Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sulawesi Tenggara Bone
Legenda Hujan Uang Ringgik di Kerajaan Bone
- 22 November 2018

Kerajaan Bone adalah salah satu kerajaan besar di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara di masa lampau. Kerajaan Bone mencapai puncak kejayaannya namun tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Waktu itu Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara sedang jaya dan dalam keadaan aman tenteram. Rakyat hidup makmur. Hasil pertanian berlimpah-limpah. Perdagangan dengan negerinegeri lain berjalan sangat lancar.

Walaupun hidup makmur, rakyat Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara tidak menghambur-hamburkan hartanya untuk hal-hal yang kurang perlu. Mereka saling membantu satu dengan yang lain, saling mengasihi, dan saling mencintai. Tindak kejahatan yang terjadi di Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara sangat sedikit. Pencurian dan perampokan hampir tidak pernah terjadi karena sakir miskin mendapat jaminan hidup yang layak. Masyarakat dapat hidup dengan tenteram dan bahagia setiap hari.

Pada waktu itu di Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara terdapat seorang menteri yang rakus dan tamak. Ia selalu ingin dapat hidup kaya raya dan bermewah-mewahan. Akan tetapi, sebenarnya ia tergolong menteri yang malas. Hal yang selalu diinginkan oleh menteri itu ialah mendapat uang banyak tanpa bekerja atau berusaha. Menteri Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara itu termasuk pejabat yang kejam dan tidak segan-segan memeras rakyat untuk kepentingan pribadinya.

Disebutkan dalam cerita rakyat Sulawesi Tenggara bahwa menteri yang rakus itu membujuk raja Bone melakukan sesuatu. Katanya, hal ini untuk kepentingan rakyat banyak. Rakyat akan mendapat harta yang melimpah, tanpa harus bersusah payah dan bekerja keras. Karena usul menteri itu dianggap baik, raja menerimanya. Raja Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara tidak tahu bahwa terdapat niat jahat dalam saran sang menteri.

Pada suatu hari, seluruh rakyat Bone diperintahkan untuk bersama-sama memohon kepada Dewata. Rakyat memohon kepada Dewata untuk dikaruniai harta yang banyak. Mereka memohon agar diturunkan hujan ringgik. Ringgik adalah mata uang perak. Daerah lain di sekitar Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara lebih mengenalnya sebagai mata uang ringgit. Satu ringgit dapat digunakan untuk membeli beras sebanyak kira-kira setengah kuintal.

Kisah Dongeng Hujan Duit

Menurut dongeng rakyat Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara, permohonan rakyat Bone itu dikabulkan oleh Dewata. Di seluruh kerajaan turun hujan ringgik. Di mana-mana terlihat uang ringgik berserakan. Tidak terkira suka-cita rakyat. Mereka berebut memunguti uang ringgik yang jatuh dari langit. Semua orang ingin memperoleh uang ringgik sebanyak-banyaknya. Rakyat miskin yang selama hidup tenang dan damai tiba-tiba disibukkan dengan aktitas memungut uang di jalanan. Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara bergembira atas turunnya hujan ringgik.

Rakyat Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara berpikir bahwa dengan uang ringgik mereka dapat membeli apa saja. Makanan yang lezat, pakaian yang indah, sawah, rumah, dan apa saja, tentu dengan mudah dapat dibeli dengan uang ringgik. Penduduk Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara bersuka-cita atas dikabulkannya doa mereka. Mereka berpikir Tuhan sangat sayang kepada Kerajaan Bone sehingga setiap keinginan rakyat selalu terkabulkan.

Semua orang sibuk memungut uang ringgik. Orang yang paling banyak mengumpulkan uang ringgik tentu saja menteri yang rakus itu. Ia memerintahkan semua pengawalnya, prajurit, dan pembantunya untuk mengumpulkan uang ringgik itu. Uang ringgik yang dipungut dari jalan, alun-alun, pasar, lapangan, dan sebagainya disimpan dalam beberapa gudang yang besar. Menteri itu berpikir bahwa uang itu tidak akan habis dibelanjakan olehnya dan oleh keturunannya. Mungkin sampai keturunan yang ketujuh, uang itu masih cukup banyak.

Berdasarkan cerita rakyat Kerajaan Bone, rakyat Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara segera mengadakan pesta pora karena memiliki uang melimpah. Mereka tidak sayang membelanjakan uangnya karena masih lebih banyak lagi uang ringgik yang dimilikinya. Siang-malam diadakan berbagai macam pertunjukan. Makanan yang paling mahal dihidangkan dalam pesta itu. Bertong-tong minuman keras disajikan. Dengan demikian, sebagian besar orang di Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi mabuk.

Pesta pora itu sudah berlangsung beberapa hari. Tidak ada orang yang sempat menengok sawahnya. Tidak ada orang yang merasa perlu untuk menggembalakan ternaknya. Tidak pula ada orang yang menjual makanan, buah-buahan, atau barang lain. Pendeknya, tidak ada orang yang merasa perlu bekerja. Ya, mengapa harus bekerja? Bukankah uang mereka sudah berlimpah ruah? Rakyat Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara terbuai oleh hujan uang sehingga mereka menjadi manusia malas.

Tentu saja semua harus ada akhirnya. Pesta pora di Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara itu juga berhenti dengan sendirinya. Mula-mula orang kehabisan minuman keras. Maka diutuslah beberapa orang untuk membeli minuman keras di pasar. Celakanya, pasar itu tutup. Tidak ada orang yang berjualan di sana. Semua pedagang di pasar Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara pergi ke pesta. Demikian juga, ketika orang kehabisan makanan yang dihidangkan, tidak ada lagi orang yang berjualan makanan atau bahan makanan.

Kerajaan Bone Kacau

Keadaan yang paling menggemparkan ialah bahwa tidak ada orang di Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara yang mau menerima uang ringgik. Orang yang mempunyai bahan makanan, sayuran, atau buah-buahan, tidak mau menerima uang ringgik sebagai alat penukar. Ia sendiri sudah cukup banyak memiliki uang ringgik jadi merasa tidak perlu menukarnya dengan bahan makanan. Lagi pula bahan makanan makin sedikit tersedia di Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara sehingga semua pedagang makanan enggan menjual persediaan bahan makanan yang dimiliki.

Demikian juga, para pedagang Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara yang biasanya berjualan pakaian, bahan bangunan, hewan, atau apa saja, tidak ada yang mau menjual barangnya. Dengan lain perkataan, uang ringgik itu tidak laku. Uang ringgik yang turun dari langit, yang banyak diperebutkan orang dulu, kini tidak ada lagi harganya. Rakyat Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami masalah baru dalam hal berbelanja.

Keadaan rakyat Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi semakin buruk. Orang mulai banyak yang melakukan pencurian, perampokan, perampasan, penggarongan, kadang-kadang disertai pembunuhan. Menteri yang rakus itu juga tidak berdaya. Uang ringgiknya yang bergudang-gudang itu tidak dapat digunakan untuk membeli apa pun. Pelan-pelan ia menyesal karena terlalu banyak menyimpan uang di gudang dan tidak memiliki cadangan bahan makanan untuk dirinya dan keluarganya di rumah.

 Rakyat Bone yang dulu terkenal baik budi, kini banyak yang menjadi penjahat. Anehnya, para penjahat itu tidak ada yang mencuri atau merampok uang. Penjahat itu sendiri banyak mempunyai uang ringgik. Para penjahat tersebut banyak yang mencuri bahanbahan makanan. Sepiring nasi atau secangkir minuman kadang-kadang dapat menyebabkan orang saling membunuh di warung makan.

Cerita legenda dari Kerajaan Bone menyebutkan bahwa dalam keadaan yang seburuk itu, orang masih saja tidak ada yang mau bekerja. Dulu mereka bekerja untuk mencari uang. Kini mereka sudah banyak mempunyai uang. Jadi mengapa harus bekerja? Semua orang ingin mendapatkan apa yang diperlukan dengan jalan membeli. Semua orang ingin menjadi pembeli. Tidak ada yang mau menjadi penjual di Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara.

Demikianlah keadaan rakyat Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara makin lama makin menyedihkan. Persediaan beras dan bahan makanan lain cepat menjadi habis. Tidak ada orang yang mau bercocok tanam lagi. Hal ini tentu saja mengakibatkan terjadinya kelaparan dimana-mana. Setiap hari ribuan orang mati karena kelaparan di ibukota Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara. Uang ringgik ternyata sama sekali tidak berguna. Tentu saja tidak ada orang yang dapat memakan uang ringgik itu.

Memperbaiki Kerajaan Bone

Melihat kenyataan ini, raja Bone sangat susah. Berkali-kali ia berusaha untuk mengatasi keadaan buruk ini. Usaha itu tidak pernah berhasil. Baginda meminta kepada semua penasihatnya untuk menyumbangkan pikirannya. Setiap menteri di Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara dimintai pendapatnya. Semua kaum cerdik-pandai di Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara telah diundang untuk mengatasi masalah ini namun tidak satupun orang pandai yang mampu menjawab.

Hingga pada suatu hari, datanglah seorang tua dari kampung menghadap baginda. Ia berkata bahwa tadi malam bermimpi. Barangkali makna mimpi itu dapat menjadi jalan keluar. “Apa mimpimu?” tanya baginda.

“Hamba bertemu dengan kakek hamba. Saya mendengar kakek hamba itu berkata bahwa hanya dengan bekerja keras dan tekun orang dapat memperoleh rezeki dan kebahagiaan. Kata kakek, itulah aturan Dewata, sejak dahulu sampai kapan pun.”

Mendengar cerita orang tua itu, baginda tertegun. Sekarang baru diingatnya bahwa rakyat selama ini tidak ada yang mau bekerja. Uang ringgik yang berlimpah-limpah itu telah merusak semangat rakyatnya. Baginda memerintahkan kepada rakyatnya untuk kembali kepada pekerjaannya. Barangsiapa lalai melakukan pekerjaannya akan mendapat hukuman berat.

Kemudian dinyatakan bahwa semua uang ringgik tidak berlaku lagi. Rakyat dilarang berjual-beli dengan menggunakan uang ringgik. Demikianlah, semua orang kembali kepada pekerjaannya masing-masing. Penduduk Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara yang menjadi petani mulai lagi mengerjakan sawahnya. Rakyat Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara yang menjadi pedagang kembali menjajakan dagangannya. Warga Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara yang menjadi guru kembali ke kelas untuk mengajar murid-muridnya.

Menurut kisah legenda Kerajaan Bone di Provinsi Sulawesi Tenggara, atas kuasa Dewata semua uang ringgik berubah menjadi batu yang tidak berharga. Semua penjahat di Kerajaan Bone Provinsi Sulawesi Tenggara juga dihukum berat. Di manamana orang berusaha untuk berbuat kebajikan dan tolong-menolong. Mereka yang kaya membantu yang miskin, yang lebih memberi kepada yang kurang. Berkat tingkah laku terpuji rakyatnya, perlahan-lahan Tuhan mengembalikan Kerajaan Bone kepada masa kejayaannya.

sumber : http://agussiswoyo.com/cerita-rakyat/kisah-legenda-hujan-uang-ringgik-yang-membawa-bencana-bagi-rakyat-kerajaan-bone-di-sulawesi-tenggara/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua
Makanan Minuman Makanan Minuman
Papua

Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara
- -
-

Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara
- -
-

Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak, juga dikenal sebagai Dakon, adalah permainan tradisional yang memiliki berbagai sebutan di seluruh Indonesia. Permainan ini termasuk dalam kategori permainan papan dan telah ada sejak zaman kuno, menjadikannya salah satu permainan tertua di dunia. Congklak dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah, seperti dhakon di Jawa, dentuman lamban di Lampung, dan makaotan di Sulawesi, menunjukkan keberagaman budaya yang ada di Nusantara [S2][S3][S4]. Sejarah Congklak menunjukkan bahwa permainan ini telah dimainkan oleh nenek moyang di Indonesia sejak lama, dengan bukti bahwa istilah dan variasi permainan ini muncul di berbagai daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki kebudayaan Melayu [S3][S4]. Dalam konteks ini, Congklak tidak hanya menjadi sekadar permainan, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Bahan yang digunakan dalam permaina...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Jamu: Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan Kebanggaan Indonesia
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Jawa Tengah

Jamu: Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan Kebanggaan Indonesia Identitas dan Asal-Usul Jamu tradisional merupakan warisan kesehatan asli Indonesia berupa ramuan herbal yang diracik dari bahan-bahan alami [S1][S3]. Sebagai sistem pengobatan tradisional, jamu telah dipraktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya nasional [S1][S2]. Praktik ini mencakup pengetahuan meracik, filosofi kesehatan, hingga aspek sosial-budaya yang menyertainya. Sejarah jamu berpusat di Jawa, dengan Kota Surakarta (Solo) sebagai salah satu episentrum utama yang masih aktif memproduksi dan melestarikan tradisi ini [S4]. Akar tradisi jamu dapat ditelusuri hingga era Kerajaan Mataram, di mana pengetahuan pengobatan herbal telah menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi [S6]. Hingga kini, Jawa tetap menjadi daerah asal dan pusat budaya jamu yang paling kuat [S2][S6]. Bukt...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Tenun Sumba: Simbol Kehidupan dalam Setiap Helai Benang
- -
-

Tenun Sumba: Simbol Kehidupan dalam Setiap Helai Benang Identitas dan Asal-Usul Tenun Sumba merupakan kain tradisional yang berasal dari Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur [S1][S2]. Kain ini dikenal sebagai wastra yang diolah menggunakan pewarna alami dengan proses pengerjaan yang cukup panjang, berkisar antara enam bulan hingga tiga tahun [S3]. Keberadaan tenun Sumba tidak hanya sebagai karya seni tekstil, tetapi juga menjadi simbol identitas masyarakatnya yang mencerminkan kearifan lokal setempat [S2]. Sejarah tenun Sumba berkaitan erat dengan tradisi lisan masyarakatnya yang tidak mengenal tradisi tulis di masa lalu [S5]. Berdasarkan sastra lisan yang diwariskan turun-temurun dalam kepercayaan Marapu, nenek moyang masyarakat Sumba diyakini sebagai pendatang yang memasuki pulau ini secara bergelombang melalui beberapa titik, seperti Tanjung Sasar, Muara Sungai Pandawai, Muara Sungai Wulla, dan pantai selatan Pulau Sumba [S5]. Dalam Lii Marapu (sabda leluhur), diungkapka...

avatar
Kianasarayu