Jajanan ini sudah saya kenal sejak masa kanak-kanak, kadang dibeli Ibu saya untuk menemani minum teh atau sekedar pengganjal perut di pagi hari. Dijual di sebuah warung yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari rumah kami. Letaknya di jalan utama di seberang masjid desa. Layaknya restoran khas desa tempo dulu, letak warung menyatu dengan rumah sang pemilik. Menjual menu khas desa seperti Nasi Pecel, Nasi Tumpang dan berbagai macam jajanan pasar yang dibuat sendiri oleh Bu Koro. Dan tak ketinggalan sediaan kopi hangat mengepul yang dihidangkan sehabis sarapan. Tak heran warung ini sangat populer ibarat cafe untuk kumpul para Bapak2 di pagi hari sambil bertukar cerita sebelum bekerja.
Warung sekaligus rumah Bapak dan Ibu Koro juga menyimpan sejarah bagi kami anak-anak yang tinggal di sekitarnya termasuk saya. Waktu itu di usia saya yang masih SD, di pertengahan tahun 70an keluarga yang memiliki televisi bisa dihitung dengan jari tetapi keluarga Pak Koro adalah perkecualian. Beliau memiliki TV hitam putih ukuran 17 inci, dengan model lama yang dikemas dalam lemari kayu berkaki empat, dengan 2 penutup pintu yang bisa digeser ke arah kiri dan kanan seperti miniatur pintu ruko.
Dengan kebaikannya keluarga Pak Koro memperbolehkan kami anak2 tetangga setiap hari untuk melihat siaran dari chanel TVRI, satu2nya chanel yang ada waktu itu. Dan dengan semangat kami anak2 selalu hadir di sore hari dan tertawa terbahak-bahak setiap kali melihat acara iklan "Sarana Niaga" yang sedang menayangkan merek penyedap Ajinomoto dengan adegan pelawak Bagiyo dan Mak Wok yang lucu saat kehilangan sanggulnya yang copot. Kebahagiaan sejati anak-anak dalam keterbatasan!
Sayang warung Pak Koro sudah tak eksis lagi sejak Bu Koro berpulang dan tak ada penerusnya. Tapi kenangannya tak akan pernah saya lupakan dan terus mengendap, menimbulkan perasaan bahagia sekaligus haru setiap saya pulang kampung dan melihat bekas bangunan yang tak lagi berwujud.
Sebagai kompensasi untuk menggali kenangan masa kecil, saya bikin Kue Utri ini sebagai tribut kecil untuk Bapak dan Ibu Koro, terima kasih telah memberikan kenangan indah dalam perjalanan hidup kami. Catatan: Resep hanya berdasarkan reka-reka dan ingatan akan cita rasa yang masih bisa saya kumpulkan. Maaf kalau ada kekurangan. Semoga sesuai dengan selera anda.
sumber :http://www.lestariweb.com/Indonesia/KueUtriNangka.php
cara hapus akun/data (#KrediOne) secara permanen kamu bisa hubungi pelanggan layanan resmi via WA di (+62.821-7553-746 atau 0898.4440.241). Jelaskan alasan permintaan penghapusan data atau akunnya lalu siapkan identitas diri seperti (KTP) untuk proses verifikasi dan ikuti instruksi petugas customer service untuk menyelesaikan laporan Anda.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...