Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Timur Ngawi
Legenda Desa Sirigan
- 11 Juli 2018
Desa Sirigan merupakan salah satu desa di Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur yang terdiri dari 3 (tiga) Dusun/Rukun Warga (RW) dan 18 Rukun Tetangga (RT). Berdasarkan kisah-kisah yang diceritakan oleh sesepuh desa, Desa Sirigan ini terdiri dari Dusun Sirigan dan Dusun Melok.Dalam perkembangannya, Dusun Melok dibagi menjadi dua, yaitu Dusun Melok Kulon dan Dusun Melok Wetan. Ketiga dusun tersebut memiliki legendanya masing-masingberdasarkan kejadian awal dalam pemberian nama tersebut.
Beberapa sumber menceritakan bahwa Putri Sukawati adalah putri dari Raden Adipati Kartanegara, yaitu Bupati Ngawi ketiga yang menjadi pemimpin Ngawi dari tahun 1834-1837 yang sekarang dimakamkan di Sine. Sedangkan Panembahan Jimbun berasal dari Kerajaan Kartasura. Putri Sukawati melakukan perjalanan ke arah timur karena dikejar-kejar oleh Panembahan Jimbun yang jatuh cinta (gandrung-jawa) kepada Putri Sukawati.
Sumber lain menceritakan bahwa legenda Desa Sirigandimulai dari kisah cinta antara seorang putri bernama Sukawati dengan Panembahan Jimbun dari Kerajaan Kartasura. Hubungan mereka yang tidak memperoleh restu dari kedua orang tuanya menyebabkan Putri Sukawati danPanembahan Jimbun memutuskan untuk pergi meninggalkan Kerajaan Kartasura dengan berjalan ke arah matahari terbit, yaitu ke arah timur.
Perjalanan Putri Sukawati dan Panembahan Jimbun melewatibeberapa daerah, yaitu Manggis, Dung Waru dan Dung Merak yang kemudian sampai di suatu daerah yang terletak di sebelah utara Dung Waru. Perjalanan sepasang kekasih tersebutterhenti ketika kuda yang mereka tunggangi mendadak tidak mau berjalan, berteriak-teriak dan berputar-putar (nyirig-nyirig). Panembahan Jimbun memutuskanuntuk turun dari kuda tersebut. Dalam peristirahatannya sejenak, Sang Putri mengatakan bahwa akan ada perkembangan zaman di daerah tersebut, sehingga daerah tersebutdiberinama “Sirigan”.
Menurut cerita dari sesepuh Dusun Sirigan, Samadiselaku mantan Kepala Dusun Sirigan mengatakan bahwa sebelum melanjutkan perjalanannya,Putri Sukawati danPenembahanJimbun singgah disendang atau kolam pemandian di Dusun Sirigan yang berada di pinggir sungai Sirigan. Di sendang tersebut,penembahan Jimbunmenancapkan cemetinya yang terbuat dari menjalin yang pada akhirnya cemeti tersebut tumbuh menjadi pohon menjalin yang masih terus tumbuh hingga sekarang.
Pohon menjalin terkenal keramat oleh masyarakat Desa Sirigan, tidak sembarang orang boleh menebang pohon menjalin tersebut. Konon katanya, barangsiapa yang menebang pohon menjalin tersebutakan mendapatkan musibah atau malapetaka yang tidak terduga. Hal tersebut menyebabkan pohon menjalin tersebut tumbuh lebat hingga sekarangdan tidak ada satu orang pun yang berani menebangnya. Bukti lain jika Penembahan Jimbun dan Putri Sukawati singgah di Sendang Sirigan adalah di sendang tersebut ditemukan tapal kuda (sepatu kuda) dan Ndali Rangah (pengendali/pemacu kuda). Benda tersebut sekarang ditanam dan dicor didekat mata air Sendang Sirigan ketika sendang tersebut direnovasi pada sekitar tahun 1970.Menurut cerita Kepala Dusun Sirigan, Joko Puryanto, terdapat keanehanpada pohon menjalin tersebut.Apabila pohon menjalin itu tumbuh subur maka kondisi masyarakat Dusun Sirigan ayem tentrem, namun apabila pohon menjalin itu gersang maka kondisi masyarakat Dusun Sirigan selalu dihadapkan dengan berbagai masalah.
Setelah beberapa saat Panembahan Jimbun dan Dewi Sukowati beristirahat di sendang Sirigan, mereka berduamemutuskan untuk melanjutkan perjalanannyakearah timur.
 
CIMG6138.JPG
           Gambar 1. Sendang Sirigan tempat istirahat Penembahan Jimbun dan Putri Sukowati sebelum melanjutkan perjalanan ke arah timur
 
Kecantikan Putri Sukawati dan ketampanan Panembahan Jimbun menyebabkan sepasang kekasih tersebut mendapat banyak perhatian dari orang disepanjang perjalanannya. Berita mengenai keduanya menyebar cepat dari mulut-kemulut, hingga pada suatu saat ketika di perjalanannya, banyak orang yang menunggu sepasang kekasih tersebut dari kejauhan hanya untuk melihat kecantikan Putri Sukawati dan ketampanan Panembahan Jimbun. Orang-orang yang melihat dari kejauhan terus menunggu sepasang kekasih itu. Di kejauhan terlihat masih kecil dan samar-samar, semakin lama semakin mendekat dan semakin terlihat jelas, lalu orang-orang mengatakan “wis ketok melok-melok” yang dalam bahasa Indonesia berarti sudah terlihat jelas. Sang Putri yang mendengar perkataanorang-orang lalu menyahut bahwa daerah ini diberi nama “Melok”.
       Setelah singgah di sendang Melok Wetan, Putri Sukawati dan Panembahan Jimbun melanjutkan perjalanan ke arah timur dan sampailah mereka di  tempat penjual minuman. Sang Putri merasa haus dan akhirnya meminta minuman kepada penjual.
Menurut cerita dari Samadi, perjalanan Penembahan Jimbun dan Dewi Sukowati juga singgah di sendang Melok Wetan. Dahulu mata air di sendang tersebut memiliki airyang sangat jernih dan sangat melimpah. Penembahan Jimbun sempat memandikan kuda di sendang tersebut,sementara Putri Sukawati beristirahat dibawah pohon yang sangat rindang di dekat sendang. Kondisi sendangsaat ini dengan dahulu jauh berbeda.Saat ini sendang dalam keadaan kering kerontang karena munculnya kekeringan dan disisi lain sendang tersebut sudah tidak digunakan lagi. Tradisi turun-temurun bahwa setiap akan ada kegiatan bersih desa, sendang itu dibersihkan dari dedaunan, lumpur yang terdapat dalam kolam itu juga dikeluarkan agar sendang itu tidak dangkal. Perjalanan Putri Sukawati dan Panembahan Jimbun tidak selesai begitu saja, namun mereka melanjutkan perjalanan ke daerah yang masih berada disekitar Desa Sirigan.

 
 
 
 
 
Gambar 2.  Sendang Melok tempat Panembahan Jimbun dan Putri Sukawati istirahat sambil memandikan kuda
 


 

          Setelah Putri Sukawati meminumnya, ia berkata “klegen” yang artinya terlalu manis, karena ternyata air yang diminum Sang Putri adalah air yang berasal dari pohon kelapa yang sekarang disebut legen. Guna memberi tanda perjalanannya di tempat tersebut, maka Putri Sukawati memberi nama “Klagen”.
Putri Sukawati dan Panembahan Jimbun melanjutkan perjalanan denganmemutar ke selatan dikarenakan perjalanannya terhalang oleh sungai. Selain itu, apabila mereka tetap melanjutkan perjalanan ke utara, mereka akan menemui lokasi berkumpulnya para perampok. Gerombolan perampok itu mendiami hutan pohon beringin yang berukuran besar, berakar gantung (Sulur) dan jumlahnya ribuan (Sewu).Putri Sukawati akhirnya menyebut daerah tersebut dengan “Sulur Sewu”. Dalam perjalanannya keselatan, mereka berdua menjumpai pohon besar dan memutuskan untuk beristrirahat sejenak di bawah pohon tersebut. Pohon tempat peristirahatan mereka tersebut diabadikan oleh masyarakat setempat hingga sekarang yang kemudian disebut “Punden”.
Putri Sukawati dan Panembahan Jimbun selanjutnya menyeberangisungai “Andong” dan sampailah mereka di bawah pohon “Kepuh”. Selain mereka merupakan sepasang kekasih yang berparas cantik dan tampan, kuda yang mereka tunggangi juga menarik perhatian masyarakat di daerah tersebut karena kuda yang besar itu dapat mengangkat kakinya seolah kuda tersebut akan berdiri dan kemudian menggaruk-garuk tanahsehingga banyak warga yang berdatangan untuk membuktikannya. Masyarakat berkata “neker-neker” saat melihat kuda tersebut. Putri yang mendengar hal tersebut kemudian menyahutbahwa tempat tersebut ia beri nama “Poteker”. Putri menjelaskan bahwa pemberian nama tersebut adalah sebagai petunjuk dan tanda bahwa Putri Sukawati dan Panembahan Jimbun pernah datang ke tempat tersebut dalam perjalanannya ke arah timur. Masyarakat yang datang sudah mengerti mengenai hal itu, maka dari ituPutri Sukawati memberi nama “Kerten”.
Kisah perjalanan merekadilanjutkan dengan berbalik arah ke utara dan tibalah mereka berdua disuatu tempat  untuk beristirahat. Dalam peristirahatannya, keduanya saling memuji bahwa meskipun perjalanan telah jauh dari Kartasura dan mengalami banyak rintangan, tetapi keduanya tetap setia yang menunjukkan kemantapan atau keteguhan hati untuk bersatu selamanya. Sebelum melanjutkan perjalanan, sepasang kekasih tersebut berkata bahwa tempat tersebut diberi nama “Teguhan”.
Perjalanan Putri Sukawati dan Panembahan Jimbun berlanjut menuju Bangsewu (Gebang sewu) Desa Semen. Ketika mereka merasa lelah berjalan dalam pengembaraannya (lelono-jawa), Sang Putri memutuskan untuk berhenti (jedug-jawa) di tepi Sungai Ketonggo. Melihat sungai besar yang arusnya deras dan dalam, keduanya termangu dan ragu apakah mereka bisa melalui sungai tersebut atau tidak. Mereka terus nekat menyeberangi sungai bersama kudanya. Ketika sampai ditengah-tengah sungai, tiba-tiba kuda yang mereka tunggangi masuk dalam pusaran air yang berarus sangat kuat sehingga Putri Sukawati panik dan tanpa sengaja tangan sang putri terlepas dari pegangan Panembahan Jimbun dan putripun hilang disungai itu. Panembahan Jimbun yang selamat dari arus tersebut berusaha mencari Putri Sukawati namun tidak mendapatkan hasil sehingga dengan perasaan kehilangan yang dalam, Panembahan Jimbun menyampaikan ke penduduk setempat bahwa wilayah itu diberi nama “Kedungputri”.

 

Panembahan Jimbun dengan gundahnya bersumpah untuk tetap mempertahankan cinta dan kesetiaannya pada Putri Sukawati. Panembahan Jimbun mengatakan bahwa dia tidak akan menikah seumur hidupnya (madad-jawa). Kemudian Panembahan Jimbun berbalik arah kembali ke Kartasura untuk mengabarkan hilangnya Putri Sukawati dan berakhirlah legenda Desa Sirigan.
 
Sumber: http://desa-sirigan.blogspot.com/2016/08/legenda-desa-sirigan.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu