Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Timur Kediri
Legenda Gua Ngerit
- 10 Juli 2018
Pada jaman dahulu, konon menurut yang empunya cerita, adalah seorang puteri yang cantik jelita, yang tinggal di tengah-tengah hutan belantara, di tepi sebuah sungai yang sangat jernih airnya. Sang putri rupawan itu, Putri Ngerit namanya. Konon kabarnya sang putri nan can­tik jelita ini berasal dari desa Pucung, daerah Kediri. Demikianlah kata sahibul hikayat, sang putri rupawan ini adalah putera seorang raja dari Kediri.
 
Sang putri mempunyai saudara berjumlah empat orang, di antara saudara-saudaranya, dia adalah satu-satunya putera raja Kediri yang dilahirkan sebagai seorang wanita. Sedangkan saudaranya yang lain ke­semuanya adalah pria.
 
Saudaranya yang sulung oleh sang ayahanda raja, dinobatkan menjadi raja yang akan menguasai tanah Jawa bagian utara. Saudaranya yang nomor dua dinobatkan menjadi raja yang menguasai tanah Jawa bagian sebelah timur. Sedangkan yang nomor tiga dinobatkan menjadi raja yang menguasai tanah Jawa bagian sebelah barat. Adapun Puteri Ngerit sebagai putera bungsu sang raja, dinobatkan menjadi raja yang akan menguasai laut Selatan. Demikianlah harapan ayahanda raja Kediri. Sang Puteri ini akan menguasai segala makhluk halus yang ada di laut Selatan. Sang Puteri yang cantik jelita ini akan memerintah jin, setan, peri, prayangan, di laut selatan. Kalau sekarang Sang puteri rupawan ini berada di sebuah hutan rimba belantara, sebenarnya Sang Puteri sedang bertapa, mengheningkan cipta, karsa dan rasa, agar supaya bisa menak­lukkan segala macam makhluk halus, jin, setan, peri, prayangan yang ada di lautan selatan.
 
Konon terkisahlah, di desa Pakel, Watulima, berdiamlah seorang demang, demang Tangar namanya. Demang Tangar masih berdarah bang sawan, keturunan bangsawan, Mbayat, Banten, Jawa Barat. Sang Demang sampai ke tlatah tersebut, konon seorang pelarian dari daerah Pacitan. Sebagai seorang bangsawan yang sangat mencintai agama Islam, Sang Demang ingin mendirikan sebuah mesjid.
 
Maka pergilah sang Demang ke hutan belantara untuk mencari kayu yang sangat baik untuk bahan-bahan bangunan mesjid yang ia kehendaki. Memang lain dari pada yang lain, Sang Demang mencari dan memilih kayu hutan justru pada malam hari, karena pada waktu inilah yang dianggapnya saat yang paling tepat, ketika suasana alam menjadi tenang, tenteram dan damai. Dengan demikian Sang Demang dapat memilih kayu yang sangat baik untuk mesjid.
 
Demikianlah, pada suatu malam, pergilah sang Demang Tangar kehutan untuk memilih kayu yang baik untuk membangun sebuah mes­jid, seperti yang diimpikannya.
 
Pada waktu itu betapa terkejut ketika tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara tembang yang sangat merdu, dan sangat menyentuh hati. Tembang tersebut didendangkan oleh seorang wanita. Raden Mas Demang Tangar tidak begitu percaya akan pendengarannya. Kemudian ia berusaha keras untuk dapat menangkap suara tembang itu sejelas-jelasnya. Dan tiba-tiba terdengarlah suara yang riuh rendah seperti suara orang yang sedang ber main musik dengan lesung dengan irama yang tidak menentu dan kacau balau. Raden Mas Demang Tangar menjadi sangat marah. Karena kema­rahannya ini Raden Mas Demang Tangar mengucapkan kutuknya.
 
“Hai orang yang sedang bermain musik dengan lesung. Ini bukan waktunya. Hai wanita yang tidak tahu adat dan sopan santun. Dengarlah, engkau kelak akan menjadi perawan tua dan tidak akan menemukan jodohmu”.
 
Oleh sebab itu daerah tersebut hingga kini diberi nama desa Mbawuk sebab wanita-wanita sampai berusia tua tidak kawin (Bawuken). Demikianlah hingga kini banyak perawan-perawan yang tidak kawin di daerah itu.
 
Pada pagi buta itu jelas kelihatan sebuah gunung yang berada di sebelah utara dan kemudian gunung tersebut diberi nama gunung Wiling. Sebab pada waktu itu Raden Mas Demang Tangar miling-miling (menyelidiki).
 
Setelah mengucapkan kutuknya, Raden Mas Demang Tangar kemudian turun dari gunung Wiling. Ia berjalan lurus ke barat tanpa me­lihat kebelakang dan tanpa menoleh lagi. Sehingga ia tidak tahu kalau ada seseorang yang dijumpainya dalam perjalanannya. Dia adalah seorang duda yang pada waktu itu sedang mencari suara tembang yang diden­dangkan oleh sang putri tadi.
 
Karena Ki Demang Tangar begitu terpusat perhatian pada suara tembang yang sangat menyentuh hatinya itu, tanpa disadarinya maka ia bertabrakan dengan sang duda tadi. Mereka berdua sangat terkejut (jingkat), oleh sebab itu daerah tersebut disebut dengan daerah Jingkat. Di daerah ini banyak batu-batu yang besar-besar, salah sebuah batu yang besar diberi nama Watu Duda. Terletak di desa Pakel Kecamatan Watu-lima.
 
Hari pun menjelang pagi, jalan-jalan semakin jelas kelihatan. Demikian juga suara tembang sang putri itu semakin jelas terdengar, Akhirnya Raden Mas Demang Tangar menemukan juga tempat sang putri tersebut. Puteri yang cantik jelita, Lemah lembut sendirian tidak ada se­orang pun yang menemaninya (melik-melik). Oleh sebab itu desa itu se­karang diberi nama desa Melikan.
 
Dengan hati yang terpacu Raden Mas Demang Tangar mendekati sang puteri cantik jelita. Karena tidak kuat menahan perasaan hatinya maka berkatalah ia,
 
“Duh Tuan Putri cantik jelita, siapakah nama Tuan Putri ? Akan ke manakah Tuan Putri dan siapakah gerangan yang akan mengiring Tuan Putri?”.
 
Sang putri menjawab,
 
“Hamba adalah seorang pengembara dan di sini hamba bertapa, menempa jiwa raga, karena diperintahkan ramanda agar hamba mengu­asai dan memerintah jin, setan, peri, perayangan, ilu-ilu banaspati, gendruwo, tetekan, condong rindong-rindong dan segala macam makhluk halus yang menghuni laut selatan. Adapun nama hamba, hamba mohon ma’af dengan berat hati hamba tidak dapat mengatakan”
 
Akhirnya Raden Mas Tangar menarik nafas panjang dan berkata dalam hati.
 
“Hai gadis yang secantik jelita ini bakal sendirian merajai segala macam jin. Seumpama ia mau hidup bersama denganku, kebahagiaan hidupku di dunia ini tak terkatakan. Karena akan selalu bersanding dengan seorang yang cantik jelita.”
 
Raden Mas Demang Tangar tak dapat mengucapkan apa-apa, se­akan-akan ia terpaku dan membisu. Ia memandang sang putri itu dari atas kepala sampai kaki. Lamunan hatinya dan jangkauan cita-citanya yang demikian menggelora di dadanya akhirnya mendorongnya untuk bertanya.
 
“Duh Tuan Putri yang cantik jelita, Tuan Putri hidup sendirian di tengah hutan, menyiksa badan, apalagi di sini banyak gangguan binatang-binatang buas. Jika Tuan Putri berkenan hamba mengharap dengan sangat, Tuan Putri sudi singgah di tempat saya, di sebelah selatan sana di desa Tangar. Di sana Tuan Putri akan dapat menjumpai banyak teman’
 
Sang putri menjawab, “O, kisanak, sangat berat mengemban perintah ayahanda. Sebagai seorang wanita sejati lebih baik hamba mati dimakan harimau yang buas dari pada hamba menginkari janji, tidak memenuhi perintah ayahanda. Toh kalau sekarang hamba harus hidup berada di tengah hutan, itu sudah menjadi bagian perjalanan hidup hamba”.
 
Akan tetapi Raden Mas Demang Tangar terus membujuk sang putri. Akhirnya ia memaksa sang putri mau tidak mau akan diboyong ke Tangar.  Sang putri mencari daya upaya agar supaya usaha Ki Demang bisa digagalkan. Sang putri mempunyai sebuah permintaan, ia mau diboyong Raden Mas Demang Tangar asalkan dapat mewujudkan sebuah pertapaan yang indah dengan bunga-bungaan yang harum baunya.
 
Raden Mas Demang Tangar bersemadi dengan khidmatnya mo­hon pada Sang Maha Pencipta, agar supaya permintaan sang putri terse­but dapat terlaksana. Dan rupanya permohonan Raden Mas Demang Tangar terkabul. Sebuah pertapaan yang sangat indah, dengan taman yang penuh dengan anekaragam bunga yang harum baunya, tercipta seketika itu juga. Harumnya bau bunga menyebar mewangi (sumerit). Oleh sebab itu tempat tersebut kemudian diberi nama Gua Ngerit.
 
Namun sang putri masih mencari upaya agar supaya maksud Ra­den Mas Demang Tangar itu tidak terlaksana. Ia berjanji masih akan men jalankan tapa 40 hari lamanya. Sesudah selesai bertapa sang putri ber­sedia diboyong ke Tangar. Raden Mas Demang Tangar merasa puas akan janji sang putri tersebut. Namun sebenarnya ini hanyalah tipu daya sang putri belaka.
 
Diambil dari ceritera bahasa Jawa, daerah Trenggalek.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Leo Indra Ardiana. Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur. Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, (1982-1983), 1984, hlm. 84-86.
 
Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Gua Ngerit, jawa timur, jawatimuran, Kabupaten Kediri, kediri, LegendaKediri, Kediri [Kota], Th. 1982, Trenggalek
 
Sumber: http://jawatimuran.net/2012/09/05/gua-ngerit/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker