Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Bali Yogyakarta
LEGENDA PEMAKAMAN IMOGIRI
- 19 Juli 2018
LINGKUNGAN PEMAKAMAN IMOGIRI
adalah area pemakaman Raja-Raja Mataram Islam beserta keturunannya, yakni Raja-raja yang bertahta di Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Area pemakaman Imogiri terletak di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul dan dibangun pada tahun 1632 oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Menurut cerita legenda rakyat yang dituturkan secara turun temurun  Sultan Agung Hanyokrokusumo sudah mempersiapkan makam tersebut sebelum beliau wafat.
 
LEGENDA%2BPEMAKAMAN%2BIMOGIRI.png


Pada masa Kerajaan Islam Mataram tersebutlah raja bernama Sultan Agung Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan nama Sultan Agung. Ia merupakan raja ke-3 Kerajaan Mataram Islam yang terkenal arif dan bijaksana. Di bawah kepemimpinannya, rakyat Mataram senantiasa hidup aman, tenteram, dan makmur. Itulah sebabnya, ia sangat dicintai dan dihormati oleh seluruh rakyatnya.
 
Selain kharismatik, Sultan Agung memiliki kesaktian yang tinggi. Konon, ia mampu ke Mekah secara gaib untuk Shalat Jumat di sana. Karena seringnya ke Mekah, Sultan Agung kenal baik dengan beberapa ulama di sana, baik ulama Arab maupun ulama dari Indonesia yang sedang berada di Mekah. Dari perkenalan itu, mereka pun kemudian menjalin persahabatan dan Sultan Agung sering diajak oleh para sahabatnya untuk berkeliling kota Mekah dan sekitarnya.
 
Suatu waktu, ketika sedang berjalan-jalan bersama seorang ulama, Sultan Agung sampai pada suatu tempat yang tanahnya berbau harum. Ia amat tertarik pada tempat itu. Maka, timbullah keinginannya agar dimakamkan di tempat itu jika wafat kelak. Niat itu kemudian ia sampaikan kepada sahabatnya. Namun, ulama itu melarangnya.

  • “Jangan, Sultan!” cegah ulama itu.
  • “Kenapa, Kyai?” tanya Sultan Agung penasaran.
  • “Bukankah Sultan tahu sendiri bahwa seluruh rakyat Mataram amat mencintai Sultan. Jika Tuanku dimakamkan di Mekah, tentu mereka tidak bisa mengunjungi makam raja mereka,” ujar ulama itu.

Nasehat ulama itu memang masuk akal. Namun, Sultan Agung tetap bersikeras ingin dimakamkan di tempat tersebut. Melihat sikap Raja Mataram itu, sang Ulama pun mengambil segenggam tanah yang harum itu.

“Ampun, Tuanku! Bawalah tanah ini ke negeri Tuan. Sesampai di sana, lemparkanlah tanah ini ke selatan. Niscaya tempat jatuhnya tanah itu juga akan berbau harum dan di tempat itulah Tuanku akan dimakamkan,” ujar ulama itu.

Sultan Agung pun menerima tanah itu dengan senang hati. Sekembalinya dari Mekah, ia mengambil separuh tanah itu lalu dilemparkan ke arah selatan. Tanah itu jatuh di Bukit Giriloyo, di daerah Bantul.
Sultan Agung kemudian memerintahkan abdi dalem (pegawai keraton) untuk membuat makam yang dipersiapkan untuk dirinya.

  • “Pergilah ke Bukit Giriloyo dan bangunlah sebuah makam untukku,” titah Sultan Agung.
  • “Sendiko dawuh (siap laksanakan), Gusti Prabu,” jawab para abdi dalem.

Sultan Agung mengerahkan seluruh ribuan abdi dalem istana untuk membangun makam tersebut. Rupanya, pembangunan makam itu bukan sekadar menggali lubang, melainkan sebuah area yang luas. Itulah sebabnya, pembangunan makam tersebut melibatkan ribuan orang. Untuk mengangkut batu bata dari keraton yang terletak di daerah Pleret ke Bukit Giriloyo, para abdi dalem merantingnya satu per satu dengan cara duduk bersila agar tidak rusak.
 
Paman Sultan Agung, Gusti Pangeran Juminah, ikut membantu mengawasi jalannya pembangunan makam. Namun, saat itu ia jatuh sakit. Bersamaan dengan pembangunan makam itu selesai, ia pun meninggal dunia. Maka, sang Paman dimakamkan di area makam yang baru selesai dibangun itu. Oleh karena makam tersebut sudah digunakan untuk pamannya, Sultan Agung tidak ingin dimakamkan di tempat itu. Maka, ia pun berkata kepada abdi dalem istana untuk membuat area pemakaman yang baru.

  • “Kelak jika aku wafat, aku ingin pertama kali dimakamkan di pemakaman yang baru dibangun,” ungkapnya,
  • “Selain itu, makam Giriloyo ini terlalu sempit untukku dan keluargaku kelak.”

Setelah pemakaman pamannya selesai, Sultan Agung kembali ke istana. Ia segera mengambil sisa tanah yang berbau harum dari Mekah itu lalu dilemparkannya ke arah selatan. Tanah itu pun jatuh di Bukit Merak, yang masuk ke dalam wilayah Desa Pajimatan, Kelurahan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Itulah sebabnya, Makam Imogiri juga dikenal dengan Makam Pajimatan.
 
Sultan Agung pun kembali memerintahkan para abdi dalem istana untuk membangun makam yang baru di tempat itu. Ia menginginkan agar makam itu dibangun menjadi beberapa bagian karena makam itu bukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya. Maka, dibangunlah sebuah makam pada bagian tengah paling atas Bukit Merak. Makam itu kelak akan menjadi makam Sultan Agung. Kemudian, di sekitar makam itu, dibangun pula beberapa makam yang akan digunakan oleh para keluarga sang Sultan.
 
Pada tahun 1645 Sultan Agung wafat. Ia pun dimakamkan di tempat itu yang kemudian menjadi induk makam dan disebut Kasultanangungan. Setelah itu, makam tersebut kemudian menjadi pemakaman seluruh keluarga sang Sultan dan Raja-raja Mataram setelahnya.
 
Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, Makam Imogiri ini menjadi sebuah area pemakaman yang luasnya mencapai 10 hektar. Di area inilah sebagian besar Raja-raja Mataram Islam hingga pemerintahan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dimakamkan. Area pemakaman ini pun dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian sebelah barat dipergunakan sebagai makam Raja-raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sedangkan bagian sebelar timur dipergunakan untuk makam Raja-raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
 
Sumber: http://agathanicole.blogspot.com/2017/09/legenda-pemakaman-imogiri.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Resep Ayam Ungkep Bumbu Kuning Cepat, Praktis untuk Masakan Harian
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Konsep Ikan Keramat Sebagai Konservasi Lokal Air Bersih Kawasan Goa Ngerong Tuban
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sumber daya air merupakan sebuah unsur esensial dalam mendukung keberlangsungan kehidupan di bumi. Ketersediaan air dengan kualitas baik dan jumlah yang cukup menjadi faktor utama keseimbangan ekosistem serta kesejahteraan manusia. Namun, pada era modern saat ini, dunia menghadapi krisis air yang semakin mengkhawatirkan (Sari et al., 2024). Berkurangnya ketersediaan air disebabkan oleh berbagai faktor global seperti pemanasan, degradasi lingkungan, dan pertumbuhan penduduk yang pesat. Kondisi tersebut menuntut adanya langkah-langkah strategis dalam pengelolaan air dengan memperhatikan berbagai faktor yang tidak hanya teknis, tetapi juga memperhatikan sosial dan budaya masyarakat. Salah satu langkah yang relevan adalah konservasi air berbasis kearifan lokal. Langkah strategis ini memprioritaskan nilai-nilai budaya masyarakat sebagai dasar dalam menjaga sumber daya air. Salah satu wilayah yang mengimplementasikan konservasi berbasis kearifan lokal yaitu Goa Ngerong di kecamatan Rengel,...

avatar
Muhammad Rofiul Alim