Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Kalimantan Timur Kaltim
Legenda Pesut Mahakam
- 10 Oktober 2014
Mahakam adalah salah satu sungai besar yang berada di Pulau Kalimantan. Di sungai yang panjang dan lebar ini banyak dihuni oleh bermacam makluk hidup, mulai dari tetumbuhan hingga berbagai jenis binatang. Salah satu binatang penghuninya adalah pesut, sejenis mamalia air berbentuk seperti lumba-lumba dan bernafas melalui paru-paru. Konon, menurut kepercayaan penduduk sekitar sungai, pesut bukanlah sembarang binatang, melainkan jelmaan dari manusia. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Berikut adalah ceritanya.
 
Alkisah, pada zaman dahulu kala terdapat sebuah dusun yang hanya didiami oleh sejumlah keluarga. Untuk menghidupi diri, mereka bekerja sebagai petani dan atau nelayan pencari ikan di Sungai Mahakam. Bagi keluarga petani apabila tiba musim panen, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa mereka mengadakan pesta adat yang diantaranya diisi dengan beraneka macam pertunjukan ketangkasan dan kesenian.
 
Di antara sejumlah keluarga itu ada satu keluarga yang tinggal dan hidup rukun dalam sebuah pondok sederhana. Mereka terdiri dari suami, isteri, dan dua orang anak mereka. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka memiliki sebuah ladang luas yang ditanami dengan berbagai jenis buah-buahan dan sayur-mayur.
 
Suatu ketika, Sang ibu dalam keluarga ini terserang oleh penyakit yang sulit disembuhkan hingga akhirnya meninggal dunia. Sepeninggal Sang ibu, Sang Suami larut dalam kesedihan karena kehilangan orang yang amat dicintai. Dia menjadi pendiam dan pemurung, sehingga membuat kedua anaknya bingung karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tentu saja keadaan ini membuat kondisi rumah dan ladang menjadi tidak terurus alias terbengkalai. Beberapa tetua desa yang merasa iba mencoba menasihati tetapi tetap saja tidak dapat mempengaruhinya. Bahkan, kesedihannya semakin mendalam hingga tiba pada musim panen dan pesta adat berikutnya.
 
Seperti biasanya, dalam pesta adat setelah panen selalu digelar kesenian dan pertunjukan ketangkasan. Salah satu pertunjukannya adalah penampilan ketangkasan yang dimainkan oleh seorang gadis cantik dan mempesona, sehingga banyak para pemuda yang tertarik untuk menyaksikan dan memperbincangkannya. Hal ini membuat hati Sang duda akhirnya tergoda juga untuk turut menyaksikan kehebatan sang gadis dalam mempertontonkan ketangkasannya.
 
Setelah menimbang-nimbang selama beberapa waktu, pada hari ketujuh secara perlahan-lahan Sang duda bangkit meninggalkan rumah menuju ke tempat pertunjukan untuk melihat Sang gadis mempertontonkan kebolehannya. Sesampainya di sana, sengaja dia berdiri di depan agar dapat dengan jelas menyaksikan permainan serta wajah Sang Gadis. Dan, oleh karena berdiri paling depan, ketika Sang gadis beraksi pandangan mata mereka pun sering bertemu. Lama-kalamaan timbullah rasa suka diantara mereka.
 
Singkat cerita, seusai pertunjukan terjadilah perkenalan dan beberapa waktu kemudian mereka bersepakat untuk melangsungkan pernikahan atas persetujuan dan restu dari para sesepuh kampung. Setelah menikah, kehidupan keluarga ini mulai berangsur-angsur pulih. Sang suami kembali rajin bekerja di ladang bersama kedua anaknya, sementara Sang isteri tetap tinggal di rumah untuk menyiapkan makanan.
 
Tetapi karena tidak ada keterikatan batin sebagaimana layaknya seorang ibu kandung, lama-kelamaan Sang ibu baru ternyata memiliki sifat yang kurang baik terhadap kedua anak tirinya. Pada saat makan misalnya, Sang ibu tiri hanya memberi apabila ada makanan yang tidak habis atau disisakan oleh Sang ayah. Selain itu, dia juga mulai mengatur ulang seluruh kegiatan dalam rumah tangganya. Untuk itu, dia memerintah kedua anak tirinya bekerja sangat keras tanpa mengenal lelah melakukan hal-hal yang sering diluar kemampuan mereka.
 
Bahkan, pada suatu ketika Sang ibu tiri mempunyai rencana sangat jahat untuk menyingkirkan kedua anak tirinya. Ia menyuruh kedua anak itu ke hutan mencari kayu bakar. “Kalian harus mencari dengan jumlah tiga kali lebih banyak dari kemarin. Apabila belum terkumpul seluruhnya, kalian belum boleh pulang, mengerti?!” kata Sang ibu tiri.
 
“Untuk apa kayu sebanyak itu, Bu? Kayu yang minggu kemarin kami ambil dari hutan masih cukup banyak,” kata anak lelakinya.
 
“Kalau berani membantah perintahku, nanti akan aku laporkan pada ayah kalian! Ayo, berangkat sekarang juga!” bentak Sang ibu tiri.
 
Tanpa berkata lagi mereka segera membawa perbekalan untuk dibawa ke hutan. Mereka tahu bahwa Sang ayah telah banyak dipengaruhi, sehingga apapun yang akan dikatakan isteri barunya pasti akan dituruti. Oleh karena itu, sebelum Sang ayah pulang mereka bergegas keluar rumah menuju ke hutan mencari kayu bakar. Di dalam hutan mereka terpaksa bermalam di sebuah pondok yang telah ditinggalkan karena kayu yang dikumpulkan belum mencapai target yang telah ditetapkan oleh Sang ibu tiri.
 
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka memulai kembali mengumpulkan ranting-ranting kering yang telah tanggal dari pohon untuk dijadikan kayu bakar. Menjelang tengah hari, rasa lapar pun mulai menyerang. Agar rasa lapar itu agak sedikit diredam, mereka menggeletakkan diri di atas tanah selama beberapa saat.
 
Namun, baru beberapa menit beristirahat, tiba-tiba datanglah seorang kakek tua menghampiri. “Apa yang sedang kalian lakukan disini, anak-anak?” tanya Sang kakek tua.
 
Walau agak terkejut akan kedatangan Sang kakek tua, mereka langsung bangkit dari istirahatnya dan menceritakan semuanya, mulai dari perut mereka yang belum terisi makanan sejak kemarin hingga tingkah laku Sang ibu tiri yang menyuruh mencari kayu bakar tiga kali lipat dari biasanya.
 
“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan tentang kelakuan Ibu tirimu. Sekarang kalian pergilah ke arah utara. Disana banyak terdapat pohon buah-buahan yang dapat kalian makan hingga kenyang. Tetapi ingat, esok harinya kalian jangan mencarinya lagi karena pohon-pohon tersebut sudah tidak akan ada lagi di tempatnya,” kata Sang Kakek tua.
 
“Baiklah Kek,” jawab salah seorang diantara anak itu lalu menggandeng tangan saudaranya menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh Sang kakek tua.
 
Sesampainya di tempat yang dituju, mereka menyaksikan banyak sekali pohon buah-buahan, seperti: durian, nangka, cempedak, wanyi, mangga, pepaya, pisang, rambutan, kelapa gading dan lain sebagainya. Seluruh buah tersebut telah masak sehingga mereka tinggal memetik atau mengambilnya di atas tanah.
 
Setelah kenyang, mereka beristirahat sebentar lalu melanjutkan kembali mengumpulkan ranting-ranting kering untuk digunakan sebagai kayu bakar. Menjelang sore, kayu bakar dengan jumlah tiga kali lipat dari biasanya pun telah terkumpul. Kayu-kayu atau ranting-ranting itu kemudian diikat lalu dibawa pulang ke rumah.
 
Namun, ketika telah berada di rumah ternyata kedua orang tua mereka telah pergi entah kemana. Selain itu, seluruh harta benda di dalam rumah juga ikut raib dibawa dan hanya menyisakan beberapa barang yang telah usang dan rusak saja. Melihat kenyataan ini mereka hanya dapat menangis meratapi nasib tanpa dapat berbuat apa-apa.
 
Keesokan harinya, mereka bertekad mencari kedua orang tuanya. Sebelum pergi, keduanya bertandang ke rumah para tetangga terdekat untuk memberitahukan rencana kepergian sekaligus menitipkan rumah. Beberapa tetangga yang merasa iba mendengar cerita mereka, secara spontan menawarkan agar kayu bakar yang telah dikumpulkan ditukar dengan makanan sebagai bekal dalam perjalanan.
 
Menjelang tengah hari, berangkatlah keduanya mencari keberadaan ayah kandung dan ibu tiri mereka. Tetapi setelah dua hari berjalan, belum juga ada tanda-tanda mengenai keberadaan kedua orang tersebut. Hari berikutnya, sampailah kedua bersaudara ini di suatu daerah perbukitan yang di bagian puncaknya terlihat sebuah kepulan asap sebagai tanda akan keberadaan manusia. Mereka pun segera menuju arah kepulan asap itu.
 
Sesampainya disana, mereka menjumpai sebuah pondok tua yang sudah reot. Di depan pondok tersebut tampak seorang kakek tua tengah duduk santai sembari menikmati keindahan alam di sekelilingnya. Kedua kakak beradik itu lalu menghampiri dan memberi hormat kepada Sang kakek tua.
 
“Dari mana kalian? Kenapa kalian sampai di tempat terpencil ini?” tanya Sang kakek tua sambil sesekali terbatuk-batuk kecil.
 
“Kami sedang mencari kedua orang tua kami, Kek. Apakah Kakek melihat ada sepasang suami-isteri melewati tempat ini?” tanya Si anak lelaki.
 
“Hmmm…beberapa hari yang lalu memang ada sepasang suami-isteri yang datang kemari,” kata Sang Kakek tua, “Mereka membawa banyak sekali barang. Apakah kedua orang itu yang kalian maksud?”
 
“Benar kek,” kata Sang anak lelaki. “Kakek tahu ke arah mana mereka pergi?” tanyanya lagi.
 
“Waktu itu mereka meminjam sampanku untuk menyeberang sungai. Mereka berencana akan membuat sebuah pondok dan membuka ladang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jawab Sang kakek tua.
 
“Bisakah kakek menolong kami hingga ke seberang sungai?” tanya Sang anak perempuan polos.
 
“Aku ini sudah tua…manalah kuat mendayung lagi,” jawab Sang kakek tua. “Tetapi, apabila ingin menyeberang, kalian dapat memakai sampanku yang satu lagi yang aku tambatkan dekat sebuah batu besar itu,” lanjutnya sambil menunjuk ke arah sebuah batu besar di tepian sungai.
 
“Terima kasih, Kek. Kami berjanji akan mengembalikan perahu Kekak apabila telah berhasil menemukan orang tua kami,” kata Sang anak lelaki.
 
Adik beradik ini kemudian meminta izin untuk pergi ke sungai. Sesampainya di sungai mereka langsung melepas tali tambatan perahu dan bergegas mendayung menuju ke seberang. Ketika telah berada di seberang, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama dua hari dua malam sampai akhirnya menemukan sebuah pondok yang tampak baru saja selesai dibangun. Dengan perasaan cemas dan ragu perlahan-lahan Sang anak lelaki mendekati pondok itu dan menaiki tangganya, sementara adik perempuannya berjalan ke arah belakang pondok. Ternyata di belakang pondok terdapat sebuah baju yang sedang dijemur. Ciri-ciri baju itu sama persis seperti baju yang pernah dijahit oleh Sang anak perempuan karena sobek terkait duri. Segera dia mengambil dan menunjukkannya pada Sang kakak.
 
Dan, tanpa berpikir panjang lagi mereka langsung memasuki pondok. Ternyata di dalam pondok tersebut memang berisi berbagai macam barang milik Sang ayah. Mungkin hari itu mereka sedang terburu-buru menuju ladang, sehingga pergi begitu saja meninggalkan rumah tanpa menguncinya. Bahkan, di bagian dapur masih ada periuk yang diletakkan di atas api yang masih menyala. Dalam periuk itu masih ada nasi yang telah menjadi bubur karena terlalu lama dipanaskan.
 
Oleh karena sudah beberapa hari tidak makan, Sang anak laki-laki segera menyantapnya hingga hampir habis. Sang adik yang datang belakangan langsung menyambar periuk itu dan memakannya langsung tanpa menuangkannya ke dalam piring. Akibatnya, suhu badan kedua anak itu meningkat drastis seperti terbakar. Agar suhu badan kembali normal, mereka langsung keluar pondok mencari sungai untuk minum dan berendam. Di sepanjang jalan menuju ke sungai, setiap ada pohon pisang mereka peluk secara bergantian hingga menjadi layu. Begitu sampai di tepi sungai, segeralah mereka terjun untuk mendinginkan tubuh.
 
Hampir bersamaan dengan itu, penghuni pondok yang sudah kembali dari ladang merasa heran melihat banyak pohon pisang di sekitar tempat tinggalnya menjadi layu dan bahkan ada yang hangus seperti terbakar. Lebih heran lagi ketika sampai di rumah dia menemukan sebuah bungkusan dan dua buah mandau milik kedua anaknya.
 
Sang isteri yang juga merasa heran segera memeriksa seluruh isi pondok kalau ada barang-barangnya yang mungkin saja telah diambil si peletak bungkusan dan mandau. Ketika pemeriksaan sampai ke bagian dapur dia melihat periuk nasinya telah tergeletak miring di atas lantai tanah dengan isi nyaris ludes. Dia kemudian melaporkan hal itu kepada suaminya dan mereka pun langsung keluar dari pondok menyusuri jalan yang kanan-kirinya banyak terdapat pohon pisang layu atau hangus. Mereka beranggapan kalau layu dan matinya pohon-pohon pisang itu mungkin ada hubungannya dengan orang yang memakan nasi serta meninggalkan bukusan di dalam pondok.
 
Ketika penelusuran sampai di tepi sungai, mereka melihat ada dua makhluk yang bergerak kesana-kemari di dalam air sambil sesekali menyemburkan air dari lubang di atas kepalanya. Entah kenapa, melihat kedua makhluk tersebut pikiran Sang suami teringat akan rentetan kejadian yang berhubungan dengan keluarganya. Setelah sadar, dia lebih terkejut lagi karena sang isteri yang berada disampingnya tiba-tiba raib bagai ditelan bumi.
 
Berita mengenai adanya dua ekor ikan aneh serta seorang manusia yang hilang secara misterius tersebut akhirnya sampai juga pada masyarakat yang tinggal di sekitar sungai. Secara bermai-ramai mereka pun berbondong-bondong menuju ke tepi sungai tempat kedua ikan aneh itu ditemukan. Disana mereka melihat dua ekor ikan berkepala mirip manusia yang sesekali menyemburkan air dari lubang di atas kepalanya. Oleh masyarakat setempat ikan itu kemudian dinamakan sebagai pasut atau pesut, sementara di daerah pedalaman dinamakan ikan bawoi.
 
 
 
Sumber: http://uun-halimah.blogspot.com.tr/2013/12/legenda-pesut-mahakam.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu