Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Barat Ciamis
Kisah Rawa Onom- Lakbok(Ciamis)
- 10 Juli 2018

Legenda/Kisah Rawa Onom seakan tak terpisahkan dengan sejarah perkembangan Kabupaten Ciamis. Dulu, para bupati dan raja-raja Galuh, diyakini punya hubungan dengan lelembut ini. Dalam berbagai hal, Onom dipercaya sering membantu mereka. Konon, kini Onom menghuni Pulo Majeti. Siapa sebenarnya Onom?

 

Kisah bangsa lelembut bernama Onom di Ciamis, tak terpisahkan dengan perjalanan Bupati/Raja Galuh R.A.A. Kusumadiningrat di masa lalu. Raja Galuh yang kerap dipanggil Kangjeng Prebu ini amat dikenal di kalangan masyarakat setempat sebagai bupati yang berhasil membangun Ciamis.

Misalnya, saat memimpin Ciamis menggantikan Raden Adipati Kusumadiningrat pada tahun 1886, Kangjeng Prebu membangun irigasi-irigasi dan dam (bendungan). Misalnya saluran Gandawangi dan Nagawiru untuk mengairi persawahan dan membuka areal baru. Dengan pembangunan irigasi itu, pembangunan sektor pertanian di bawah kepemimpinan Kangjeng Prebu mengalami kemajuan cukup pesat.Dia juga mewajibkan pasangan warganya yang menikah membawa kitri atau bibit pohon kelapa untuk ditanam di halaman rumahnya. Kebijakan itu masih terasa manfaatnya sampai sekarang. Ciamis kini menjadi sentral kelapa dan ada ±13 ribu orang yang menggantungkan hidupnya dari pohon tersebut.

 

Sahabat Onom

Selain sukses membangun Ciamis, Kangjeng Prebu juga dikenal masyarakat sebagai bupati yang memiliki banyak “kelebihan”. Sampai-sampai salah satu peninggalannya di Selagangga, sering didatangi banyak orang dan jadi ajang ngalap berkah. Kelebihan sang bupati diantaranya punya hubungan khusus dengan roh halus yang disebut Onom.

Bentuk hubungan khusus itu misalnya saat ada pesta atau hajat di pendopo, bupati selalu menyediakan tempat dan hidangan khusus untuk Onom. Tempat khusus itu letaknya di belakang pendopo Ciamis. Di situ juga disajikan hidangan yang ditutupi dengan daun pohon kelapa. Tidak semua orang bisa masuk ke ruangan itu, kecuali kuncen Ranca Onom yang pakaiannya terbuat dari kain goni yang terkoyak-koyak dengan tutup kepala kukusan.

 

Hubungan Onom dengan Bupati Ciamis dan keturunannya, kabarnya terus berlangsung dan menjadi bagian kepercayaan masyarakat Ciamis hingga sekarang. Onom tetap dipercaya ikut menjaga keamanan para Bupati Ciamis dan keturunannya dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Beberapa Bupati Ciamis penerus Kanjeng Prebu, bahkan sengaja mengosongkan atau tidak menggunakan salah satu ruangan yang ada di Gedung Negara –tempat tinggal para bupati. Dan dalam setiap ulang tahun Ciamis, sering disediakan ruangan dan makanan khusus untuk Onom. Hanya saja, dalam beberapa tahun terakhir kisah atau kebiasaan itu meredup.

Salah seorang Bupati Ciamis, Sastrawinata, pernah mendapatkan penghargaan Bintang Willems Orde, dari pemerintah kolonial Belanda. Penghargaan itu diberikan karena Sastrawinata dinilai berhasil meredam pemberontakan PKI di Ciamis. Tokoh PKI Alimin dan Muso datang ke Ciamis pada tahun 1926.

 

Menurut cerita rakyat Ciamis, bahwa keberhasilan bupati meredam pemberontakan PKI itu karena bantuan Onom. Ceritanya, setelah membunuh beberapa warga Ciamis, pemberontak itu sempat mengepung bupati yang sedang berada sendirian di pendopo. Tapi begitu pemberontak mendekat, mereka melihat ada ratusan orang bersenjata lengkap berada di belakang bupati. Para pemberontak pun mundur. Padahal waktu itu bupati sendirian. Itu salah satu kisah Onom dalam kaitannya sebagai pelindung bupati di Ciamis.

 

Mahluk Halus

Sebutan Onom, siluman dan Pulo Majeti di daerah Purwaharja Ciamis ini selalu berkait dengan kisah mistik, kesan angker dan menyeramkan. Bagi sebagian warga Ciamis, cerita soal Onom dan Pulo Majeti bagaikan bagian dari sejarah daerah mereka. Tak heran bila cerita soal Onom masih sering terangkat ke permukaan yang diwariskan secara turun temurun.

Onom seolah menjadi simbul nilai magis bagi sebagian warga Ciamis. Sejak zaman dulu sampai sekarang, sebutan itu, paling tidak ikut menambah pamor bagi mereka yang sedang berada di rantau orang. Konon, bila warga yang suatu saat mendapatkan kesulitan atau marabahaya, Onom akan tiba seketika asal dipanggil, sehingga yang bersangkutan akan terhindar dari marabahaya yang sedang mengancamnya.

Onom dipercaya sebagai mahluk halus (siluman), yang tidak saja dapat dipanggil jika diperlukan, tetapi juga mampu memberikan bantuan dan sumber kekuatan bagi yang memanggilnya. Tak heran bila kemudian berkat pengaruh onom, sebagian masyarakat Ciamis (yang percaya pada Onom) memiliki kebanggaan tersendiri sebagai warga Ciamis dengan kekuatan Onomnya.

Sebelum tahun 1970-an, setiap ada acara-acara resmi pemerintahan, senantiasa diawali dengan upacara ritual “pemanggilan” Onom. Misalnya ketika Gubernur Jabar akan meresmikan penggunaan helikopter “Ciung Wanara” yang kebetulan dilakukan di Ciamis. Sebelum acara peresmian dilakukan, diadakan upacara permujaan dan pemanggilan Onom.

Kemunculan Onom ditandai dengan hadirnya seekor kuda tak berpenumpang, tapi tubuhnya bermandi keringat dengan napas terengah-engah seakan menanggung beban yang berat. Kuda yang datang ke lokasi upacara itu diyakini tengah ditunggangi oleh ratu Onom. Namun saat ini, kepercayaan dan pemujaan terhadap Onom lengkap dengan sesajian yang dilakukan oleh pihak pemerintah tidak ada lagi. Ini terjadi seiring dengan makin melunturnya kepercayaan, pemujaan dan pemanggilan Onom yang berkembang di masyarakat Ciamis sendiri.

 

Pulo Majeti

Sisa-sisa kepercayaan terhadap Onom kini masih berkembang di sebagian kecil masyarakat, terutama yang tinggal sekitar pusat kekuatan Onom, yakni Pulo Majeti. Pulo Majeti ini dulunya berada di tengah-tengah Rawa Onom. Pulo Majeti inilah disinyalir sebagai pusatnya kerajaan Onom. Orang yang datang ke tempat ini tidak diperbolehkan mengeluarkan kata-kata yang sompral (seenaknya).

 

Menurut Eming Surabraja, mantan Kepala Desa Purwaharja ke 17, Onom merupakan pasukan balatentara dari Kerajaan Medang yang ditaklukkan balatentara Keralaan Galuh. Karena kecewa atas kekalahan itu, Raja Medang berikut pengikutnya “tilem” (menghilang) di Pulo Majeti. Yang tilem di Pulo Majeti itu adalah Prabu Selang Kuning Sulaeman Anom, Ibu Ratu Gandawati ingkanggarwa, Raden Patih Kalintu Undara Pamerat Jagat, Raden Jaksa Jagabuana, Raden Wedana Langlangbuana, Kiai Bagus Tol Malbaeni dan Kiai Bagus Mantereng.

 

Sedangkan pengikutnya terdiri Mas Bugel, Mas Bedegel, Mas Rimpung dan Mas Jemblung . Namun sebelum “tilem”, mereka berjanji akan mengirimkan upeti setiap tahun sesuai permintaan Raja Galuh. Pemimpin kerajaan Medang, kemudian dipercayakan kepada Prabu Anom, yang ditugaskan dari Kerajaan Galuh. Akan tetapi Prabu Anom dalam menjalankan tampuk kepemimpinannya bertindak semena-semena. Hingga nama Kerajaan Medang berganti nama menjadi Kerajaan Onom.

tina : swaralakbok.com

 

 

Sumber: https://www.facebook.com/SalakanagaraFansPage/posts/rawa-onom-lakbok(ciamis)-legenda-kisah/623171027728375/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna