Dahulu kala Sungai Siak disebut Sungai Jantan. Sementara Siak Sri Indrapuramasih bernama Mempura. Di sana hidup seorang janda setengah baya dengan seorang anak gadisnya yang bernama si Umbut Muda. Gadis ini begitu cantik rupawan. Kecantikan si Umbut Muda tidak ada bandingannya pada zaman itu. Kecantikannya tak terkalahkan mulai dari Mempura, Kuala Buantan sampai ke hulu dusun Senapelan. Karena selalu dipuji, Si Umbut Muda menjadi tinggi hati, congkak dan angkuh. Pakaiannya harus terbuat dari kain sutra yang paling mahal, kain songket tenunan Trengganu tersohor dilengkapi selendang dari kain mastuli tenunan Daik. Emas dan perak tempaan, ditempa didatangkan dari negeri Cina, itu masih belum cukup, gelang sepasang di tangannya, tersusun lima seberat delapan tail atau setengah kati.
Untunglah harta peninggalan almarhum ayahnya cukup untuk memenuhi keinginan si Umbut Muda. Kalau tidak bagaimana jadinya sedangkan ibunya hanya seorang perajin tenun yang hanya mengambil upah menenun kain songket dari sana sini untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Mak jangan hanya bersenang-senang saja ikut menghabiskan harta peninggalan ayahku,” tegur si Umbut Muda bila suatu ketika melihat ibunya beristrahat dari menenun. Padahal saat itu ibunya sedang lelah. Tidak hanya omongannya saja, si Umbut Muda juga bermuka masam, wajahnya cemberut. Ibunya tidak diperbolehkan berada di dalam rumah mewah untuk ukuran zaman itu, dihardik dan kadang-kadang terpaksa tidur di serambi bertemankan nyamuk. “Hem, rasakan olehmu Mak!” kata si Umbut Muda, tatkala ibunya terpaksa tidur di serambi rumah seperti itu. “Umbut menyuruh mengambilkan sisir yang jatuh saja Mak tak segera mengambilnya. Tak sempatlah! Benang tenun kusutlah! Banyak alasan!” kata gadis jelita itu menghardik ibunya yang terbaring beralaskan tikar pandan yang sudah usang. Supaya ibunya menurut kepada perintahnya, ia berkata lagi. “Itu namannya hukuman bagi orang tua pemalas!” Ibu yang bernasib malang ini harus tunduk di bawah perintah si Umbut Muda satusatunya anak yang dikasihi, dimanjakan sampai gadis. “Maafkan Mak, Umbut!,” Ibunya mengiba-iba. “Mak khilaf, maafkanlah.” Bila sudah melihat orang tua itu mengalah, meminta maaf, dan ia merasa disanjungsanjung, maka si Umbut Muda mengizinkan ibunya tidur di dalam rumah menempati bilik biasanya. Keluarga apalagi famili memang agak menjauh, tak seorang pun berani menasihati si Umbut Muda yang cantik jelita. la cukup terkenal pula sebagai gadis pemilik pusaka kaya raya itu. Karena itu dia merasa paling tinggi dalam kerabatnya dan merasa sama derajatnya dengan putri raja-raja yang berkuasa pada zaman itu.
Legenda Umbut Muda
Pada suatu hari menikahlah putri salah seorang bangsawan ternama Mempura. Undangannya terdiri dari orang-orang ternama, jemputan terhormat termasuk si Umbut Muda. la tinggal di seberang Sungai Jantan berseberangan kampung dengan tempat perhelatan tersebut. “Mak, berpakaianlah Mak,” perintah si Umbut Muda kepada ibunya, sesaat akan pergi ke pesta perkawinan itu. “Mak harus berkebaya singkat. Selendang kain pelangi, dan bertapih batik Kedah. Usah berdukuh berpending, Mak adalah tukang payung Umbut hendak ke pesta pernikahan orang,” katanya. “Iyalah Umbut,” sahut ibu si Umbut Muda dengan patuhnya.
Si Umbut Muda pun mengenakan pakaian serba mahal, baju kurung dari kain songket tenunan Trengganu. Kain tudung sutra matuli berkelingkam, tenun Daik. Pinggan dililit pending emas bertampuk kulit ketam rinjung terbuat dari emas dua puluh empat karat. Dukuh terkalung di leher hingga ke paras dada, lima pasang, terbuat dari emas murni. Baju kurung berkancing kerusang permata berlian di atas leher, bergelang kaki emas giring-giring. Gentanya berdering-dering bunyinya, setiap kali melangkah. Cincin di jari tangan kiri dan kanan dipakai sepenuh kedelapan jarinya, semuanya emas permata berlian. Kerabu anting-anting permata intan gemerlapan di telinganya. Rambut labuh disanggul lipat ganda ternama, bercucuk siput suasa permata delima. Sementara itu pada kedua belah tangan terdapat gelang emas lima pasang di satu tangannya, berjumlah sepuluh gelang. Gelang ini dijadikan simbol, si Umbut Muda dengan banyak gelang semakin termasyhur. Terkenal di lingkungan Mempura, hingga ke hulu sungai desa Senapelan. Wajah si Umbut Muda bertambah cantik, anggun berjalan. la memakai payung biru muda dengan rumbai-rumbai dari manik kaca buatan Cina. Lenggang-lenggok si Umbut Muda sangat kentara, saat jembatan lintas sungai Jantan dililitnya.
“Kriut…kriut…” lantai jembatan nibung dibelah, berderit-derit. Ibunya bertugas sebagai tukang payung, berjalan di sebelah kiri. Entah apa yang menjadi penyebabnya mungkin sudah takdir, tiba-tiba dua susun gelang di tangan kanan si Umbut Muda terjatuh. Gelang-gelang itu terpelanting jatuh ke dalam sungai. “Mak… Gelang Umbut jatuh dua susun, empat jumlahnya,” kata si Umbut Muda berteriak. la menyuruh ibunya terjun ke dalam sungai. “Mak, ambilkan gelangku mak…!,” katanya sambil mendorong ibunya ke dalam sungai. “Menyelamlah, Mak…!” perintahnya. “Arus sungai begitu deras Nak…Mak tidak berani menyelam!” Si Umbut Muda begitu marah kepada ibunya. la pun mengambil sebatang kayu bercabang lalu ditekankan ke tengkuk ibunya dengan kasar sekali. “Ambilkan gelangku…menyelamlah!” bentaknya keras-keras. Byurrr…! Gelembung-gelembung air bergerak ke atas dari nafas ibunya. Burr! Arus sungai pun menggelegak. Dan pada saat itu pula turun angin puting beliung bergulunggulung. Siuuuuunggg…! Si Umbut Muda pun terbawa angin puting beliung itu. la terpelanting ke dalam sungai lalu terbenam, terdengar terikan “Maaak tolonglah aku…!” Tapi ibunya tak bisa berbuat apa-apa. Suara gadis itu semakin sayup, akhirnya gadis durhaka itu mati lemas di dalam lumpur. Sementara ibunya terangkat ke tebing sungai dengan selamat. Beliau kehilangan putri yang disayangi, dengan cara yang sangat mengenaskan.
Pada bulan-bulan tertentu sampai sekarang selalu terlihat akar-akar dalam Sungai Siak dipermainkan arus. Akar-akar itu bergerak seperti rambut terurai panjang menggelitikgelitik. Suatu pemadangan yang dipercayai penduduk sebagai rambut si Umbut Muda Gelang Banyak muncul di situ, untuk dijadikan peringatan tentang anak durhaka. Adakalanya juga angin puting beliung menggulung di situ. Ini adalah pertanda bagi masyarakat setempat bahwa ada pelanggaran adat serta syariat agama di lingkungan Siak Sri Indrapura. Maka di sana jarang ada orang yang berani kepada ibunya, apalagi memperlakukan ibunya seperti budak atau pelayan seperti kelakuan si Umbut Muda. Demikian cerita legenda dari Riau mengenai Umbut Muda. Pesan moral cerita rakyat Riau ini adalah agar kita jangan sampai berani bertindak durhaka kepada orang tua. Amanat cerita rakyat Riau ini adalah agar setiap anak memperlakukan orang tuanya dengan sebaik-baiknya. Setiap anak tidak boleh menyiksa dan memperlakukan orang tua layaknya pembantu hanya karena kekayaan.
sumber : http://agussiswoyo.com/cerita-rakyat/legenda-umbut-muda-dan-cerita-rakyat-sungai-siak-sri-indrapura-di-riau/
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...