Kue Lumpang - Palembang
Berasal dari Pelambang, kue lumpang biasanya dinikmati bersama dengan secangkir susu atau kopi. Orang-orang di Palembang sejak dahulu sampai sekarang banyak yang mengonsumsi kue basah ini untuk sarapan pagi ataupun untuk camilan. Kue lumpang tergolong berbeda dari jenis kue basah lain. Mulai dari perbedaan dalam hal pembuatan hingga rasa yang dimiliki. Kue lumpang ini sendiri memiliki rasa yang cukup manis dan nikmat. Untuk masalah tekstur, kue lumpang sangat lembut dan mampu menggoyang lidah kita.
Berbicara mengenai camilan tradisional Indonesia, kita akan menemukan banyak sekali jenis camilan dengan nama-nama yang unik. Ada yang mengambil nama dari bahannya, dari bentuknya, hingga dari orang yang membuatnya pertama kali. Salah satu kuue dengan nama unik tersebut adalah kue lumpang. Pengambilan nama “lumpang” menurut warga Palembang didasarkan pada bentuk kue tersebut. Ya, bentuk kue basah ini mirip dengan lumpang atau lesung, yakni sebuah bejana yang biasa digunakan orang jaman dulu untuk menumbuk padi, kopi, dan bahan lainnya
.
Kue lumpang biasanya dibuat dengan 3 macam warna yang berbeda, yakni putih, coklat, dan juga hijau. Kue lumpang putih bisanya hanya menggunakan gula pasir, kue lumpang coklat menggunakan gula merah atau gula jawa, sedangkan kue lumpang hijau menggunakan daun pandan. Awal kemunculan kue lumpang sendiri menurut catatan sejarah sudah sejak tahun 80an silam. Pertama kalinua kue satu ini dijual oleh pedagang secara keliling komplek, namun seiring dengan perkembangan jaman kue tersebut tergeser oleh kedatangan camilan khas luar negeri.
Bahan-Bahan Kue Lumpang Pandan Membuat kue lumpang sebenarnya cukup mudah dan praktis, hanya saja Anda harus bisa membuat adonan yang lebih sempurna agar tekstur kue ini nantinya dapat lembut dan kenyal. Berikut bahan-bahan yang harus Anda siapkan untuk membuat adonannya: Gula pasir sebanyak 100 gram, haluskan Santan kental sekitar 200 ml, pilih kualitas terbaik Pasta pandan sekiranya 1/2 sendok teh Tepung beras sebanyak 120 gram Tepung kanji cukup dengan 1 sendok makan Garam halus sekitar 1/2 sendok teh Minyak untuk mengoles cetakan secukupnya saja Bahan taburan (sesuai selera): Kelapa parut yang tidak terlalu tua Garam secukupnya saja. Cara Membuat Kue Lumpang Hijau Pertama kalinya siapkan terlebih dahulu sebuah wadah untuk mencampurkan adonan, kemudian campurkan antara tepung beras, tepung kanji, gula pasir, dan garam halus dalam wadah tersebut. Agar tercampur merata, aduk-aduk bahan tersebut. Selanjutnya masukan santan kelapa sedikit demi sedikit. Sambil memasukan santan kelapa tersebut uleni adonan tadi sampai kalis. Anda bisa menggunakan tangan ataupun bantuan mixer agar lebih praktis. Pastikan santan sudah tercampur merata bersama dengan adonan tepung.
Tambahkan pasta pandan ke dalam adonan tersebut, aduk-aduk lagi sampai tercampur secara merata. Kemudian diamkan adonan sebentar sekiranya 10 menit agar semua bahan dapat menyatu secara sempurna.
Kue lumpang ini dapat disajikan dan dimakan secara langsung sebagai camilan. Namun agar rasanya lebih gurih lagi, Anda dapat menambahkan parutan kelapa yang sudah dicampur garam ke atsnya, mirip seperti kue putu ayu.
Sumber
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...