Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur
Kua Siga Wunga
- 13 Desember 2014

Kua Siga Wunga adalah seorang pemuda tampan dan sakti mandraguna penjelmaan seekor burung rajawali merah. Suatu malam, ia masuk ke dalam mimpi seorang putri cantik bernama Bue Gae. Ajaibnya, hanya putri cantik yang memimpikannya itu menjadi hamil. Peristiwa itu kemudian menyebabkan sang putri harus diusir dari kampungnya karena dianggap telah melakukan perbuatan laa sala (melanggar hukum). Bagaimana nasib Bue Gae dan bayi dalam kandungannya selanjutnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Kua Siga Wunga berikut ini!

Alkisah, di Kampung Ngada Kepulauan Flores, ada seorang gadis cantik keturunan bangsawan bernama Bue Gae. Ia seorang putri yang cantik nan rupawan, sederhana, dan baik hati. Suatu malam, sang putri terjaga dari tidurnya dan sulit untuk memejamkan matanya kembali. Ia baru saja bermimpi bertemu dengan seorang pemuda perkasa dan tampan saat ia hendak mengambil air di pancuran bambu di dekat rumahnya. Pemuda yang murah senyum itu kemudian mengambilkannya air di pancuran bambu tersebut. Kemurahan hati pemuda itu benar­benar memikat hati sang putri.

“Siapa pemuda itu? Kenapa aku sulit melupakannya?” gumam Putri Bue Gae. Hati sang putri sangat gelisah karena senyum menawan pemuda itu selalu terbayang­bayang di pelupuk matanya.

“Ah, ini hanya mimpi. Aku harus melupakan pemuda itu,” sang putri kembali bergumam. Dua bulan kemudian, Putri Bue Gae mengetahui dirinya sedang hamil. Ia sendiri heran karena dirinya selama ini tidak pernah berhubungan dengan lelaki mana pun. Sang putri bermaksud merahasiakan hal itu kepada kedua orang tuanya, namun rahasia tersebut tak dapat ia simpan lama karena perutnya semakin hari semakin membesar sehingga menimbulkan kecurigaan bagi kedua orang tuanya.

“Hai, Putriku? Kenapa perutmu besar begitu?” tanya sang ayah curiga, “Wah, jangan­jangan kamu

hamil.” Putri Bue Gae dengan malu­malu mengaku bahwa dirinya memang sedang hamil. Mendengar jawaban itu, sang ayah pun menduga bahwa putrinya telah melanggar hukum adat.

“Putriku, siapakah ayah dari anak yang kamu kandung itu? Katakanlah!” desak sang ayah. Putri Bue Gae hanya terdiam sambil menunduk. Setelah beberapa saat merenung, ia kemudian menjawab bahwa dirinya tidak pernah sama sekali berhubungan dengan seorang laki­laki.

“Tapi bagaimana mungkin kamu bisa hamil jika tidak pernah berhubungan dengan seorang laki­laki?” sanggah sang ayah

“Maafkan Putri, Ayah! Putri juga heran dengan kejadian ini. Putri hanya pernah bermimpi bertemu dengan seorang pemuda gagah perkasa dua bulan yang lalu. Tapi, Putri tidak tahu siapa dia dan berasal dari mana,” ungkap sang putri sambil meneteskan air mata. Melihat putri semata wayangnya menangis, sang ibu pun ikut meneteskan air mata dan segera memeluknya. Suasana haru pun menyelimuti hati keluarga itu.

“Putriku, Ayah dan Ibumu mungkin bisa mengerti dan percaya pada perkataanmu itu. Tapi bagaimana dengan penduduk di sini? Apakah mereka juga akan mengerti dan mempercayaimu?” kata sang ayah.

“Lalu, bagaimana caranya kita meyakinkan mereka?” sahut sang ibu.

“Satu­satunya yang dapat kita lakukan adalah putri kita harus menyatakan kebenaran yang ia yakini di hadapan seluruh warga. Namun, saya tidak yakin kalau cara ini dapat berhasil. Oleh karena itu, putri kita harus bersiap­siap untuk meninggalkan kampung ini,” ujar sang ayah. Keesokan hari, sidang adat pun dilaksanakan di Balai Desa untuk mengadili Putri Bue Gae. Dalam persidangan itu, sang putri menyampaikan pembelaannya dengan bersumpah secara adat.

Aku yang sejati

Seperti hitamnya jelaga para­para

Aku yang sejati

Ibarat keringnya serpihan bulu­bulu pegunungan

Aku yang berada di sini

Pada kandang kebenaran

Aku yang berada di sini

Pada rumah kebaikan

Aku bersumpah

Dari kedalaman hati yang bening

Tak siapa yang mendekatiku

Tak siapa yang memegangku

Aku yang sejati seperti hitamnya jelaga para­para

Aku yang sejati ibarat keringnya serpihan bulu pegunungan

Berawal dari petuah Leluhurku

Bermula dari teladan Leluhurku

Lantaran kehendak Dewata di langit tinggi

Yang melindungi

Segala makhluk berperasaan

Di atas alam raya

Meskipun Putri Bue Gae telah menyampaikan sumpahnya, namun sidang adat tetap memutuskan bahwa kebenaran masalah tersebut akan diserahkan pada hukum alam. Berdasarkan keputusan tersebut, maka sang putri pun harus diusir dari kampung itu.

Pada esok harinya, Putri Bue Gae diarak sampai ke ujung kampung menuju arah matahari terbenam. Selanjutnya, putri cantik yang malang itu berjalan menyusuri hutan belantara bersama anjing kesayangannya yang bernama Dala Kuwe. Setelah sampai di tempat pengasingan di tengah hutan, sang putri tinggal bersama anjingnya di dalam sebuah gua yang cukup luas dan nyaman untuk didiami. Beberapa bulan kemudian, Putri Bue Gae pun melahirkan seorang bayi laki­laki. Bersamaan dengan lahirnya bayi tersebut muncul seberkas cahaya yang disertai dengan bunyi suara seperti berikut.

Berbapakan Angkasa putra Matahari

Alan seperti api matahari

Yang bercahaya menggapai Dewata

Yang menerangi sesama manusia

Yang membuat siang segala yang bernama

Mendengar suara tersebut, Putri Bue Gae pun semakin yakin bahwa anak yang dilahirkan bukanlah anak haram dan anak manusia biasa, tetapi berbapak angkasa dan putra matahari. Anak itu seperti api matahari yang memancarkan cahaya dan kelak akan menerangi semua manusia. Sang putri pun merawat bayinya dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh menjadi anak yang pemberani. Saat berusia tujuh tahun, anak itu sudah mahir berburu dan mengiris tuak. Suatu hari, ketika hendak mengiris tuak, anak itu mendapati bambu penyimpanan tuaknya tidak berisi air tuak setetes pun.

“Hai, siapa yang mencuri air tuakku?” gumamnya, “Aku harus menangkap pencuri itu.” Keesokan hari, anak itu bersama anjingnya pagi­pagi sekali bersembunyi di bawah pohon tuak itu. Pada saat tengah hari, datanglah seekor burung rajawali merah hinggap di atas pohon itu. Tanpa diduga, burung rajawali itu tiba­tiba diselimuti awan putih, lalu berubah wujud menjadi seorang bayi, kemudian seorang remaja, lalu seorang pemuda dewasa, lantas seorang laki­laki setengah baya yang berwibawa, dan terakhir sebagai seorang kakek yang berjanggut putih. Ketika kakek itu mencelupkan janggutnya ke dalam bambu tuak yang berlubang, kilat bocah lelaki yang pemberani itu dengan secepat kilat menangkap janggut si kakek sehingga terjadilah tarik­menarik di antara mereka. Walaupun sudah tua, kakek itu ternyata masih memiliki kekuatan yang luar biasa sehingga tarik menarik tersebut berakhir dengan tercabutnya pohon tuak. Keduanya pun melayang­layang di angkasa. Setelah mereka mengitari matahari hingga tiga kali, sang kakek pun menyerah.

“Hai, bocah perkasa! Kakek mengakui keperkasaanmu. Akulah yang mencuri tuakmu,” aku kakek itu,

“Hukumlah aku!”

“Tidak, Kek! Karena Kakek telah jujur, maka saya tidak akan menghukum Kakek. Saya lebih suka

perdamaian,” kata anak itu.

“Wah, kamu memang anak yang berhati mulia dan bijaksana. Kakek bangga padamu,” puji kakek itu,

“Berbahagialah Ibu yang telah melahirkan dan membesarkanmu.”

“O, ya, Kek! Kalau boleh saya tahu, Kakek siapa dan berasal dari mana?” tanya anak itu. Kakek tersenyum lebar seraya berkata kepada bocah itu.

“Kalau kamu ingin tahu tentang diri Kakek, tunggulah dua hari lagi. Kakek akan datang menemui ibumu dan pada saat itu juga Kakek akan memberimu hadiah sejenis binatang yang akan muncul dari dalam lubang pohon tuak itu. Binatang itu harus kamu beri nama kaba (kerbau) karena ia muncul pada saat kita kabau (makan makanan persembahan),” ujar kakek itu. Usai berkata demikian, kakek itu tiba­tiba kembali berubah menjadi burung rajawali merah lalu terbang ke arah matahari terbenam. Sebelum meninggalkan tempat itu, ia sempat berpesan kepada anak itu.

“Wahai, cucuku. Segeralah kamu tinggalkan tempat ini! Sebentar lagi matahari akan terbenam,” ujarnya. Dua hari kemudian, anak itu bersama ibu dan anjing kesayangan mereka menunggu kedatangan sang kakek di loka tua (tempat tuak). Ketika hari beranjak siang, burung rajawali itu pun datang dari arah matahari dan segera hinggap di loka tua. Beberapa saat kemudian, awan putih menyelimuti seluruh tubuhnya sehingga terjadilah proses penjelmaan. Ketika Putri Bue Gae menyaksikan proses penjelmaan burung rajawali merah itu menjadi seorang pemuda, jantung sang putri langsung berdetak kencang dan darahnya mengalir sangat cepat.

“Pe… pe… Pemuda itu. Pemuda itu yang pernah hadir dalam mimpiku,” ucap Putri Bue Gae dengan

gugup. Usai berkata demikian, sang putri tiba­tiba jatuh pingsan. Melihat hal tersebut, laki­laki penjelmaan rajawali merah yang sebatas sebagai pemuda gagah perkasa itu segera menghampiri dan menyentuh kening sang putri. Sungguh ajaib! Putri Bue Gae langsung siuman dan memeluk pemuda perkasa itu. Ia telah menyadari bahwa pemuda itu adalah ayah dari anaknya. Keduanya kemudian menjelaskan hubungan mereka kepada anak mereka. Pertanyaan bocah itu tentang siapa ayahnya pun sudah terjawab. Ternyata, ayahnya berasal dari langit perkasa yang bernama Kua Siga Wunga. Untuk merayakan kebahagiaan tersebut, mereka membuat perjamuan sebagai tanda syukur dan perdamaian dengan memotong seekor kerbau. Setelah genap masa pembuangannya, Putri Bua Gae bersama suami dan anaknya kembali ke perkampungan. Namun, sebelum diterima sebagai warga kampung yang sah, mereka harus melalui sebuah ujian yakni menapaki laja sue (anak­anak tangga yang terbuat dari pedang yang sangat tajam). Jika mereka berhasil menapaki laja sue itu tanpa terluka sedikit pun, keluarga dan keturunan mereka berhak memperoleh status Gae Meze (bangsawan). Sebaliknya, jika terluka, mereka akan mendapat status Azi Ana (hamba sahaya). Alhasil, Putri Bua Gae bersama suami dan anaknya berhasil menapaki laja sue tersebut satu per satu tanpa terluka sedikit pun sehingga mereka diterima kembali menjadi warga kampung yang sah dan seluruh keluarganya mendapat status Gae Meze.

Demikian cerita Kua Siga Wunga dari daerah Flores Tengah, Nusa Tenggara Timur. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah keutamaan sifat jujur sebagaimana yang ditunjukkan oleh si kakek penjelmaan burung rajawali merah. Karena kejujurannya mengakui kekhilafannya mencuri tuak anak itu, ia terbebas dari hukuman.

 

http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/223-Kua-Siga-Wunga

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Cara mudah buka blokir brimo
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
Kalimantan Selatan

Untuk membuka blokIr (BRImo) yang terblokIr. Anda bisa menghubungi Layanan CS BRI di Nomor WhatsApp+: (+62817. 7641 4017.))) atau 1500017 atau Anda Bisa lakukan lupa username atau password" pada halaman login aplikasi {BRImo}.

avatar
Layanan Halo BCA 24jam Halo BCA
Gambar Entri
Lupa pasword brimo 3kali
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Tengah

Untuk membuka blokIr (BRImo) yang terblokIr. Anda bisa menghubungi Layanan CS BRI di Nomor WhatsApp+: (+62817. 7641 4017.))) atau 1500017 atau Anda Bisa lakukan lupa username atau password" pada halaman login aplikasi {BRImo}.

avatar
Layanan Halo BCA 24jam Halo BCA
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna