Sampai saat ini di daerah Banyuwangi masih banyak dongeng rakyat yang hidup dan berkembang ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Pada umumnya dongeng rakyat atau cerita rakyat itu hanya berfungsi sebagai pelipur lara. Hal ini disebabkan ceritera atau dongeng rakyat bukan peristiwa sejarah murni, tegasnya ceritera rakyat tidak dapat dijadikan pedoman atau penetapan sesuatu hal yang penting, seperti: Penetapan Hari Jadi suatu kota atau daerah. Dalam kenyataan masyarakat di tanah air masih banyak yang awam dan berpola pikir tradisional yang lebih cenderung menonjolkan nilai-nilai mithologi dari pada nilai yang historisnya, sehingga sering mengkaburkan pemahaman mereka terhadap peristiwa sejarah yang sebenarnya, bahkan dapat mempengaruhi pandangan hidup sehingga dapat merugikan kepentingan masyarakat itu sendiri. Meskipun demikian, ceritera rakyat atau dongeng rakyat perlu dilestarikan dan dipertahankan guna menambah khasanah kebudayaan nasional kita, khususnya yang berlatar belakang pendidikan. Dongeng rakyat Putri Sedah Merah ini berkisar antara Mas Jolang Putri Sedah Merah yang dikaitkan dengan ceritera sejarah Kesultanan Mataram. Dalam hal ini sudah menunjukkan bahwa pengaruh Islam telah masuk di kerajaan Blambangan pada saat itu. Adapun dongeng rakyat “Putri Sedah Merah”, adalah sebagai berikut:
Pada saat itu Sultan Mataram sudah berulang kali mencoba untuk menaklukkan Kerajaan Blambangan, akan tetapi selalu mengalami kegagalan. Setelah Panembahan Senopati berhasil menaklukkan Blambangan, namun Sultan Mataram tidak menjadikan Kerajaan Blambangan sebgai daerah jajahannya. Panembahan Senopati sangat kagum akan kegigihan dan kesaktian Panglima Perang bersama para prajuritnya dalam membentengi Kerajaan Blambangan. Demikian pula Sri Sultan juga memuji kebijaksanaan raja Blambangan dalam membina angkatan perangnya. Itulah sebabnya Sultan Mataram tidak menganggap raja Blambangan sebagai taklukkannya, akan tetapi sebagai Sekutunya.
Pada saat Adipati Kinenten dari Pasuruhan mengadakan pemberontakan terhadap Mataram, secara tidak langsung Blambangan memberi bantuan kepada Pasuruhan. Hal itu menyebabkan Sultan Mataram marah serta memerintahkan Mas Jolang dan Ki Juru Martani mengerahkan pasukannya untuk menghukum dan menyerang Blambangan. Untuk mempertahankan kedaulatan kerajaan Blambangan, Prabu Siung laut memerintahkan Patih Jatasura bersama adiknya, yakni Hario Bendung Adipati Asembagus mengerahkan pasukan Blambangan untuk menanggulangi serangan dari pasukan Mataram itu.
Dalam pertempuran yang cukup sengit, pasukan Mataram ternyata kewalahan menghadapi para prajurit Blambangan, bahkan Mas Jolang bersama Ki Juru Martani melarikan diri dari medan pertempuran. Senopati Blambangan yang berusaha mengejar dan menangkap kedua tokoh dari Mataram itu ternyata sia-sia. Dalam pelarian tersebut, Mas Jolang berhasil menyelinap dan bersembunyi di Tamansari. Di dalam tamansari itu Mas Jolang bertemu dengan Putri Sedah Merah yang akhirnya keduanya saling jatuh cinta, Kendati demikian ulah kesatria Maratam bersama putri Blambangan itu diketahui oleh keluarga istana, yang kemudian mas Jolang ditangkap, namun karena permohonannya Sang putri kepada raja, sehingga Prabu Siung Laut terpaksa merestui pernikahan Mas Jolang dengan putri Sedah Merah.
Dalam pelariannya Ki Juru Martani menuju ke arah Selatan sambil berteriak-teriak dan memanggil-manggil (bhs. Jawa: celuk-celuk), namun tidak ada jawaban, sedang usahanya mencapai Mas Jolang tidak berhasil. Menurut kisahnya, tempat Ki Juru Martani berteriak-teriak memanggil Mas Jolang itu dinamakan Desa Benculuk (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cluring, Banyuwangi). Sementara itu Patih Jatasura dalam mengejar musuh yang didampingi oleh salah seorang putra raja, yakni Mas Kembar. Untuk menjalankan tugasnya, secara tiba-tiba putra raja itu meninggal dunia. Hal itu menyebabkan Prabu Siung Laut sangat sedih, yang akhirnya terkena sakit ingatan (setengah gila).
Setelah Prabu Siung Laut sakit ingatan dan Mas Kembar mangkat, kesempatan itu akan dipergunakan Patih Jatasura untuk mempersunting Putri. Sedah Merah, karena Prabu Siung Laut pernah menjanjikan akan menjodohkan Patih Jatasura dengan putri Sedah Merah. Dalam hal ini Patih Jatasura segera masuk ke tamansari untuk menemui putri idaman hatinya. Betapa kecewa dan marahnya setelah menyaksikan dan mengetahui bahwa Putri Sedah Merah ternyata telah dipersunting oleh Mas Jolang yang tak lain adalah bekas musuh ayahanda raja. Dengan kemarahan yang meluap-luap Patih Jatasura menyerang dan berhasil membunuh Putri Sedah Merah. Sedangkan Mas Jolang berhasil menyelamatkan diri bersama putranya (hasil perkawinannya dengan Putri Sedah Merah).
Patih Jatasura setelah membunuh Putri Sedah Merah menuju ke Asembagus menemui Hario Bendung dan membuat fitnah bahwa Putri Sedah Merah dibunuh oleh prajurit Mataram. Mendengar kematian Putri Sedah Merah, Adipati Asembagus naik pitam dan segera mengerahkan pasukannya bergerak menuju Blambangan guna menuntut balas atas kematian Putri Sedah Merah kepada prajurit Mataram. Pada waktu itu Hario Bendung bertemu dengan Ki Juru Martani dan Ki Juru Martani menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya bahwa yang membunuh Putri Sedah Merah adalah Patih Jatasura yang tak lain kakak Hario Bendung sendiri. Di samping itu Ki Juru Martani juga memberi tahu bahwa Hario Bendung sebenarnya masih putra keponakan Ki Juru Martani sendiri.
Setelah mendengar dan mengerti duduk persoalan yang sebenarnya dari pamannya dan menyadari kenyataan itu Hario Bendung berbalik meluapkan amarahnya kepada kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura. Sang Adipati kemudian bertekat untuk menghukum Ki Patih atas kekejamannya terhadap Putri Sedah Merah. Sedangkan pada saat Patih Jatasura ditemui Hario Bendung, Ki Patih Blambangan itu sedang memperkosa dan membunuh istri pamannya (Ki Juru Martani). Menyaksikan kenyataan itu Hario Bendung semakin meluapkan amarahnya dan terpaksa menghabisi nyawa kakaknya, yakni Ki Patih Jatasura).
Kelanjutan cerita tersebut, mengisahkan bahwa antara Mas Jolang, Ki Juru Martani dan Hario Bendung ternyata saling menjaga hubungan yang cukup baik, bahkan putra Mas Jolang dijadikan menantu dan dijodohkan, dengan salah seorang putri Hario Bendung. Dengan demikian terjadilah jembatan untuk membina perdamaian antara Kesultanan, Mataram dan Kerajaan Blambangan, Mulai saat itu antara Kesultanan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah dan Kerajaan Blambangan yang berpusat di Jawa Timur terus bahu-membahu dan saling bekerja sama dalam mengatur pemerintahan serta membina rakyatnya.
Sebenarnya dongeng rakyat Blambangan, yakni Putri Sedah Merah dapat digolongkan sebagai “Roman Sejarah”. Hal ini mengingat di samping sebagaimana diketengahkan di muka bahwa dongeng rakyat Putri Sedah Merah itu dihubung-hubungkan dengan peristiwa di bumi Mataram, juga hubungan Putri Sedah Merah dengan Mas Jolang putra Mahkota Kesultanan Mataram ternyata merupakan hubungan asmara (percintaan).
Perihal roman sejarah sebenarnya merupakan gabungan ceritera historis yang sebenarnya (faktual) dan ceritera rekaan (dongeng rakyat). Dalam hal ini seyogyanya dipilah-pilahkan mana yang ceritera historis dan mana yang ceritera non historis, karena ceritera historis (faktual) memungkinkan sekali dijadikan sebagai pedoman untuk menetapkan sesuai hal yang penting, sedangkan yang non historis (dongeng rakyat) sebagaimana tersebut di atas pula hanya berfungsi sebagai hiburan atau pelipur lara.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tri Asih Rahayu, Spd, Gema Blambangan, Majalah Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, GB No. 069/1997. Banyuwangi: Humas Pemerintah Kabupaten Dati II Banyuwangi, 1997. hlm. 43-45.
Sumber: https://kanal3.wordpress.com/2013/09/21/cerita-rakyat-banyuwangi-putri-sedah-merah/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara