Syahdan pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami istri yang mempunyai dua orang anak. Ahmad dan Ali nama kedua anak itu.
Ahmad dan Ali dikenal sebagai anak yang baik hati. Keduanya patuh pada perintah orangtuanya dan sangat rajin membantu kedua orangtua mereka. Selain itu, Ahmad dan Ali juga rajin ke surau untuk bersembahyang dan juga mengaji.
Pada suatu hari Ahmad dan Ali melihat seekor burung marbuk. Burung yang sangat istimewa dalam pendangan masyarakat. Menurut cerita, barang siapa yang memakan kepala burung merbuk maka dia akan menjadi raja. Dan barangsiapa yang memakan hati burung merbuk maka dia akan menjadi seorang perdana menteri. Ahmad dan Ali lantas menangkap burung merbuk tersebut. Namun mereka tidak berniat menyembelih burung merbuk itu melainkan untuk merawat dan memeliharanya.
Dalam pemeliharaan keduanya, burung merbuk itu menjadi jinak. Burung merbuk itu tidak dikandangkan. Ia bebas terbang namun terbangnya si burung merbuk tidak pernah jauh dari rumah Ahmad dan Ali. Setiap kali mendapati Ahmad dan Ali berada dirumah, si burung merbuk hinggap di dekat keduanya. Ahmad dan Ali selalu mengajak burung itu bermain, dan saat ke ladang mereka selalu mengajak burung itu ketika membantu pekerjaan ayah mereka.
Ayah Ahmad dan Ali ingin sekali menjadi raja atau setidaknya menjadi perdana menteri. Menurutnya, keinginnan itu akan terlaksana jika ia memakan kepala atau hati dari siburung merbuk. Dia dan istrinya lantas menyusun rencana untuk menyembelih dan memasak si burung merbuk peliharaan kedua anak mereka. Setelah memikirkan berbagai cara, mereka pun menemukan cara untuk mewujudkan niat mereka menyembelih dan memasak burung merbuk.
Pada suatu hari Ahmad dan Ali berniat mengajak burung merbuk itu ke ladang seperti biasanya. Namun ibu mereka melarang. Kata Si ibu,” Aku khawatir jika burung merbuk yang jinak itu akan diambil orang.”
Ahmad dan Ali yang patuh pada nasihat orang tua lantas menyetujui perintah ibunya. Mereka tinggalkan burung merbuk itu ketika berangkat ke ladang.
Sepeninggal Ahmad dan Ali, ibu mereka menangkap dan menyembelih si burung merbuk. Dibuatnya menjadi daging burung panggang. Ketika Ahmad dan Ali pulang dari ladang, ibu mereka berdusta dengan mengatakan.” Sepeninggalan kalian burung merbuk peliharaan kalian itu diterkam oleh kucing. Ibu buru-buru menyembelihnya dan memanggangnya.”
Ahmad dan Ali sangat sedih mendapati burung merbuk yang mereka pelihara telah menjadi daging panggang.. Mereka terpaksa memakan daging panggang burung peliharaan mereka sebagai lauk karena diminta oleh ibu mereka. Ahmad mengambil bagian kepala sedangkan Ali mengambil bagian hati dari si burung merbuk. Mereka menyantap burung merbuk itu sebagai lauk pelengkap nasi. Karena sangat lapar setelah bekerja di ladang mereka makan dengan sangat lahap.
Tak terkirakan kemarahan ayah Ahmad dan Ali ketika mengetahui bahwa kedua anaknya telah mendahuluinya menyantap kepala dan hati si burung merbuk. Begitu marahnya sehingga dia mengusir kedua anaknya keluar dari rumah.
Dengan sedih Ahmad dan Ali pergi dari rumah tanpa membawa bekal apapun juga. Mereka pergi tak tentu arah. Jika perut mereka terasa lapar mereka mencari buah-buahan, umbi-umbian serta dedaunan yang mereka temui untuk makanan mereka. Ketika hari menjelang senja, keduanya tiba dipinggir sebuah hutan. Ahmad dan Ali berniat bermalam dipinggir hutan tersebut. Mereka mendapati sebuah pohon besar. Ahmad meminta adiknya untuk tidur diatas pohon, sementara dirinya tidur dibawah pohon sambil berjaga-jaga.
Pada zaman terebut ada sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang telah tua usianya. Sang raja tidak mempunyai anak lelaki. Anak-anak perempuannya tidak diperkenankan menjadi pengganti sesuai dengan peraturan yang berlaku pada kerajaan itu. Rajapun membuat syaembara siapapun yang disembah gajah putih peliharaanya akan dinobatkan sebagai raja pengganti dirinya.
Gajah putih peliharaan raja lantas dilepas. Perdanamenteri diikuti para hulubalang dan prajurit mengawal dibelakang si Gajah putih. Gajah putih itu terus berjalan sampai akhirnya tiba dipinggir hutan tidak jauh ditempat ahmad tidur, gajah putih itu mendadak merebahkan tubuhnya dan bersujud.
Perdana Menteri, segenap hulubalang dan para prajurit mendapati Ahmad sedang tengah tertidur didepan Gajah Putih. Mereka lantas menaikan tubuh Ahmad ke atas punggung Gajah putih dan segera mereka kembali ke istana kerajaan. Mereka telah menemukan calon pengganti raja mereka.
Ketika Ahmad terbangun, terperanjatlah dirinya ketika mendapati dirinya berada di istana kerajaan. Sanga Raja menyambut dengan gembira. Begitu pula dengan warga kerajaan lainnya. Sang Raja lantas mengajak Ahmad memasuki istana kerajaan dan sejak saat itu Ahmad tinggal di istana kerajaan sebagai calon pengganti Raja.
Sementara Ali yang masih berada di pinggir hutan sangat terperanjat ketika terbangun. Ia tidak mendapati kakaknya. Ia menyangka, kakaknya itu telah dimangsa hewan buas penghuni hutan. Ali sangat bersedih. Ia pun menangis di bawah pohon besar tempatnya beristirahat. Ali lantas mencari kakaknya ke dalam hutan. Ia terus mencari hingga akhirnya tersesat dihutan belantara tersebut.
Pada suatu hari Ali melihat dua ekor burung rajawali besar tengah bertarung. Selintas mengamati, Ali mengetahui jika dua burung rajawali besar itu tengah memperbutkan sebatang ranting kayu.
“Tentu bukan ranting kayu biasa.” Pikir Ali.” Bisa jadi itu merupakan ranting kayu bertuah.”
Mendadak ranting kayu yang diperebutkan dua burung rajawali besar itu jatuh di dekat tempat Ali berdiri. Ali lalu mengambilnya. Ali lantas berujar.” Wahai ranting kayu bertuah, tolong antarkan aku kepada kakakku.”
Keajaiban pun terjadi. Sesaat setelah Ali berujar, tubuhnya melayang dan jatuh di taman kerajaan. Putri bungsu sang Raja yang tengah berada di taman seketika menjerit ketakutan ketika mendapati Ali berada di taman kerajaan itu. Para prajurit bergegas datang ke taman kerajaan dan menangkap ali.
Ali pun dianggap bersalah karena memasuki taman kerajaan tanpa izin. Ia harus diadili.
Ketika pengadilan atas diri ali digelar. Ahmad turut pula menghadiri. Ia duduk disamping sang Raja. Ketika itu Ahmad tidak lagi mengenali siapa sosok pemuda yang tengah menjadi pesakitan tersebut.
Dihadapan sang Raja, ahmad dan juga segenap hadirin. Ali lantas menceritakan siapa dirinya dan juga penyebab dirinya dapat berada di taman kerajaan. Terperanjatlah Ahmad ketika mendengar penuturan si pesakitan yang tidak lain adalah adik kandungnya sendiri.
Ahmad lantas menjelaskan kepada sang Raja perihal siapa sesungguhnya si pesakitan.
“Benarkah orang ini adikmu sendiri?” tanya sang Raja
“Benar, yang mulia.”
Sang Rajapun membebaskan Ali. Sang Raja dan segenap hadirin begitu terharu ketika Ahmad dan Ali saling berpelukan di hadapan mereka. Ali lantas hidup di istana bersama kakak tercintanya.
Beberapa waktu kemudian sang Raja menikahkan putri sulungnya dengan Ahmaddan putri bungsunya dengan Ali. Pesta pernihakaan itu dilangsungkan dalam acara megah dan besar-besaran. Para Raja, pangeran, bangsawan dan orang ternama diundang dalam acara pernikahan tersebut. Berselang beberapa waktu kemudian sang Raja dan Perdana Menteri mengundurkan diri. Ahmad di tunjuk menjadi Raja sedangkan Ali ditunjuk menjadi Perdana Menteri.
Ahmad dan Ali pun hidup berbahagia sebagai Raja dan Perdana Menteri. Mereka memerintah dengan adil dabn bijaksana hingga rakyatpun semakin maju dan sejahtera.
Pesan Moral
Kita hendaknya saling sayang menyayangi dengan saudara. Kebersamaan dengan saudara akan dapat saling kuat-menguatkan.
Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/02/kisah-ahmad-dan-ali-sumatera-utara/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara