Raja Binaut baru saja naik naik tahta menggantikan ayahandanya yang wafat. Namun Raja Binaut memerintah kerajaannya dengan kejam.
Suatu hari Raja Binaut ingin membangun istana yang megah.
“Wahai rakyatku, mari kita membangun istana yang megah agar kerajaan kita dikenal ke seluruh dunia,” seru Raja Binaut dengan lantang dihadapan rakyatnya.
“Ayo bekerja keraslah. Jika malas, kalian akan di penjara seumur hidup,” ancam sang Patih. Ia terpaksa mengikuti kehendak Raja Binaut karena takut dipecat dari jabatannya.
Mendengar hal itu, rakyat menjadi ketakutan. Mereka terpaksa mematuhi titah sang Raja agar tidak dipenjara. Siang dan malam mereka bekerja. Ada yang mengangkut pasir dari sungai, ada yang menggotong kayu jati pilihan dan ada yang membuat ukiran emas untuk hiasan istana. Mereka bekerja tanpa upah. Rakyat pun hidup sengsara bahkan ada yang kelaparan dan meninggal dunia.
Tak ada yang bisa melawan kekejaman Raja Binaut. Ratu dan dua saudara kandung Raja Binaut dikabarkan tenggelam di lautan. Putra Baginda Arif adalah kakak sulung Raja Binaut dan Putri Baginda Nuri adalah adik Raja Binaut.
Seorang pengawal istana bernama Bijak tidak percaya dengan kabar itu. Ia menyelidiki penjara bawah tanah. Betapa terkejutnya Bijak, ketika mendapati Ratu, Putra Baginda Arif dan Putri Baginda Nuri di sana. Mereka terlihat kurus dan pucat.
“Kakak Binaut telah menjebloskan kami di penjara ini,” kata Putri Baginda Nuri dengan suara lirih.
“Tolonglah kami keluar dari sini,” kata Sang Ratu mengiba.
“Baiklah, Yang Mulia. Saya akan berusaha,” janji Bijak.
Bijak segera memberitahu teman-temannya.
“Huh! Raja Binaut telah membohongi kita semua. Dia telah merebut tahta Baginda Arif,” kata seorang teman Bijak dengan geram.
“Tega sekali dia memenjarakan ibu, kakak dan adiknya sendiri,” sahut temannya yang lain.
Bijak dan teman-temannya mengundurkan diri dari pekerjaannya di istana. Mereka pergi ke hutan untuk menyusun rencana pembebasan Ratu.
Pada malam yang telah ditentukan, mereka pergi ke istana. Seragam kerajaan semasa bekerja dulu dikenakannya kembali. Bijak membawa serta sebuah buntalan kain di punggungnya.
Malam telah larut, Raja Binaut telah tertidur pulas. Mereka menyusuri lorong-lorong ruang bawah tanah istana. Bijak segera membuka buntalan kain yang berisi seragam istana. Sang Ratu, Putra Baginda Arif dan Putri Baginda Nuri segera mengenakan seragam itu. Mereka berhasil keluar dari penjara. Tak ada yang mencurigai penyamaran mereka.
Mereka lalu bersembunyi di hutan, Ratu mengucapkan terima kasih pada Bijak dan teman-temannya.
“Sri Baginda Ratu, mohon restunya , kami akan mengadakan penyerangan ke istana,” Kata Bijak. Ia dan pasukannya telah lama bersiap untuk menyerang Raja Binaut.
“Aku sangat menghargai kalian. Tapi Aku keberatan. Lihatlah rakyat yang sudah menjadi korban,” kata Sang Ratu.
Setelah Ratu berkata demikian, tiba-tiba sebuah gunung api meletus. Suara menggelegar terdengar sampai jauh. Abu dan api membumbung tinggi ke angkasa. Semua menjadi panik. Lahar panas mengalir ke penjuru negeri.
Raja Binaut terkejut dari tidurnya. Istananya yang megah dialiri lahar. Istana itu baru selesai dibangun oleh keringat rakyatnya yang menderita.
“Patih! Tolonglah Aku! “ teriak Raja Binaut dengan panik.
Raja Binaut dan Patihnya lari ketakutan mencari perlindungan. Sungguh aneh, lahar panas itu seolah-olah mengejar kemanapun Raja Binaut lari.
Barulah Raja Binaut menyadari telah dihukum Tuhan.
“Tuhanku, ampuni hambamu yang malang ini. Maafkan aku,” kata Raja Binaut sambil menangis.
Raja Binaut lalu teringat ibundanya yang telah mengasihinya sejak kecil.
“Ampunilah anakmu,Ibunda! “ seru raja Binaut sambil berusaha naik ka atap istana.
“Aku sudah tidak kuat menanggung penderitaan ini! Aku tidak akan lagi mengkhianati Ibunda, kakak Arif dan adik Nuri!” Raja Binaut terus menangis penuh sesal.
Namun penyesalannya tiada arti. Istana Raja Binaut mulai tenggelam oleh lahar panas.
“Aku janji tidak akan mengulangi lagi!” teriak Raja Binaut. Air matanya terus berlinang. Lama-lama suara teriakan itu mulai menghilang. Akhirnya Raja Binaut meninggal dunia.
Kala hujan turun keesokan harinya, jasad Raja terbawa air ke pantai. Akibat dari penumpukan lahar dingin terbentuklah sebuah daratan baru yang menjorok ke laut. Konon di tempat itu sering terdengar suara orang menangis. Akhirnya tempat itu dinamakan Tanjung Menangis. Letaknya di Halmahera, Maluku Utara.
Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/kisah-tanjung-menangis/
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...