Sejarah Kopi Robusta Merapi
Kopi robusta Merapi telah dikenal sejak jaman penjajahan tempo dulu, banyak yang menyebut kopi ini dengan kopi meneer. Kopi robusta disana memiliki biji yang lebih kecil dibandingkan robusta lainnya, bijinya yang lebih kecil tersebut membuat kopi robusta dari Merapi ini tidak mampu bersaing dengan kopi lainnya. Membuat kopi ini tak lagi ditanam disana karena tak laku dijual. Mulai tahun 1992 para petani disana mulai bangkit kembali menanam kopi dengan mengganti kopi robusta berbiji besar. Perjuangan kebangkitan kopi yang pernah fenomenal ini tidaklah mudah, jalan terjal dihadapi para petani kopi disana. Pasca erupsi gunung Merapi pada tahun 2010 lalu mereka kembali bangkit dan mengubah cara pemasarannya. Hingga kini kopi Merapi telah mendunia dan menjadi oleh oleh khas dari Yogyakarta.
Kopi Merapi
Kopi yang ditanam di Merapi merupakan kopi jenis robusta, pengaruh abu vulkanik dan sisa sisa muntahan lava gunung Merapi menjadikan tanah disana begitu subur dan sangat pas untuk menanam pohon kopi. Kopi Merapi merupakan kopi murni tanpa campuran bahan apapun, dan berhasil meraih beberapa penghargaan. Telah berstandar SNI serta telah tercatat pada depkes RI. Kopi robusta Merapi memiliki keistimewaan tersendiri, selain dikenal sebagai bio coffee, kopi merapi juga memiliki karakteristik yang lebih bening dibandingkan dengan kopi lainnya. Kenikmatan kopi Merapi ini akan lebih terasa bukan karena campuran dalam kopi, melainkan karena keaslian kopi.
Kopi asli Merapi ini memang tidak dapat hitam pekat, hal ini dikarenakan pengaruh unsur tanah tempat penanaman pohon kopi tersebut. Hampir 90% tanah disana merupakan tanah dari Merapi, karakteristik tanah ini yang mempengaruhi hasil kopi. Jadi jangan heran bila kopi Merapi ini tidak dapat hitam pekat. Selain memiliki kepadatan yang ringan dan halus, aroma dan cita rasanya sangat unik dan lembut. Masyarakat setempat juga memiliki cara menyeduh kopi robusta merapi ini, sebagai campuran selain menggunakan gula pasir, kebanyakan masyarakat lebih menyukai campuran dengan gula aren atau gula Jawa. Rasa kopi akan terasa lebih nikmat, unik dan lain dari kopi biasanya.
Manfaat Kopi
Mengkonsumsi kopi ternyata memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh kita, baik itu kopi dari berbagai jenis. Adapun beberapa manfaat kopi bagi kesehatan adalah sebagai berikut.
1.      Mencegah depresi
Kopi memang sangat pas untuk menemani waktu bersantai anda, meminum segelas kopi hitam panas dapat merilekskan pikiran dan membuat kita jauh dari depresi. Ada beberapa peneliti menyebutkan bahwa orang yang suka mengkonsumsi kopi memiliki resiko depresi 20% lebih rendah daripada yang tidak mengkonsumsi kopi.
2.      Mempertajam ingatan
Ternyata mengkonsumsi kopi robusta Merapi maupun jenis kopi lainnya dapat mempertajam ingatan, baik itu ingatan jangka pendek ataupun jangka panjang. Mengkonsumsi kafein ternyata mampu meningkatkan ingatan dan kecepatan reaksi seseorang.
3.      Meningkatkan metabolisme
Metabolisme tubuh adalah bagian penting bagi tubuh kita agar terhindar dari berbagai penyakit yang akan menyerang. Bahkan biji kopi hijau selain meningkatkan metabolisme tubuh, juga mampu menurunkan berat badan seseorang. Pastinya sangat bermanfaat bagi para wanita.
Meskipun memiliki berbagai manfaat mengkonsumsi kopi, kita juga harus memperhatikan kopi yang dikonsumsi. Kopi sachet biasanya dibuat dari kopi berkualitas rendah, alangkah baiknya bila ingin merasakan manfaat dari kopi ini membeli kopi berkualitas baik. Harganya memang berbeda jauh dengan kopi sachet, namun dari segi kualitas jauh berbeda. Memilih kopi yang tidak terlalu pekat, memiliki tingkat keasaman rendah dapat menjadi pilihan anda.
RM/Toko yang Menyediakan:
Kopi Merapi Cafe Address: Kepuharjo, Cangkringan, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta 55583 Phone: 0878-4321-0922
Sumber: http://www.lintaskopi.com/mari-berkenalan-dengan-primadona-kopi-kopi-robusta-merapi/
Â
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara