Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Maluku Maluku
Keganasan Burung Garuda Di Pulau Buru
- 27 Desember 2018

Secara administratip pemerintahan pulau ini dibagi menjadi dua kecamatan yakni Kecamatan Buru Utara dengan Ibu kotan Namlea dan Kecamatan Buru Selatan dengan ibu kota Leksula. Sebelum lahir kota Leksula sebagai pelabuhan dan ibu kota dari 54 desa dalam Kecamatan Buru Selatan ini, maka desa Tifu dipilih oleh penjajah Belanda sebagai pelabuhan dan ibu kota Onderafdeling. Tempat ini dipilih oleh Belanda justru karena letaknya sangat terlindung dalam sebuah teluk kecik yang indah dan tenang.

Namun pada satu saat timbullah pikiran bahwa latar belakang kedudukan Tifu tidak begitu baik karena terletak dalam sebuah teluk yang indah yang mengambil bentuk seperti kolam sehingga menutupi pemandangan laut lepas yang indah. Akibatnya kota ini dialihkan ke sebuah dusun kecil dan kemudian dinamakan Leksuka yang hingga kini berperan sebagai kota dan kota pelabuhan Kecamatan Buru Selatan.

Walaupun kota/desa Tifu telah dilupakan oleh beberapa generasi sebagai ibu kota dan kota pelabuhan yang pertama, namun Tifu hingga saat ini masih meninggalkan satu kenangan cerita yang sampai sekarang menjadi buah bibir penduduk sekitarnya. Di sebelah Utara desa Tifu sebuah gunung yang tidak begitu tinggi. Gunung itu bernama gunung Garuda, yang bilamana dipandang dari arah pelabuhan, warna gunung itu nampaknya kemerahan-merahan.

Pada gunung itu terdapat dua buah liang batu yang letaknya agak berjauhan satu dengan yang lainnya. Kedua liang batu tersebut berdiamlah sepasang burung buas, yaitu jenis burung yang terbesar di pulau Buru. Karena demikian besar burung itu sehinga bilamana burung itu terbang melewati desa Tifu, maka hampir sebagian desa itu menjadi gelap akibat bayangan dari burung besar itu. Burung itu tidak tinggal dalam satu sarang tetapi masing-masing pada sarangnya yaitu lubang atau liang batu tadi.

Demikian sepasang burung itu tidak sama ganasnya. Yang paling ganas ialah burung betina, karena betinalah yang bertugas mencari makan. Makanan dari burung tersebut adalah manusia, tetapi agak aneh pula manusia yang menjadi mangsa burung itu bukanlah manusia yang menghuni di sekitar daerah itu. Makanan yang senantiasa diincar oleh burung betina itu ialah bilamana ada kapal yang berkebangsaan asing berlayar menuju darah dan bermaksud akan mendarat, maka keluarlah burung betina dari liang batu tadi terbang menuju kapal tersebut. Pada saat burung tersebut mendekati kapal itu maka diangkatlah kapal tersebut beserta muatan manusia, tegasnya kapal dengan segala isinya lalu diterbangkan ke sarangnya, sambil berteriak menggemparkan bumi sekitarnya sebagai tanda kegirangan.

Di sanalah di atas gunung itu kapal beserta seluruh isinya menjadi mangsa lezat dari sepasang burung tersebut. Keadaan atau peristiwa ini tidak terjadi hanya sekali tetapi terjadi beberapa kali. Akibatnya berita ini tersiar kemana-mana serta sempat didengar oleh para pelaut Cina. Mendengar berita yang aneh tetapi menakutkan ini mereka menjadi takut. Sejak dahulu kala orang Cina sudah tiba di Maluku dan bilamana mereka ke Maluku sering mereka lewat di sana. Berita yang aneh dan menakutkan itu senantiasa mereka pikirkan. Mereka berusaha untuk mendapatkan satu cara yang baik agar burung celaka itu dapat dimusnahkan. Sebab mereka harus tinggal memilih apakah burung itu harus dihancurkan atau mereka pasti dihancurkan oleh burung itu bilaman mereka nanti lewat di sana.

Pada suatu ketika berlayarlah sebuah kapal layar berkebangsaan Cina di mana kapal itu pasti akan melewati daerah itu dan mereka tentu akan berhadapan dengan malapetaka tersebut. Sejak kapal itu meninggalkan pelabuhan di daratan Cina mereka berusaha keras agar dapat menemukan satu cara yang ampuh untuk menghadapi burung itu bilamana pada saatnya mereka memasuki perairan tersebut. Sebelum mereka dalam hal ini kapal tadi memasuki parairan Tifu sudah ditemui satu cara sehingga nakhoda kapal memberikan komando kepada semua awak kapal agar meeka nanti berusaha untuk membunuh burung celaka itu. Kini kapal itu berlayar dengan megahnya makin lama mendekati perairan Tifu.

Ketika kapal tersebut sudah mendekati pantai Buru Selatan terdengarlah komando bahwa semua awak kapal harus naik ke atas geladak sambil membawa senjata masing-masing berupa sebatang besi yang panjangnya kurang lebih 3 meter dan ujungnya sangat runcing. Selain itu dikomandokan oleh nakhoda bahwa semua logam yang terdapat pada semua tiang kapal harus dipanaskan. Ketika kapal itu mulai memasuki parairan Buru Selatan, maka keluarlah sang burung betina itu dari liangnya terbang dengan perkasa disertai suaranya yang besar dan ganas itu menuju kapal tersebut. Waktu itu semua awak kapal dengan senjata-senjata mereka sudah siap di atas geladak kapal untuk menghadapi setiap kemungkinan. Pada saat burung ganas itu mendekati kapal dan bergerak untuk mengangkat kapal tersebut, secepat kilat tanpa komando semua awak kapal tanpa kecuali melepaskan besi-besi tajam tadi ke arah burung itu.

Akibatnya untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak burung yang perkasa itu lalu jatuh dan menemui ajalnya ditepi pantai pelabuhan Tifu. Mayat burung itu, lalu berubah menjadi "Tanifal" yaitu sebidang daratan berpasir putih halus dikelilingi air laut di tepi pantai yang hanya dapat nampak bilamana air laut mengalami pasang surut. Sedang kedua biji mata dari burung tadi berobah membentuk dua buah batu besar yang dihiasi rumput bagaikan dua buah pulau kecil yang sangat indah dipandang mata, melambangkan keperkasaan burung tadi, dimana hingga saat ini pulau tersebut dianggap keramat. Bagaimana sifat keramat dari kedua pulau ini pernah dialami oleh sebuah kapal KPM. Ketika kapal KPM itu berlatih di Tifu yang hanya diletakkan di atas salah satu pulau kecil tersebut, pada saat kapal akan berangkat jangkar itu tidak dapat diangkat, akhirnya harus dipotong.

Menurut cerita segala korban akibat keganasan burung tersebut berupa sisa besi dan lain-lain hingga kini masih terdapat di gunung Garuda. Pada mulanya tempat liang batu yang menjadi sarang burung tersebut dapat atau sempat didatangi orang. Namun akibatnya erosi, maka jalan menuju ke tempat itu sekarang menjadi sangat sulit penuh dengan batu-batu karang yang tajam, tinggi apalagi sangat keramat. Menurut penduduk di sana bahwa goheba atau burung elang yang kini terdapat di sana merupakan keturunan dari sepasang burung garuda tadi. Bilamana pada suatu hari burung-burung goheba itu beterbangan mondar-mandir sambil berteriak keliling desa/negeri Tifu, hal ini merupakan pertanda keberhasilan karena beberapa lagi kawanan ikan akan memasuki pelabuhan mereka.

 

 

Sumber : Ceritera Rakyat Daerah Maluku oleh Depdikbud

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu