuk Khong Kauw Hwee sebagai lembaga Khonghucu. Khong Kauw Hwee adalah organisasi yang didirikan oleh penganut Khonghucu, yang anggotanya merupakan orang-orang Tionghoa. Tujuan dari organisasi ini untuk memperbaiki adat istiadat dan keimanan orang keturunan Tionghoa yang sudah menyimpang dari ajaran Khonghucu. Selain itu, organisasi ini juga mendirikan sekolah Confusius di lingkungan litang ini. Semula sekolah tersebut berada di litang, kemudian seiring waktu bisa mendirikan di samping litang, yang masih satu halaman. Sekolah tersebut sekarang ini dikenal dengan SD Tripusaka.
 
Dilihat dari fasadnya, bentuk bangunan tempat ibadah agama Khonghucu ini sepintas lebih mirip dengan pendopo daripada klenteng. Tak banyak pernak-pernik atau ornamen-ornamen yang menghiasi pada fasadnya. Atapnya pun terlihat polos, tidak tampak huo zhu (mutiara api) dan xing long (naga yang sedang berjalan).
 
Sebelum memasuki bangunan utama litang, pengunjung perlu melewati men lou wu, sebuah pintu gerbang untuk masuk ke dalam persil litang. Pintu gerbang tersebut didominasi warna kuning dan merah. Setelah melewati men lou wu, pengunjung akan menapaki sebuah halaman yang cukup luas sebelum menuju bangunan utama litang. Halaman ini selain digunakan untuk kegiatan yang diadakan oleh pihak litang, juga dipakai untuk upacara atau kegiatan dari SD Tripusaka.
 
Memasuki bangunan utama litang, pengunjung akan menjumpai hiolo di depan pintu utama masuk ke dalam litang. Hiolo adalah bejana yang berisi abu yang biasa untuk menancapkan dupa persembahan. Di dalam bangunan utama litang terdapat sebuah altar yang di atasnya ada hiolo yang diapit oleh dua lilin yang lumayan tinggi serta ada Kim Sin Nabi Kongzi atau Khonghucu yang besar. Di altar tersebut, umat Konghucu bisa melakukan sembahyang.
 
Umat Khonghucu biasanya melakukan ibadah di litang setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek. Namun ada pula yang melaksanakannya pada hari Minggu dan hari lain. Hal ini disesuaikan dengan kondisi dan keadaan setempat. Upacara-upacara hari keagamaan lain seperti peringatan Hari Lahir Nabi Khonghucu (28 bulan 8 Imlek), Hari Wafat Khonghucu (18 bulan 2 Imlek), Hari Tangcik (Genta Rohani), dan Tahun Baru Imlek, biasanya juga dilakukan di litang.
 
Pada dekade 60-an, litang ini masih memiliki banyak umat yang mengikuti kebaktian. Saat itu, umat yang mengikuti kebaktian memenuhi litang, bahkan hingga halaman. Berbeda dengan keadaan sekarang, umat yang masih mengikuti kebaktian yang dilaksanakan setiap pagi hanya tinggal puluhan orang saja, dan itu pun sebagian besar memang telah berusia di atas 50 tahunan.
Konon, minimnya umat ini tidak terlepas dari kebijakan semasa Orde Baru melalui Inpres No. 14 Tahun 1967 dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 477 tanggal 18 November 1978. Inpres No. 14 Tahun 1967 melarang segala bentuk agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa, sedangkan SE Mendagri No. 477 tersebut hanya mengakui agama resmi negara dengan meniadakan agama Khonghucu. Kedua kebijakan tersebut secara nyata telah menekan kebebasan beragama bagi masyarakat Tionghoa. Akibatnya banyak umat Khonghucu yang terpaksa pindah ke lain agama agar tidak mendapat dikatakan ateis, untuk memenuhi keperluan pendidikan (ijasah) dan masalah kependudukan (identitas). Tak bisa dipungkiri bahwa kebijakan tersebut mempunyai implikasi yang sangat signifikan terhadap perkembangan agama Khonghucu.
 
Namun angin segar kembali menggembirakan masyarakat Tionghoa semasa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid yang mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 6 Tahun 2000. Keppres tersebut merupakan pengakuan kembali terhadap agama Khonghucu dengan memberikan kesempatan lagi untuk berkembang. Selang dua tahun kemudian, kembali Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keppres No. 19 Tahun 2002 yang menjadikan Hari Raya Imlek sebagai libur nasional. Pengakuan kembali secara formal ini telah memberikan harapan yang begitu besar bagi agama Khonghucu. Dengan ditetapkannya Imlek sebagai hari raya bagi agama Khonghucu benar-benar telah diakui secara sah dan legal sebagai agama ke-enam. *** [260617]
 
Kepustakaan:
Anggraini, Novita Dian. (2010). Perkembangan Agama Khonghucu di Surakarta (Studi Deskriptif Kualitatif tentang Sosialisasi pada Keluarga Khonghucu di Surakarta). Skripsi di FISIPOL UNS Surakarta
Rochmani, Safitri. (2011). Penggunaan Media Gambar untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Mandarin Siswa Kelas V di SD Tripusaka Surakarta. Skripsi di FSSR UNS Surakarta
http://www.meandconfucius.com/2010/12/tempat-ibadah-agama-khonghucu.html
 

sumber: kekunaan.blogspot.com

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker