Orang Dayak terkenal dalam penggunaan manik-manik sebagai aksesoris atau kelengkapan adatnya. Ada beberapa manik yang dianggap berharga atau masuk dalam kategori pusaka salah satunya ialah MANAS LILIS LAMIANG. Manik jenis ini sebenarnya dipakai juga di hampir semua kebudayaan dunia seperti di Mesir Kuno, Romawi, Afganistan, China bahkan di Nusantara juga, beberapa waktu lalu penulis pergi ke daerah trunyan di Bali, dimana disana mayat diletakan begitu saja dibawah pohon taru menyan – sebelum prosesi pemakaman maka di mulut jenazah juga akan diletakan manik jenis lamiang ini.
Bentuk Manas Lilis Lamiang ini – biasanya dipotong berbentuk hexagonal atau octagonal memanjang walau ada juga yang dibuat segi empat atau lonjong. Bahan lamiang yang masuk ke Kalimantan setidaknya ada tiga bahan yang dikenal yaitu batu cornelian, onyx dan fossil amber. Namun jika merunut legenda Dayak Ngaju mengenai batang garing (pohon kehidupan) dimana lilis ini berasal dari buah pohon batang garing itulah juga mengapa istilah sorga atau alam khayangan didalam bahasa Sangiangnya disebut ” lewu tatau habaras bulau, hakarangan lamiang habusung hintan, lewu je dia tau rumpang tulang, rundung iseng baka uhat lesu”
Nah fossil amber berasal dari getah pohon yang terkristalisasi sehingga inilah yang mungkin disebut berasal dari pohon batang garing, namun ada juga yang membuatnya dari bahan kristal bohemian. Proses pengolahan manik kristal bohemia yang menghasilkan warna nerah darah berasal dari timbal emas atau emas cair, makanya wajar lamiang inipun menjadi manik pusaka. Namun saat ini manik lamiang yang asli sudah sukar dijumpai – kebanyakan yang beredar dipasaran adalah manik lamiang yang terbuat dari kaca. Kalau lemiang yang asli warna merahnya tidak merata serta tidak ada gelembung udara dan bunyinya akan berbeda ketika diketuk.
UPACARA ADAT
Dalam hal upacara adat lamiang digunakan sebagai “Panekang Hambaruan” atau meperkuat roh/jiwa supaya tidak mengalami gangguang dari roh-roh halus. Makanya didalam acara NAHUNAN (pembatisan Dayak Ngaju) bayi akan diikatkan manas lamiang ini sebagai pelindung. Lamiang juga digunakan sebagai syarat beberapa ritual adat- misal dalam pembuatan mandau pusaka atau beberapa jenis ritual lainnya seperti manggatang sahur.
SYARAT PERKAWINAN
Lamiang didalam kebudayaan Dayak Ngaju adalah simbol ketulusan hajat/niat laksana lamiang yang tidak pernah pudar warna merahnya didalam upacara pernikahan manik lamiang disebur LAMIANG TURUS PELEK, dimana TURUS PELEK adalah kayu yang ditancapkan ketanah sebagai tambat perahu agar tidak hanyut terbawa arus, maka nilai pernikahan didalam adat Dayak Ngaju aalah sebagai bentuk perlabuhan terakhir dari sang laki-laki dan wanita. Lamiang juga adalah salah satu wujud cinta dari sang laki-laki, karena warna merah manik lamiang ini tidak akan pudar oleh waktu, demikian juga cinta sang laki-laki tadi. Dan Lamiang seperti yang dijelaskan sebelumnya adalah sebagai PANEKANG HAMBARUAN atau memperkuat jiwa, maka pasangannya nanti akan menjadi orang yang selalu memperkuat jiwa pasangannya. Lamiang juga digunakan sebagai bekal ketika sesorang meninggal, maka juga mengandung makna cinta dan kesetiaan harus dibawa sampai mati.
KELENGKAPAN BASIR / BALIAN
Dalam setiap prosesi belian manas lamiang ini harus dipakai dipergelangan tangan untuk memperkuat jiwa para belian atau basir dalam prosesi berhubungan dengan dunia atas – biasanya dalam prosesi tiwah. Namun saat ini karena lamiang yang sudah semakin langka maka sudah digantikan dengan hal-hal lain.
JIMAT
Ada beberap lamiang yang memang bisa digunakan sebagai ajimat dalam hal perlindungan ketika berpergian, bisa dibuat menjadi kalung maupun gelang, sebagai penolak dan pengusir roh hutan yangg jahat juga sebagai pelepas “pahuni” / “kepuhunan” apabila tak sengaja kita lupa atau bahkan memberikan kekebalan – tidak semua lamiang dapat digunakan sebagai ajimat.
BEKAL KUBUR
Dalam adat Dayak Maanyan adalah kalu orang meninggal lamiang di tumbuk dan di masukan dalam mulut, supaya kalau berada di Tumpuk Gumahari Danrahulu (alam khayangan), dia membuktikan dengan menunjuk mulutnya yang ada tumbukan lamiang – ada juga yang tidak menumbuknya tetapi diletakan dimulut begitu saja sebagai bekal kubur.
BERBURU
Ketika berburu menemukan hewan terutama babi hutan yang sangat besar dan dianggap susah dibunuh maka pada bagian senapannya atau “lantak” akan diikatkan lamiang ini untuk menembus babi hutan tadi.
PENGOBATAN
Pada saat prosesi penyembuhan maka lamiang digunakan sebagai pengganti / penukar jiwa si sakit agar lekas sembuh, lamiang juga dimasukan pada air pemandian bayi untuk menangkal penyakit liman pada bayi.
PERKASIH
Konon ada lamiang yang bisa digunakan sebagai perkasih atau pemikat wanita – ini konon khusu untuk lamiang yang kedua sisinya berwarna hitam kecoklatan.
ASAL USUL LAMIANG
Asal muasal lemiang ini berasalah dari peradaban Mesir Kuno – ada beberapa catatan sejarah dimana memang dahulu sudah ada jalur perdagangan antara bangsa Dayak dengan bangsa Mesir Kuno namun sebagian besar juga diperoleh dari perdagangan dengan bangsa China dengan cara barter dengan buntat babi, geliga, atau sisik tenggiling sebagian bahkan harus menempuh perjalanan jauh ke bagian Serawak.
Namun ada juga lamiang yang dibuat dengan ritual – biasanya ini ketika dilakukan BALIAN BALAKU UNTUNG, ritual ini disebut MANYELUNG, dimana belian akan menggunakan darah ayam dan mengubahnya menjadi sebuah lamiang. Lamiang yang dihasilkan dari ritual MANYELUNG ini bisa dgunakan untuk membuka jalan rejeki serta sebagai panyadingen pambelum atau menentramkan kehidupan selain sebagai panekang hambaruan.
Sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2015/07/12/lilis-lamiang-manik-pusaka-dayak/
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...