Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur Kabupaten Tengah Utara
Legenda Bukit Fafinesu
- 12 Desember 2014

Bukit Fafinesu terletak di sebelah utara Kota Kefamenanu, Kabupaten Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Fafinesu dalam bahasa setempat berarti babi gemuk. Dulunya, bukit ini belum mempunyai nama. Namun, setelah terjadi peristiwa ajaib dan mengharukan di bukit itu, maka dinamakanlah Bukit Fafinesu. Peristiwa apakah yang terjadi di bukit itu? Temukan jawabannya dalam

cerita Legenda Bukit Fafinesu berikut ini!

* * *

Alkisah, di pedalaman Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, ada tiga orang anak yatim piatu. Mereka adalah Saku dan dua orang adiknya Abatan dan Seko. Ayah mereka meninggal dunia karena terguling ke jurang ketika sedang berburu babi hutan beberapa tahun yang lalu. Selang tujuh bulan kemudian, ibu mereka menyusul sang Ayah karena kehabisan darah ketika sedang melahirkan si Bungsu. Untungnya, nenek mereka masih hidup sehingga ada yang merawat Seko. Namun, ketika Seko berumur dua tahun, sang Nenek pun meninggal dunia karena dimakan usia. Sejak itulah, ketiga anak yatim tersebut harus menghidupi diri mereka. Meskipun masih ada keluarga ibunya yang bersedia memelihara si Bungsu, namun lantaran memiliki rasa tanggung jawab, si Sulung mengambil alih peran orang tuanya untuk merawat dan mendidik kedua adiknya. Mereka ingin belajar hidup mandiri tanpa harus bergantung kepada orang lain. Waktu terus berjalan. Abatan tumbuh menjadi remaja yang rajin dan cerdas. Tanpa disuruh oleh kakaknya, ia rajin menanam jagung dan ketela di ladang. Ia juga rajin mencari kayu bakar dan memasak untuk kakak dan adiknya. Si Bungsu pun kini telah berumur lima tahun dan menjadi anak yang penurut. Ia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sungguh bahagia hati Saku melihat kedua adiknya tumbuh menjadi orang yang baik. Walaupun hidup miskin, mereka senantiasa rukun dan bahagia.

Suatu malam yang sunyi, si Bungsu tidak bisa memejamkan matanya. Tiba­tiba hatinya diselimuti kerinduan yang mendalam terhadap kedua orang tuanya. Sejak bayi, ia tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ia pun bertanya kepada kakak sulungnya tentang keberadaan kedua orang tua mereka.

“Kaka Saku, ke manakah ayah dan ibu pergi? Kapan mereka akan pulang? Adik sangat merindukan

mereka.” Wajar memang jika si Bungsu bertanya demikian karena kedua kakaknya tidak pernah menceritakan mengenai keberadaan kedua orang tuanya. Mereka tidak ingin melihat si Bungsu menjadi sedih lantaran mengetahui keberadaan kedua orang tua mereka. Untuk itulah, Saku pun berusaha menghibur adiknya.

“Ayah dan ibu sedang pergi jauh, Adikku! Sebentar lagi mereka pulang membawa daging rusa yang lezat dan anak­anak babi,” kata Saku seraya mendongeng hingga si Bungsu tertidur pulas. Setelah itu, giliran Saku yang tidak bisa memejamkan mata. Ia sedih melihat adik bungsunya. Malam itu, langit di angkasa tampak cerah. Rembulan bersinar terang dan bintang­bintang pun berkelap­kelip. Saku mengambil serulingnya lalu berjalan menuju ke sebuah bukit tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Suara­suara binatang malam mengiringi perjalanannya hingga tiba di puncak bukit. Di atas bukit itu, Saku berdiri sambil memandang langit.

“Ayah, Ibu! Kami sangat merindukan kalian. Mengapa begitu cepat kalian meninggalkan kami,” keluh

Saku sambil mendesah. Tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya dan mengalir membasahi kedua pipinya. Ia pun tidak bisa berbuat apa­apa. Ia kemudian meniup serulingnya dan menyanyikan lagu kesukaannya.

Ama ma aim honi

Kios man ho an honi

Nem nek han a amnaut

Masi ho mu lo’o

Au fe toit nek amanekat

Masi hom naoben me au toit

Ha ho mumaof kau ma hanik kau

Artinya:

Ayah dan Ibu

Lihatlah anakmu yang datang

Membawa setumpuk kerinduan

Walau kamu jauh

Aku butuh sentuhan kasihmu

Walau kalian telah tiada, aku minta Supaya Ayah dan Ibu melindungi dan memberi rezeki Saku menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Tanpa sepengetahuannya, ternyata ayah dan ibunya mendengar lagu yang indah itu. Roh kedua orang tuanya pun turun dari langit menuju ke bukit itu. Melalui angin malam, roh sang Ayah berkata kepada Saku.

“Anakku, ayah dan ibumu mendengarkanmu. Kami mencintaimu. Meskipun kita berada di dunia yang berbeda, kita tetap dekat.” Seketika itu, Saku jadi terperangah. Ia tidak tahu dari mana datangnya suara itu. Namun ia tahu kalau itu suara ayahnya. Selang beberapa saat kemudian, suara itu terdengar lagi.

“Anakku, besok malam sebelum ayam berkokok, ajaklah adik­adikmu menemui ayah dan ibu kalian di tempat ini. Jangan lupa membawa seekor ayam jantan merah untuk dijadikan korban!” pesan suara gaib itu. Setelah suara itu lenyap, Saku bergegas kembali ke rumahnya dan tidur. Keesokan harinya, ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya semalam kepada adik­adiknya. Betapa gembiranya hati si Bungsu mendengar cerita itu. Ia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan kedua orangtuanya yang selama ini dirindukannya. Pada saat tengah malam, Saku bersama kedua adiknya berangkat ke puncak bukit. Tidak lupa pula mereka membawa seekor ayam jantan merah pesanan kedua orangtua mereka. Tak berapa lama setelah mereka tiba di bukit itu, tiba­tiba angin bertiup sangat kencang. Pepohonan meliuk­liuk dan dedaunan rontok pun beterbangan sehingga menimbulkan suara menderu­deru. Rambut dan pakaian ketiga anak itu melambai­lambai seolah­olah hendak diterbangkan angin. Begitu tiupan angin berhenti, tiba­tiba dua sosok bayangan berdiri di hadapan mereka.

“Ayah, Ibu!” seru Saku saat melihat bayangan itu. Mengerti kedua bayangan itu adalah orangtuanya, si Bungsu segera mendekat ke salah satu bayangan itu dan memeluknya erat­erat.

“Ibu, saya sangat merindukanmu,” kata si Bungsu.

‘Iya, Anakku! Kami juga sangat merindukan kalian. Ibu tidak pernah melupakanmu,” jawab sang Ibu. Suasana di puncak bukit itu menjadi hening. Pertemuan seluruh anggota kelurga kecil itu membawa

perasaan haru di hati mereka. Setelah mereka selesai melepaskan kerinduan, sang Ayah mengajak istri dan ketiga anaknya untuk ke dasar jurang.

“Sekarang marilah kita turun ke jurang. Di sana kita akan mengorbankan ayam jantan merah yang

kalian bawa dan kemudian mengambil dua ekor babi,” ujar sang Ayah. Setibanya di dasar jurang, Seko segera menyembelih ayam jantan itu. Tatkala darah ayam itu menyentuh bumi, tiba­tiba dua ekor babi gemuk muncul di tengah­tengah mereka. Betapa senangnya ketiga anak itu. Mereka segera mendekati kedua babi itu dan mengelus­elusnya.

“Terima kasih, Ayah, Ibu,” ucap ketiga anak itu serentak.

“Dengarlah wahai, anak­anakku! Peliharalah kedua babi itu baik­baik sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang telah mempertemukan kita di tempat ini,” ujar sang Ayah.

Selang beberapa setelah sang Ayah berpesan, ayam jantan mulai berkokok. Cahaya kemerahan­merahan mulai tampak di ufuk timur pertanda pagi menjelang. Angin pun kembali berbertiup kencang. Pada saat yang bersamaan, bayangan kedua orang tua mereka tiba­tiba lenyap. Saku dan kedua adiknya segera menggiring kedua babi itu pulang ke gubuknya dengan perasaan gembira untuk dipelihara. Sejak itu, ketiga anak yatim piatu itu dan keturunannya menjadikan babi sebagai salah satu hewan peliharaan. Untuk mengenang peristiwa tersebut ketiga anak yatim tersebut menamai bukit itu dengan nama Bukit Fafinesu, yang berarti bukit babi gemuk. Hingga saat ini, Bukit Fafinesu masih dapat disaksikan di sebelah utara Kota Kefamenanu, Kabupaten Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

* * *

Demikian cerita Legenda Bukit Fafinesu dari daerah Nusa Tenggara Timur. Legenda yang menceritakan asal­mula nama Bukit Fafinesu ini masih dipercayai oleh masyarakat pendukungnya. Adapun pelajaran yang dapat dipetik dari cerita ini adalah bahwa dalam persaudaraan, sebagai anak sulung seperti Saku semestinya memiliki rasa tanggungjawab mengasuh adik­adiknya apalagi jika kedua orang tua telah tiada. Sifat tanggungjawab Saku tampak ketika ia memutuskan untuk merawat dan mendidik sendiri adik­adiknya tanpa harus bergantung kepada orang lain.

 

http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/207-Legenda-Bukit-Fafinesu

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Cara menghubungi call center ayopinjam
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.

avatar
Pinjamflexi1999
Gambar Entri
Cara membatalkan pinjaman ayopinjam
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
DKI Jakarta

Cara membatalkan pinjaman ayopinjam Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.

avatar
Pinjamflexi1999
Gambar Entri
Cara membatalkan pinjaman ayopinjam
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Cara membatalkan pinjaman ayopinjam: Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.

avatar
Pinjamflexi1999
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah
Gambar Entri
KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Naskah Nusantara • Sunda Kuno Kidung Lakbok Kisah Kerajaan Banjarpatroman, Ramalan Abadi, dan Kelahiran Wayang Kila Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring.   📜 Sejarah dan asal-usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menja...

avatar
Gulamerah