Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Wayang Bali Denpasar
Lelakut
- 28 April 2015
BILA Anda sempat melancong ke Bali dan melewati persawahan, anda akan melihat di atas petak-petak sawah yang kuning meriah dengan rumbai-rumbai plastik. Diantara rumbai-rumbai plastik yang dibentangkan dengan tali itu, anda juga akan melihat orang-orangan sawah yang terangguk-angguk ditiup angin. Suasana di persawahan itu mirip seni instalasi yang sepertinya digarap oleh seorang seniman.
 
Di Bali, orang-orangan sawah atau hantu sawah atau memedi sawah disebut lelakut. Fungsi utama lelakut adalah untuk menakut-nakuti burung-burung pipit yang suka memakan biji padi. Namun, secara mistik, lelakut yang telah diberi mantra dan sesaji khusus, juga berfungsi sebagai alat penolak bala, menjaga agar sawah dijauhi dari gangguan orang yang ingin berbuat tidak baik. Misalnya, menjauhi sawah dari gangguan leak (ilmu tenung) atau orang-orang yang iri pada si pemilik sawah.
“Lelakut yang dibuat dengan bahan pilihan dan telah diisi mantra dan sesaji biasanya sangat ampuh untuk menangkal ilmu hitam,” ujar Gde Kaler (68), seorang petani dari Tohpati, Kesiman, sebelah timur kota Denpasar.
Tetapi sekarang, lelakut yang berfungsi sebagai penolak bala sangat jarang bisa ditemui. Karena tidak banyak petani yang mengerti tata cara membuat lelakut bertuah, lengkap dengan mantra dan sesajinya. Kini, lelakut dibuat sekadarnya saja, agar sawah ramai dan burung-burung tidak berani mendekat.
Namun, seandainya lelakut bisa bicara, apa yang akan dikatakannya kepada para petani yang menaruhnya di tengah sawah? Mungkin dia akan berteriak kepanasan, atau menggigil kedinginan, atau pasrah saja menerima nasib sebagai lelakut yang sepanjang hari hanya bertugas menakut-nakuti burung.
Lelakut dapat dibuat dengan menggunakan berbagai jenis bahan, mulai dari bahan sederhana yang gampang dicari sampai bahan yang susah dicari. Semuanya itu tergantung pada kualitas lelakut yang diinginkan petani. Sebab ada petani yang membuat lelakut hanya untuk sekedar menakut-nakuti burung. Namun ada juga petani membuat lelakut bertuah yang disertai sesaji dan ritual untuk “menjaga” sawah dari serangan kekuatan gaib yang bersifat negatif.
Biasanya, lelakut dibuat menggunakan bahan jerami kering yang dianyam dan dibentuk menjadi orang-orangan. Boneka jerami itu kemudian diberi baju bekas agar mirip orang sungguhan. Lelakut juga bisa dibuat dengan menggunakan batang pelepah kelapa yang sudah kering. Daun-daun kelapa kering yang masih melekat pada pelepah dianyam menjadi tangan yang terentang agar nampak seperti orang yang sedang mengusir burung.
Lelakut juga perlu dibuatkan kepala. Petani yang tidak mau repot biasanya membuat kepala lelakut dari jerami yang dibentuk bulat dan dihiasi dengan rambut dari ijuk. Dulu, kepala lelakut dibuat dari pongpongan (batok kelapa busuk) yang digambari kedok wajah. Gambar kedok wajah lelakut pun bermacam-macam. Ada yang menyerupai orang, raksasa, wajah-wajah lucu dengan gigi-gigi yang menonjol keluar. Itu semua tergantung pada kreasi dari petani sendiri.
Warna yang dipakai untuk menggambari kedok wajah biasanya warna-warna yang didapat dari alam, seperti: arang atau mangsi (bekas asap pelita) untuk warna hitam, kapur untuk warna putih, kapur dicampur kunyit untuk warna merah, dan kunyit untuk membuat warna kuning.
Untuk membuat kedok wajah lelakut yang menyeramkan, biasanya petani mewarnai batok kelapa kering itu dengan warna dasar putih yang dibuat dari campuran kapur, air dan sedikit lem kanji sebagai perekat warna. Warna dasar putih itu kemudian digambari mata, alis, hidung, mulut, gigi dengan warna hitam, merah atau kuning. Wajah lelakut akan nampak sangat gaib dan menyeramkan.
Kepala lelakut juga perlu diberi topi agar burung-burung menyangka lelakut itu benar-benar manusia. Kukusan (pengukus nasi) bekas atau caping (topi khas petani) yang tak terpakai sering digunakan untuk topi lelakut. Namun petani memang terkadang suka iseng.
Saya pernah melihat lelakut yang mengenakan topi korpri (korp pegawai negeri), baret tentara, atau topi polisi yang sudah tak terpakai. Entah dari mana petani petani itu mendapatkannya. Mungkin mungut di tempat sampah.
Lelakut juga perlu diberi baju agar benar-benar mirip orang. Baju yang dikenakan pada lelakut pun bermacam-macam sesuai dengan kreatifitas petani. Biasanya baju bekas yang sudah tidak bisa dipakai lagi. Baju untuk lelakut terkadang juga dipungut di teba (tegalan) orang atau di jalan yang menuju ke sawah. Mungkin ada orang yang membuang baju bekasnya di teba atau di selokan, yang kemudian dimanfaatkan oleh petani untuk baju lelakutnya.
Suatu kali saya pernah melihat lelakut yang diberi hiasan baju loreng tentara lengkap dengan helm dan senapan yang dibuat dari tripleks. Apa kira-kira yang dipikirkan oleh tentara bila kebetulan melihat lelakut itu? Mungkin dia akan tertawa, atau mungkin merasa tersindir. Tentara kok disamakan dengan lelakut yang hanya bertugas menakut-nakuti burung pipit. Apakah petani yang membuat lelakut itu memang ingin menyindir tentara?
“Baju itu sudah rusak, dulu cucu saya yang memberikannya. Daripada dibuang, saya gunakan saja untuk baju lelakut,” tutur Pan Surpa (60), petani yang memiliki lelakut itu, dengan polos.
Memang sangat menarik mengamati baju yang dikenakan oleh lelakut. Pada jaman Soeharto masih menjabat presiden, bila saat musim kampanye tiba, saya sering melihat lelakut berbaju kaos Golkar. Mungkin petani yang membuat lelakut itu pendukung atau simpatisan partai Golkar. Saat Megawati menggelar kongres PDI pada tahun 1998 di Bali, saya juga sempat melihat lelakut berkaos PDI Perjuangan dengan gambar Megawati yang warnanya sudah sangat kusam.
Selain itu, ada juga petani yang menghiasi lelakutnya dengan baju Korpri atau baju hansip. Semua baju yang dipakai oleh lelakut itu sudah rusak, yang jelas-jelas sudah tidak bisa dipakai lagi oleh petani. Kalau baju tersebut masih bisa dipakai, tentu petani yang lebih dulu memakainya. Kalau sudah rusak baru dihibahkan kepada lelakut buatannya.
Petani yang kreatif terkadang membuat lelakut dengan mengambil tokoh-tokoh film kartun di televisi sebagai model. Misalnya, lelakut diberi sayap superman atau batman dari kain atau plastik bekas yang bisa dimainkan angin. Mungkin petani itu menganggap, lelakut superman atau batman lebih ditakuti burung daripada lelakut dengan model pak tani.
Penolak Bala
Selain untuk menakut-nakuti burung, lelakut juga bisa dipakai alat untuk menolak bala, yaitu menangkal kekuatan gaib yang bersifat negatif. Lelakut untuk penolak bala ini, saat dipasang di sawah dibekali dengan sesaji dan mantra agar kekuatan magisnya lebih terasa.
Bahan lelakut yang bertuah ini pun merupakan bahan pilihan yang sangat susah dicari karena jarang ditemui, yaitu: papah nyuh nunggal (pelepah kelapa tunggal). Pelepah kelapa ini biasanya menggelantung sendiri di batang pohon kelapa, jauh dari pelepah yang lainnya, mungkin karena pelepah di sekitarnya sudah banyak berguguran. Papah nyuh nunggal diyakini mempunyai kekuatan magis yang dasyhat untuk penolak bala dan pengusir burung.
“Papah nyuh nunggal sangat berkhasiat dipakai bahan lelakut,” ujar Gde Kaler saat ditemui di rumahnya di Tohpati, Kesiman, Denpasar Timur.
Peranan hari dalam mencari bahan, membuat dan memasang lelakut juga sangat berpengaruh terhadap tuah atau kekuatan magis yang dimunculkannya. Bagi orang Bali, rahinan (hari penting) kajeng kliwon merupakan hari yang paling keramat dan mengandung aura magis yang sangat kuat. Orang Bali selalu mengidentikkan kajeng kliwon sebagai hari yang sangat bagus untuk belajar kebatinan, belajar ilmu leak, membuat atau “menghidupkan” jimat dengan kekuatan mantra, dan segala sesuatu yang berbau mistik.
Maka kalau ingin membuat lelakut yang bertuah, papah nyuh nunggal itu harus didapat atau dicari saat hari keramat kajeng kliwon. Gde Kaler pernah membuktikan tuah lelakut dari papah nyuh nunggal yang didapat dan dibuatnya saat kajeng kliwon itu.
“Sejak lelakut itu saya pasang di sawah, burung-burung memang tidak berani mendekat. Petani lain sampai heran karena sawah saya tidak pernah diganggu burung. Mereka menduga sawah saya ada “penghuni” gaibnya,” cerita Gde Kaler sambil tertawa mengenang kejadian konyol itu.
Untuk memunculkan daya magisnya, lelakut perlu “dihidupkan” dengan sesaji dan mantra. Setelah ditancapkan di sawah saat kajeng kliwon, lelakut disembur dengan kesuna (bawang putih) dan jangu (sejenis rumput untuk obat) yang sudah dikunyah sebanyak 3 kali, dan sesaji yang dihaturkan berupa: canang 2 buah dan jajan satuh.
Sesaji tersebut dibuat dan dihaturkan setiap 15 hari sekali, yaitu setiap kajeng kliwon, agar lelakut semakin bertuah. Lelakut yang telah “hidup” ini sangat ampuh dipakai menakut-nakuti burung. Mantra dan sesaji juga penting untuk menjaga agar sawah tidak diganggu maling, leak atau orang yang bermaksud tidak baik.
Apabila burung-burung telah berhasil diusir dengan lelakut, maka bersamaan dengan upacara menyimpan padi di lumbung, juga perlu menghaturkan sesaji ke hadapan Sang Hyang Sepuh dan Sang Hyang Pemunah Sakti yang diyakini sebagai dewa (kekuatan) penjaga sawah dan padi. Sesaji itu dihaturkan di tugu yang dibangun di tengah sawah, sebagai ungkapan rasa terima kasih petani karena padi terhindarkan dari hama burung.
Kontes Lelakut
Sekarang ini, tidak banyak petani yang bisa dan mampu membuat lelakut bertuah, apalagi mengucapkan mantra-mantra khusus untuk lelakut. “Orang-orang tua dulu memang suka memberi mantra pada lelakut agar lebih bertuah. Petani sekarang kalau membuat lelakut asal jadi saja,” ujar Pan Rawi (70), seorang petani dari Desa Sumerta, Denpasar.
Petani di bawah generasi Gde Kaler dan Pan Rawi, rata-rata memang tidak bisa lagi membuat lelakut dengan bagus. Untuk mengusir burung, mereka lebih suka menggunakan plastik bekas yang dibentuk menjadi rumbai-rumbai atau bendera kecil yang digantung di sepanjang petak sawah. Agar tidak terlalu repot, mereka juga sering membuat lelakut dengan menggunakan bahan sekedarnya saja, yang kebetulan ditemuinya di tengah jalan atau di pinggir persawahan. Misalnya sebatang kayu yang diberi topi dan baju bekas yang kedodoran.
Gde Kaler merasa bahwa tradisi membuat lelakut memang sudah mulai ditinggalkan oleh generasi petani di bawahnya. “Saya berani bertaruh, generasi di bawah saya tidak ada lagi yang bisa membuat lelakut dengan bagus. Mungkin mereka tidak mengerti bahan apa yang dipakai untuk membuat lelakut yang bertuah, atau mungkin mereka sudah lupa sama sekali,” ujar Gde Kaler sedikit kecewa.
Agaknya, perlu digelar kontes membuat lelakut, untuk membangkitkan kembali budaya membuat lelakut. Sebab bagaimanapun juga, lelakut telah menjadi seni tersendiri yang diciptakan para petani saat musim padi mulai bebuah.
 
sumber: http://www.journalbali.com/bali-feature/lelakut-hantu-sawah-dari-bali.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu