Para pedagang yang banyak datang dari Semenanjung Arab banyak menimbulkan perubahan dan peradaban baru di tanah air kita khususnya kerajaan Majapahit pada waktu itu. Agama Islam yang di bawah serta cepat sekali meresap di hati rakyat terutama rakyat kecil yang pada mulanya selalu hidup dalam lingkungan kasta dan perbedaan sosial lainya. Pelan tapi pasti kerajaan Majapahit yang dulu di bangun dengan menelan korban harta dan jiwa mulai memudar cahayanya.
Selain disebabkan oleh pengaruh agama Islam terdapat pula faktor lain yang mempercepat keruntuhanya yaitu terpecah belahnya persatuan diantara para pemimpinya. Kerajaan Demak Bintara yang dipimpin oleh salah seorang perwira Majapahit yang telah memeluk agama Islam yaitu Raden Patah lambat laun menampakan kewibawaan nya.
Majapahit hancur berantakan, sebagian besar rakyatnya ikut memeluk agama baru dan sebagaian kecil lainya yang tetap memeluk agama nenek moyangnya. Mereka banyak yang melarikan diri ke daerah lain.
Tempat lainya yang menjadi daerah pelarianya yaitu di sebelah selatan kabupaten Pasuruan, sekarang orang mengenalnya dengan daerah Tengger.
Diantara sekian banyak pelarian dari Majapahit itu terdapat dua orang bekas prajurit Majapahit yang terdampar disebuah hutan yang sekarang lebih terkenal dengan nama desa Sumberejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan. Dua orang itu masing-masing bernama KEBUT dan TOMBRO.
Hutan itu mereka babat untuk di jadikan daerah pemukiman baru. Oleh karena pada saat itu banyak sekali tumbuh pohon pinang maka daerah baru itu lebih terkenal dengan nama jambean ( Jambe = pinang , Jawa ).
Sampai sekarang nama jambean masih ada dan menjadi salah satu pedukuhan desa Sumberejo. Dua orang bekas prajurit itu hidup dengan tenang dan untuk makanya sehari-hari mereka mengelola tanah. Selain hidup bertani Kebut juga membuka bengkel pandai besi. Sejak dulu dia memang terkenal sebagai empu yang mahir dalam membuat keris dan senjata tajam lainya. Barang peninggalan yang berupa paron masih dapat disaksikan dan terletak di sebelah makamnya yang terdapat didalam Banyubiru. Sedangkan Tombro hanya bertani saja tapi namanya lebih menonjol dari pada Kebut.
Pada suatu hari kerbau peliharaan Tombro dilepas dari kandangnya. Sebagaimana kebiasaan setiap hari. Kedua ekor kerbau itu mencari makan sendiri tanpa ditemani oleh tuanya maupun gembala yang seharusnya mengawasinya.
Begitulah kebiasaannya kalau kebetulan binatang-binatang itu tidak di pekerjakan di sawah. Sore harinya pulang sendiri ke kandang yang berdiri di belakang rumah pemiliknya. Tapi pada hari itu ketika Tombro hendak menutup pintu kandang ternyata tidak melihat batang hidungnya kerbau-kerbaunya. Bergegaslah dia berangkat mencari ke hutan yang berada disekitar desanya. Tidak begitu sulit mencarinya sebab dia melacak berdasarkan telapak kaki-kaki kerbaunya. Ternyata kedua ekor kerbau itu sedang asyik berkubang di sebuah kolam kecil yang tidak pernah di pelihara. Tombro berteriak-teriak agar hewan peliharannya itu bangkit dan pulang ke kandang.
Rupanya kerbau-kerbau itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya Tombro mendekat dan Tombro agak terkejut sebab kerbau-kerbau itu ternyata telah terperangkap dalam lumpur. Segera dipetiknya empat daun keladi yang banyak tumbuh disekitarnya. Keempat daun itu dia hamparkan di depan kedua ekor kerbau itu. Sekali lagi Tombro membentaknya.
Tampak kedua ekor kerbau itu bergerak dan ujung kakinya menggapai dau keladi lalu tiba-tiba bangkit dan keluar dari kubangan. Hewan-hewan itu lari terbirit-birit pulang ke kandangnya.
Sepeninggal hewan-hewan peliharaanya Tombro berdiri sejenak di pinggir kolam itu. Dipandangannya kolam itu dan kini dia tidak lagi menyaksikan Lumpur yang keruh tepi sebuah kolam yang penuh air yang jernih sehingga dasarnya yang berpasir itu kelihatan nyata. Bahkan disela-sela ranting yang berada di dasar kolam tampak dua ekor ikan sengkaring sedang asyik berenang kian kemari. Menurut yang empunya cerita kedua ekor ikan itu lambat laun berkembang biak hingga sekarang. Pengunjung pemandian yang kebetulan datang dapat menyaksikan ikan-ikan itu, jumlahnya telah berlipat ganda dan berenang kian kemari seolah-olah berlomba dengan para pengunjung pemandian yang sedang mandi. Dari jernihnya air dasar pasir kelihatan sehingga airnya kelihatan biru.
Dengan ditemukannya kolam ajaib itu maka penduduk Jambean banyak datang menyaksikannya. Sejak itu penduduk memeliharanya dengan baik. Tiap hari orang-orang mandi di kolam itu dan kolam tersebut dinamakan banyubiru.
Kabar tentang ditemukannya kolam aneh itu sempat terdengar oleh Bupati Pasuruan yang bernama Raden Adipati Nitiningrat. Bersama-sama seorang pembesar Belanda yang bernama P.W.HOPLAN (Sesuai dengan prasasti yang tertulis dengan huruf jawa) kedua orang itu ikut pula menyaksikannya.
Kolam itu kemudian dibangun oleh Pemerintah Belanda dengan nama telaga wilis. Telaga ini dibangun terus oleh orang-orang Belanda dijadikan pemandian umum. Untuk memperindah pemandian ini dibuat taman-taman bunga dan dilengkapi dengan berjenis-jenis patung yang diambil dari Singosari.
Selain memelihara kerbau Tombro juga memelihara kera. Setelah wafat pak Tombro dimakamkan didekat pemandian dan kera-kera itu berkembang biak hingga beratus-ratus ekor. Pada waktu pendudukan jepang kera-kera itu habis ditembaki dan sisanya menyingkir ke hutan di dekat desa Umbulan yang terkenal dengan sumber air minumnya.
Sedangkan cerita pak Kebut tidak banyak dibicarakan orang karena dia hanya menekuni pekerjaannya sebagai pembuat alat pertanian. Dia dimakamkan berjajar dengan makam istrinya yang bernama mbok Kainah. Dipinggir kolam renang kolam renang lama disebelah utara tiap hari jum’at orang-orang Tosari banyak berziarah ke makam tersebut. Menurut yang empunya cerita setiap ada orang yang berusaha memindahkan paron yang berada di dekat makamnya maka keesokan harinya paron itu akan kembali lagi ke tempat asalnya.
Kira-kira pada tahun 1980 patung-patung yang banyak bersejarah di taman-taman pemandian itu dikumpulkan disatu tempat dan dilindungi oleh seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan. Tempat itu berada di dalam kompleks pemandian yang sekarang lebih terkenal dengan nama Banyubiru.
Patung-patung itu terdiri dari 11 buah antara lain :
1. 2 volkaring dari Pemda Kabupaten Pasuruan dengan bahasa Belanda bertahun 1921.
2. 1 Prasasti bahasa dan huruf Jawa tahun 1847.
3. 1 Patung Betara Siwa dengan membawa senjata trisula.
4. 1 Patung Ganesha.
5. 1 Patung dua ekor naga berbelit dan lain-lainnya yang kami sendiri tidak bisa menyebutnya.
Prasasti yang tertulis di atas batu pualam dengan huruf jawa itu berbunyi :
Telaga Wilis
Rinangga Winangun arja, dening tuwan P.W. Hoplan minulya tuadhani prasamya nalika panjenengane Kanjeng Raden Adipati Nitiadi ningrat sinengkalan “Wisayaning pandhita kaloking rat”. utawi tahun welandi 1847.
@@@@@@@@@@@
Cerita di atas berdasarkan penuturan orang sumber bernama :
Pak Kasan yang bertempat tinggal di dukuh Jambean, Sumberejo Kecamatan Winongan.
Menurut dia adalah keturunan keempat dari cikal bakal kolam tersebut.
Sumber: http://www.pasuruankab.go.id/cerita-38-legenda-banyubiru.html
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara