SEKILAS
=======
Wadai Bingka, kerap masyarakat Banjar (Kalimantan Selatan) menyebutnya, wadai dalam bahasa Indonesia berarti kue.
Wadai Bingka sendiri mempunyai banyak varian bentuk dan jenis, diantaranya:
1. Wadai Bingka Besar
2. Wadai Bingka Barandam
3. Wadai Bingka kecil
pada tulisan kali ini kita akan mengupas tentan Wadai Bingka yang sering menjadi buah tangan bagi para pelancong, yakni Wadai Bingka Besar, sebenarnya Wadai Binka Besar ini nama aslinya adalah Wadai Bingka, penulis tambahkan kata "Besar" ini agar membedakan ciri dari macam-macam jenis wadai bingka.
Biasanya wadai Bingka ini mempunya dua varian rasa, yaitu kentang dan tapai (tape), bentuknya pun lumayan besar. untuk membuat wadai bingka perlu ketelitian yang lebih, karena kalau tidak hati-hati kue ini akan menyusut hampir separo adonan. saat ini di Kalimantan Selatan khusunya Banjarmasin, wadai bingka sedikit sulit ditemukan pada hari-hari biasa, hanya sebagai kecil pedang kue saja yang menjual. hari biasa wadai bingka dapat ditemui di pasar tradisional, rumah penduduk (penjual kue rumahan, biasanya kita pesan), atau tempat oleh-oleh. akan tetapi pada bulan Ramadan (bulan puasa) wadai bingka ada dimana-mana, bahkan hampir disepanjang jalan banyak para pedagang yang menjualnya.
seiring berkembangnya zaman, wadai bingka tidak hanya terfokus pada dua varian rasa, kentang dan tapai, akan tetapi sudah mulai dikembangkan dengan memasukan aneka rasa yang terbuat dari buah-buahan dan campuran-campuran lainnya.
Bahan Membuat Wadai Bingka Kentang: (boleh kalian ganti dengan varian rasa yang lain seperi tape, pisang, atau rasa yang kalian sukai)
=============================================================================================================
Foto-Foto
=========
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.