Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Timur Sampang
Kisah Saluran Air Sumber Omben
- 11 Juli 2018
Apabila orang melewati sekitar sumber Omben, maka akan terdengar , seolah-olah  di dalam tanah ada gua yang besar. Air dari sumber Omben yang tidak terus mengalir keluar desa Omben itu kira-kira jatuh ke dalam gua di dalam tanah itu. Lambat laut itu lobang ke dalam tanah dikiranya di dalam tanah itu.Dari sebab itu sampai sekarang, air dari sumber omben itu dapat dipergunakan orang sehingga keluar desa Omben dan menjadi sumber saluran air (Waterleiding) diseluruh Kabupaten-kabupaten Sampang dan Pamekasan.
 
Pada mula- mulanya itu air dapat dipergunakan di hiar desa Omben semula adalah beriwayat sebagai berikut Sebelum tahun 1920 telah sering oleh pemerintah pada itu waktu dicobanya sumber itu dicapteer dengan memakai semen, dikerjakan oleh beberapa Insinyur sehingga dua belas kali di dalam jaman beberapa tahun, akan tetapi tidak berhasil.
 
Menurut kepercayaan orang, disebabkan oleh sumpah dari Kudho Panule. Di dalam tahun 1921 ada seorang Camat yang mencoba mengalirkan air sumber itu keluar desa Omben dengan sebelumnya mengadakan selamatan desa dan memotong seekor kerbau betina yang berbulu putih (Kebo bule), sebab Kudho Panule pada waktu ia menjadi bayi, hidup dengan menetek kepada kerbau betina yang berkulit putih (Kebo bule).
 
Maka dengan bantuan rakyat desa Omben dan disambung dengan saluran air dari sumber Napo (didekat Sampang) dialirkan ke kota Sampang dan dijalankan pula ke sebelah timur sampai di batas Kabupaten Pamekasan. Maka untuk ketigabelas kalinya sesudah tahun 1921 oleh pemerintah, dicobanya pula dicapteer dengan semen. Maka dapatlah itu capteering dijalankan, sehingga pada permulaan tahun 1926 jadilah saluran air (waterleiding) yang meliputi seluruh Kabupaten Sampang dan Pamekasan sehingga pada ini waktu. Saluran-saluran yang dipakai untuk meletakkan pipa-pipa dari saluran air itu ialah saluran-saluran yang dibikinya dengan bantuan rakyat oleh Camat yang tersebut di atas.
 
Kembali pula diceritakan Kudho Panule. Setelah ia berhenti di Omben, maka terus ia dengan isterinya berjalan menuju ke Sumenep kepada ibunya yaitu Dewi Saini yang disebut orang “Puteri Kuning” yang pada itu waktu telah ada berkumpul di rumah ayahnya yang bernama Wagung Rukyat alias Pangeran Setyodiningrat II memerintah di Sumenep-Selatan dan Sumenep Utara. Sebelum itu daerah Sumenep-Utara ada di bawah perintah dari pangeran Bukabu yaitu mertua dari pangeran Setyodiningrat II, sedang daerah Sumenep-Selatan ada di bawah perintah Pangeran Setyodiningrat 1, ayah dari Pangeran Setyodingrat II.
 
Suatu riwayat menceritakan pula, bahwa sumber di sebelah timur kota Sampang yang mengandung zat belirang yang disebut orang sumber banyu banger dan pula suatu sumber yang terletak di desa Keduara-timur Kecamatan Prenduan atau Pragaan yaitu yang disebut orang sumber Sendang, adalah dibikin oleh Kudho Panule di dalam perjalanannya menuju ke Sumenep.
 
 
 
Diceritakan, bahwa pada ketika Kudho Panule sampai di Sumenep kebetulan ia punya embah (papa besar) yaitu pangeran Setyodiningrat I sedang menghadap kepada raja Majapahit (yaitu ayah mertua dari Kudho Panule). Yang menemui ia ada di keraton Sumenep ialah pepalih Sumenep yang bernama Joyosingo dan ia punya ibu sendiri yaitu Puteri Kuning.
 
Dari ia punya ibu ia dapat mendengar ia punya riwayat mulai dari bermula hingga akhirnya. Juga ia dapat tahu bahwa tempat pertapaan dari ibunya yaitu suatu gua ada di gunung Geger (Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan), dan pula ia dapat tahu bahwa pada itu waktu ia punya ayah yaitu Adipoday (Panembahan Sapudi yang sampai sekarang kuburannya ada di desa Nyamplong, Kecamatan dan Kawedanan Sapudi), sedang bertapa di gunung Geger. Kudho Panule menceritakan juga pada ibunya tentang ia punya perjalanan mulai dari bermula sampai pada akhirnya dan diberitakan pula, bahwa ia punya saudara muda yaitu Joko Wedi telah menjadi raja Gersik menggantikan ayah mertuanya.
 
Kemudian pepatih Joyosingo bertolak ke Majapahit untuk menyusul pulang ke Sumenep, Pangeran Setyodiningrat yang lalu segera minta diri kepada raja Majapahit dan kemudian menjumpai cucunya ada di Sumenep. Setelah itu maka Kudho Panule minta diri kepada ibunya dan embahnya untuk bertolak ke gunung Geger perlu menghadap ayahnya yang sedang bertapa di sana.
 
Sampai di gunung Geger ia berjumpa dengan ayahnya (Adipoday). Dari ia punya ayah ia menerima Si Mega Remeng yaitu hadiah pusaka dari pamannya yang bernama Adirasa dan sebilah cemeti (pecut) dari ayahnya sendiri (Adipoday), akan tetapi belum diperbolehkan dibawanya, hanya diberitahukan bagaimana caranya apabila ia memanggil itu kuda dan meminta itu cemeti (pecut). Diceritakan, bahwa itu kuda ada memakai sayap, sehingga dapat lari di atas tanah pun pula terbang sebagai seekor burung.
 
 
 
Maka rupa-rupa pelajaran ilmu-ilmu yang digemari orang pada itu jaman, ia dapat menerima dari ayahnya, pun juga ia mendapat tahu dari ayahnya yang nanti dikemudian liari ia akan berperang dengan seorang prajurit yang ulung yang bernama Dempo Awang (sebetulnya : Sampo Awang) seorang panglima perang dari yang akan menunjukkan kekuatannya kepada semua raja-raja di tanah Jawa, Madura dan sekitarnya, la (Dempo Awang) di dalam peperangannya mengendarai suatu kapal (perahu besar) yang tidak hanya dapat berlayar di lautan, akan tetapi juga di daratan dan diantaranya bumi dan langit.
 
Ia dipesan oleh ayahnya, nanti di kemudian hari apabila ia berhadapan perang dengan Dempo Awang, supaya ia lari dengan mengendarai kudanya diantara bumi dan langit yang mana ia tentu dikejar oleh musuhnya. Apabila ia mendengar suara pamannya (Adirasa) yang tentu akan terdengar bersuara : “Pukul !!!” maka ia harus menahan kekang kudanya sehingga kepala itu kuda menoleh ke belakang dan ia harus juga menoleh ke belakang sambil memukul dengan cemetinya ke belakang. Pada itu saat, cemeti akan mengenai kapalnya Dempo Awang yang pasti akan hancur dan jatuh ke tanah sehingga semua isi itu kapal menemui ajalnya.
 
Diceritakan, bahwa Kudho Panule meminta pada ayahnya supaya pulang ke Sumenep bersama-sama dengan dia, akan tetapi ayahnya menolaknya dan berjanji, bahwa diliari kemudian sudah tentu beliau akan pulang. Dengan demikian maka Kudho Panule pulang kembali ke Sumenep dengan sendirian. Sesampainya di Sumenep, ia ceritakan kepada ibunya tentang hal-ihwalnya pada ketika ia menjumpai ayahnya di gunung Geger yang mana amat menjadi suka hati ibunya.
 
Diceritakan, bahwa Pangeran Setyodiningrat 1J telah tinggi usianya. Maka ia berhenti memegang kerajaan Sumenep Utara dan Sumenep selatan dan memasrahkan pemerintahannya kepada cucunya yaitu Kudho Panule dengan seijin raja Majapahit dan mendapat gelaran nama Pangeran Setyodiningrat ke III.
 
Pada itu waktu Kudho Panule (Pangeran Setyodiningrat III) telah mendapat dua orang putera yaitu seorang laki-laki bernama Raden Ario Begonondo dan seorang perempuan yang kemudian menjadi isteri dari sunan Padusan.
 
Pada ketika nobatnya Kudho Panule menjadi raja di Sumenep, maka saudaranya yang ada di Gersik pun pulang ke Sumenep dengan membawa dua orang puteranya. Pada waktu Banyak Wide pulang kembali ke. Gersik, dua orang puteranya tadi seorang laki-laki dan seorang perempuan, ditinggalkan di Sumenep dipasrahkan kepada ibunya (Puteri Kuning).
 
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Sejarah Permulaan Jadinya Pulau Madura 4 Maret 1951 hlm. 17-19
 
Sumber: http://www.lontarmadura.com/kisah-saluran-air-sumber-omben-sampang/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker