Makanan Minuman
Makanan Minuman
Kue Tradisional Papua Papua
Kue Lontar
- 25 September 2017

Kue lontar merupakan kue khas masyarakat Papua yang menurut sejarah kedatangannya dibawa oleh orang-orang Belanda pada masa lalu. Pada mulanya kue ini disebut dengan rontart, tapi karena agak sulit dilafalkan maka penduduk Papua akhirnya cara penyebutan kue ini diganti menjadi kue lontar.

Kue lontar sendiri mirip seperti kue pie susu yang terkenal dari pulau dewata Bali. Kue lontar dibuat dari bahan dasar telur yang kemudian dicetak menggunakan piring keramik. Orang-orang Papua biasanya membuat kue lontar ketika hari raya lebaran dan natal. Di Papua, kue lontar dibuat dengan cetakan yang besar sehingga ukuran kue yang dihasilkan juga besar. Tapi untuk kamu yang ingin membeli kue lontar sebagai oleh-oleh, ada juga yang ukurannya kecil demi kemudahan pengunjung untuk membawanya ke kampung halaman.Soal rasa, kue lontar atau egg tart ini sangat cocok bagi para pecinta kue yang manis.

Berikut ini resep cara pembuatan kue Lontar, antara lain:

Waktu yang diperlukan:

  • 10 menit persiapan
  • 60 menit pemanggangan

Alat yang perlu dipersiapkan:

  • Oven
  • Mangkuk
  • Piring lontar (piring makan jika tidak ada)

Bahan yang dibutuhkan:

Untuk kulit:

  • 100 gram margarine
  • 150 gram tepung terigu

Untuk isi:

  • 1 kaleng susu kental manis merk apapun
  • 1 kaleng air panas (kaleng yang sama)
  • 8 butir kuning telur yang dikocok lepas
  • 1 sdt ekstrak vanili (bisa diganti dengan rhum)

Cara membuat:

  1. Panaskan oven pada suhu 180 derajat Celsius.
  2. Olesi piring lontar (jika tidak ada gunakan piring makan) dengan mentega secukupnya. Sisihkan.
  3. Kita akan memulai terlebih dahulu dengan kulitnya. Campur semua bahan yang diperlukan hingga tercampur sepenuhnya dengan rata. Jika adonan yang anda punya terlalu lunak atau terlalu lembek, maka anda bisa menambahkan tepung sesuai kebutuhan.
  4. Giling tipis-tipis dan pindahkan adonan ke dalam piring yang sudah dioles margarine sebelumnya. Sisihkan.
  5. Untuk isi, anda perlu mencampur semua bahan dan aduk hingga merata. Saring beralaskan kulit atau piring lontar. Masukkan ke dalam oven yang masih panas selama kurang lebih 15 menit, dan kecilkan suhu apinya hingga 160 derajat Celsius dan diamkan selama 45 menit.
  6. Kue lontar bisa dikeluarkan dari dalam oven dan didinginkan sebelum siap untuk disajikan.

Tips:

  • Untuk mengurangi rasa manis, komposisi susunya bisa dikurangi tanpa mengurangi bahan lainnya.
  • Untuk pinggir kue yang lebih terasa keju, anda bisa menambahkan keju parut pada bagian sampingnya.

Selamat Mencoba :)

 

Sumber : resepkoki.co

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bentengan: Taktik Kuno, Semangat Baru di Lapangan Pendidikan
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Jawa Timur

Bentengan: Taktik Kuno, Semangat Baru di Lapangan Pendidikan Identitas dan Asal-Usul Bentengan adalah permainan tradisional kelompok yang tergolong dalam kategori olahraga rekreasi dan pendidikan jasmani [S1]. Permainan ini melibatkan dua grup dengan masing-masing anggota berjumlah 4–8 orang, yang saling bersaing untuk merebut dan mempertahankan markas yang disebut "benteng" [S2][C7][C8]. Benteng biasanya berupa tiang, batu, atau pilar yang dipilih sebagai pusat pertahanan [S2][C8]. Uniknya, Bentengan merupakan salah satu dari sedikit permainan tradisional Indonesia yang masih populer hingga saat ini, bersama dengan layang-layang, kelereng, galasin, dan Polisi Maling [S2][C9]. Permainan ini tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia, dengan praktik yang relatif seragam dalam hal aturan dasar dan struktur permainan [S1][S2]. Meskipun tidak ada catatan sejarah yang pasti mengenai asal-usulnya, Bentengan diperkirakan telah ada sejak lama dan menjadi bagian dari budaya pe...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kujang: Lebih dari Sekadar Senjata Sunda Biasa
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Barat

Kujang: Lebih dari Sekadar Senjata Sunda Biasa Identitas dan Asal-Usul Kujang adalah senjata tradisional yang berasal dari Jawa Barat, khususnya dikenal sebagai senjata khas masyarakat Sunda [S2, S3, S4, S5, S6]. Senjata ini memiliki bentuk yang unik dan sarat makna simbolis [S2, S5]. Kujang tidak hanya berfungsi sebagai senjata, tetapi juga sebagai alat pertanian, perlambang, hiasan, dan cenderamata [C5]. Keberadaannya menjadi simbol identitas dan kearifan lokal Jawa Barat [S5]. Pembuatan kujang diperkirakan dimulai sekitar abad ke-8 atau ke-9 [C2]. Bahan pembuatannya meliputi besi, baja, dan bahan pamor [C2]. Secara umum, kujang memiliki panjang sekitar 20 hingga 25 cm dengan berat kurang lebih 300 gram [C3]. Bentuk bilahnya sering digambarkan menyerupai leher dan kepala burung yang sedang mendongak, dengan ujung yang meruncing dan sisi bagian dalam yang tajam [C7, C8]. Terdapat pula lubang-lubang pada bagian punggung bilah kujang [C8]. Meskipun memiliki bentuk yang unik, ku...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Yupa: Jejak Kutai di Jantung Kalimantan
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Kalimantan Timur

Yupa: Jejak Kutai di Jantung Kalimantan Identitas dan Asal-Usul Kalimantan merupakan bagian dari Kepulauan Sunda Besar sekaligus Kepulauan Melayu, serta wilayah Indonesia dari pulau terbesar ketiga di dunia yang secara internasional dikenal sebagai Borneo [S1]. Sebutan Borneo berasal dari penamaan kolonial Inggris dan Belanda yang merujuk pada Kesultanan Brunei, sementara nama Kalimantan digunakan oleh penduduk bagian timur pulau [S1]. Secara administratif, wilayah Indonesia di pulau ini terbagi menjadi lima provinsi—Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara—yang secara keseluruhan mencakup sekitar 73% dari luas pulau, selebihnya berada di Malaysia (26%) dan Brunei Darussalam (1%) [S1]. Kondisi topografinya yang dilintasi sungai-sungai besar membuat pulau ini dikenal dengan julukan "Pulau Seribu Sungai" [S1]. Dalam katalog warisan naskah kuno dan prasasti Nusantara, bukti tertulis tertua yang menandai awal sejarah I...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Egrang: Warisan, Keseimbangan, dan Semangat Anak Indonesia
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Jawa Barat

Egrang: Warisan, Keseimbangan, dan Semangat Anak Indonesia Identitas dan Asal-Usul Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang menggunakan dua bilah bambu sebagai alat pijakan untuk berjalan di atasnya. Permainan ini masih dikenal sebagai warisan budaya di berbagai daerah, sekaligus menguji keseimbangan, ketangkasan, dan konsentrasi pemainnya [S1][S3]. Di Jawa Barat, egrang secara spesifik diidentifikasi sebagai permainan anak-anak dengan sepasang bambu sebagai pijakan [S2]. Asal-usul egrang dihubungkan dengan masa kolonial berdasarkan catatan yang menyebut permainan ini tercatat dalam buku Javanese Kinder Spellen pada zaman Belanda [S1]. Namun, sumber tersebut tidak menguraikan kronologi sebelum masa kolonial atau memberikan informasi tentang prosesi ritual awalnya, sehingga narasi asal-muasal pra-kemerdekaan masih bersifat umum. Sentra aktivitas egrang terekam dengan jelas di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Di ruang publik Jalan Jendral Sudirman, Kelurahan Nagrika...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Gudeg Yogya: Warisan Keraton, Cita Rasa Abadi
Makanan Minuman Makanan Minuman
Daerah Istimewa Yogyakarta

Gudeg Yogya: Warisan Keraton, Cita Rasa Abadi Identitas Kuliner Gudeg diidentifikasi sebagai hidangan khas Yogyakarta yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah [S1]. Hidangan ini berfungsi sebagai simbol warisan budaya yang dilestarikan dari generasi ke generasi, sekaligus menegaskan posisinya sebagai identitas kuliner daerah yang menjadi daya tarik budaya [S1][S5]. Keberadaannya merepresentasikan kekayaan kuliner regional yang memiliki jejak sejarah panjang dalam tradisi masyarakat Yogyakarta [S1]. Data sejarah menunjukkan bahwa gudeg pertama kali muncul pada abad ke-15 pada masa Kerajaan Mataram Islam [S2]. Sejalan dengan itu, tercatat bahwa sejarah kuliner ini berawal dari era Mataram Islam di Alas Mentaok [S3]. Pada masa awal kemunculannya, gudeg dikonsumsi oleh para prajurit dan rakyat biasa, yang mengindikasikan bahwa hidangan ini telah menjadi bagian dari pola konsumsi lintas kelas sosial sejak masa pembentukannya [S2]. Sayangnya, belum...

avatar
Kianasarayu