Musik dan Lagu
Musik dan Lagu
Kidung Kalimantan Timur Dayak Kenyah
Kentau
- 20 Maret 2018

Kentau adalah jenis kidung Kenyah yang dibawakan untuk menghibur hati. Kentau dapat diuraikan melalui dua aspek. Pertama, dilihat dari situasi pada saat kentau dibawakan; dan, kedua, dari cara melantunkan sebuah kentau.

Situasi Saat Kentau Dilantunkan

Kentau dapat dikelompokkan berdasarkan situasi pada saat kentau dilantunkan. Istilah yang digunakan untuk subklasifikasi kentau adalah dayung 'lagu”. Jenis dayung yang ditemui pada saat penelitian ini adalah :

  1. Dayung Arui, yaitu dayung yang dilantunkan pada saat memanggil orang agar keluar dari amin mereka dan berkumpul di usei, beranda”, untuk menyambut tamu atau untuk bersantai.
  2. Dayung Badetiang, yaitu dayung yang dilantunkan untuk menghibur hati dan biasanya dapat pula digunakan untuk mengiringi tarian.
  3. Dayung Ajau, yaitu dayung yang dilantunkan pada saat ada kegiatan di ladang, misalnya pada saat uyen umaq 'membuka ladang', menugal menanam', maupun pada saat padei muding 'panen'.
  4. Dayung Pesalau Anaq, yaitu dayung yang dilantunkan pada saat ibu atau ayah menidurkan anaknya.
  5. Dayung Pesun Bali, yaitu dayung yang dilantunkan untuk memanggil hantun atau roh. Dayung ini lebih bersifat mantera dan dibawakan pada saat ada orang sakit. Maksud dayung ini adalah memanggil arwah nenek moyang yang sesudah meninggal untuk memberikan semacam petunjuk apakah penderita akan sembuh atau tidak.

Apabila kita merujuk kembali kepada keterangan mengenai kreativitas dan kemampuan improvisasi pembawa kentau, maka kita akan melihat bahwa sebuah Dayung Ajau akan dapat dikenali dari nyekilunnya, tetapi untuk setiap kesempatan yang berbeda akan muncul mipet Dayung Ajau yang berbeda, bergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi pembawa kentau pada saat sayung itu dilantunkan. jadi, kita tidak akan menemui mipet dayung syair lagu” yang standar atau yang sama. Di samping dayung-dayung di atas, mungkin masih ada dayung-dayung lain dalam khsanah kentau suku bangsa Kenyah ini. Untuk dapat mengungkapkan hal ini dibutuhkan peneltian lebih lanjut. Hal lain yang masih dapat diteliti lebih lanjut adalah sejauh mana sebuah dayung merupakan subklasifikasi dari kentau.
 

Cara Melantunkan Kentau

Setiap kentau dilantunkan dengan cara yang berbeda. Yang dimaksudkan dengan cara melantunkan kentau adalah suasana yang melatarbelakangi suatu kentau, bagaimana cara kentau itu dibawakan oleh masyarakat. Masing-masing jenis dayung dibawakan dengan cara yang berbeda.

1. Dayung Arui. Dayung ini dilantunkan pada saat memanggil orang-orang dalam umaq dadoq 'rumah panjang”. Isi mipet adalah ajakan untuk bergabung. Biasanya para wanita mengelilingi rumah panjang sambil mengajak orang untuk berkumpul di usei, serambi'. Orang-orang akan keluar dari amin mereka masing-masing dan ikut dengan barisan yang melantunkan Dayung Arui itu. Setelah cukup banyak orang bergabung, mereka duduk di usei dan mulia dengan hiburan lainnya. Hal ini mencerminkan nilai budaya kebersamaan. Semua penghuni amin diajak untuk berpartisipasi dalam acara ini. Dayung Arui ini dinyanyikan bersama-sama dengan dipimpin oleh seorang penyanyi solo yang disebut julong 'di muka, di depan”. Julong ini berfungsi memimpin dan menetapkan mipet yang akan dilantunkan oleh penyanyi-penyanyi lainnya (koor). Kebiasaan seperti ini, mencerminkan nilai budaya kebersamaan, gotong royong dan juga kerukunan dan ketertiban. Koor mencerminkan keber samaan dan gotong royong sedangkan kebiasaan untuk menaati tanda-tanda yang diberikan oleh julong mencerminkan kerukunan dan ketertiban.

2. Dayung Badetiang. Dayung ini dibawakan setelah semua orang berkumpul dan biasanya juga mengiringi tari-tarian. Isi mipet berbagai macam bergantung pada situasi dan kondisi. Ada 3 dayung untuk menyambut tamu, ada dayung untuk bersuka ria karena ada anggota umaq dadoq yang menikah, dan lain-lain. Dayung ini pun dipimpin oleh seorang juloq dan diiringi koor. Seperti dalam Dayung Arui, kegiatan dalam Dayung Badetiang mencerminkan nilai budaya kebersamaan, kerukunan, ramah-tamah, gotong-royong, dan tertib. Nilai budaya ramah-tamah tercermin dalam dayung yang dilantunkan untuk menyambut tamu. Bergantung dari isi dayung, tercermin pula nilai kesetiaan senioritas dan malu.

3. Dayung Ajau. Dayung dibawakan pada saat orang-orang sedang istirahat sehabis mengerjakan ladang mereka. Isi mipet merupakan semacam evaluasi mengenai hasil pekerjaan mereka pada saat itu. Di Apo Kayan, tanah asal suku bangsa Kenyah, dayung ini merupakan kegiatan komunikasi antarladang. Dalam mipetnya para peladang saling menceritakan hasil pekerjaan mereka saling menanyakan hasil pekerjaan yang telah dicapai oleh peladang lainnya. Dayung ini dibawakan secara bersahut-sahutan. Oleh sebab itu, dibutuhkan seorang juloq yang bersuara lantang dan nyaring, di samping, tentunya merdu. Semakin jelaslah di sini, bahwa meskipun nyekilun daru dayung ini sama, mipet dari masing-masing peladang akan berbeda bergantung pada kondisi ladang masing masing. Sekarang, kegiatan melantunkan Dayung Ajau ini sudah jarang dilakukan. Dalam dayung ini tercermin nilai budaya kebersamaan dan kerajinan. Nilai budaya kebersamaan terungkap dari keinginan mereka untuk mengadakan evaluasi hasil kerja peladang lain. Perbedaan hasil akan memacu semangat mereka untuk menghasilkan kerja yang baik. Peladang yang cepat kerjanya akan bekerja lebih cepat supaya selalu unggul, peladang yang tertinggal akan berusaha untuk menyamai hasil peladang yang unggul. Dalam hal ini, nilai budaya lain yang juga tampil adalah kerajinan.

4. Dayung Pesalau Anaq. Dayung ini dibawakan pada saat ibu atau ayah menidurkan anaknya. Isi mipet pada zaman dahulu adalah agar anak tidur sementara orang tua akan menghadapi musuh yang menyerang desa mereka. Sekarang isi mipet biasanya berupa doa orang tua untuk anaknya. Cara membawakan Dayung Pesalau Anaq tersebut adalah dengan meletakkan anak dalam abanbaq ‘gendongan anak’,dan digendong di punggung orang tuanya. Kemudian, sambil mengayunkan tubuhnya ke depan, selawan anaq 'membuai anak’, sang ibu atau ayah melantunkan Dayung Pesalau Anaq. Dayung ini tidak dibawakan oleh julong. Nilai budaya tidak terlihat dari cara dayung ini dibawakan, melainkan lebih dalam isi dayung.

5. Dayung Pesun Bali. Pada saat dayung ini dibawakan, dibutuhkan perlengkapan upacara seperti gong kecil, telur ayam, nyanting bambu yang dibelah tipis sepanjang kurang-lebih 18 cm'. Pembawa kentau ini adalah seseorang yang berfungsi sebagai dukun. Seperti dalam Dayung Peselau Anaq, nilai budaya tidak tercermin dalam cara dayung ini dibawakan melainkan dari kandungan dayung itu sendiri. Dalam penelitian ini, tidak berhasil direkam jenis dayung ini. Hal ini terjadi karena, pertama, pada saat penelitian ini dilaksanakan tidak ada penduduk yang sakit parah dan, kedua, pengaruh agama Kristen melarang diadakannya kegiatan per dukunan. Praktek pengobatan yang dijalankan adalah praktek pe ngobatan modern.

 

Berikut ini, kita dapat melihat contoh sebuah kentau, yaitu Dayung Arui yang diikuti oleh terjemahan secara harafiah dan terjemahan secara bebas.

 

arui nelan arui arui

nelan arui arui name nelan jengan

he amai

nei hem telu menoq

ini amai singket lepoq

ini amai abong ayan

he amai

ini niaq ameq ubaq

amai ubaq name kengelinga dau tira

kem amai nang kampung uweq

he amai

kudaq nameq nengayat

adding amai ngugun tuket amai neput bulan

 

Terjemahan harfiahnya sebagai berikut:

Arui yang sebenarnya arui

Yang sebenarnya arui kamu sebenarnya Lelah

Hai bapak

Datang kalian banyak pengunjung

Ini bapak setiap kampung

Ini bapak abong ayan (pembentuk ritme)

Hai bapak

Ini yang kamu kehendaki

Bapak kehendaj kita semakin mendengarkan suatu nasehat

Kalian bapak dengan kampung ibu

Hai bapak

Berapa kamu kemampuan

Terlebih dahulu bapak menopanmgh tiang tuket bapak bagian

Dinding yang terujung rumah kami

 

Terjemah bebasnya sebagai berikut:

Meskipun kami lelah

Kami merasa bahagia menerima kunjungan bapak-bapak ke

Kampung kami

Dan kami semua berkumpul disini

Untuk mendengrkan nasehat bapak

Karena dalam kenyataannya

Apalah daya kami untuk menunjang kelangsungan hidup

Kampung kamu ini

Justru nasehat daru bapak inilah yang kami perlukan

 

 

Sumber: Konsep Tata Ruang Suku Bangsa Dayak Kenyah di Kalimantan Timur – Edi Sedyawati, EKM. Masinambow, Gunawan Tjahyono

 

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu