KEBO - KEBOAN DAN KEBOAN adalah salah satu tradisi upacara adat yang masih terjaga dan terlaksana hingga saat ini. Kebo - keboan dan keboan adalah ritual adat Tradisi dari dua desa yang berbeda, yaitu Desa Alas Malang dan Desa Aliyan. Desa Aliyan menyebut ritual ini dengan nama "KEBOAN" dan desa Alas Malang Menyebutnya " KEBO - KEBOAN" . Ritual ini dilaksanakan berdasarkan kalender jawa kuno pada "Bulan assura". Keboan/Kebo-keboan (Kerbau) nama dari tradisi ini pada zaman dahulu adalah patner bagi para petani dalam mengolala sawah, meskipun tradisi yang dipakai dengan nama keboan namun di sini kerbau tidak dipakai dalam upacara adat tradisi tersebut, melainkan manusia yang didandani menyerupai kerbau. Berbagai aksesoris yang dipakai seperti lonceng, tandung dan pembajak dengan tubuh bernuansa hitam. Kebo - Keboan Alas Malang
Berawal dari musim pagebluk dan hama padi ini menyeran seluruh desa ( Alas Malang ) banyak warga yang erkena penyakit hingga meninggal, sehingga sesepuh Desa Mbah Karti melakukan Meditasi di sebuah bukit, ketika beliau melakukan meditasi mendapatkan wangsit / petunjuk bahwasanya warga harus melakukan selamatan dan ritual adat Kebo - keboan dan akhirnya setelah melakukan ritual kebo - keboan atas petunjuk mbah karti hamapun hilang dan warga yang sakit pun kunjung sembuh. Sejak saat itu seluruh masyarakat desa Alas Malang mengadakan ritual adat tersebut secara turun temurun hingga saat ini. Upacara adat Kebo - Keboan ini dilaksanakan pada hari minggu di bulan assura kalender jawa antara tanggal 1 - 10 , diambil pada hari minggu agar seluruh masyarakat dapat mengikuti kegiatan upacara adat tersebut dan pengambilan bulan assura ini diyakini adalah bulan keramat. Rangkaian upacara adat kebo - keboan dilaksankan sejak 1 minggu sebelum acara di mulai. Dengan melibatkan seluruh masyarakat untuk bergotong royon membersihkan lingkungan rumah,desa, dan tempat acara kemudian 1 hari sebelum acara para ibu - ibu menyiapkan tumpeng dan sesajien yang wajib di cantumkan seperti tumpeng,peras, kinang, air kendi, aneka jenang, ingkung ayam dan juga mempersiapakan berbagai para bungkil, singkal (pembajak), cangkul, beras, pisang, pitung tawar, beras, kelapa dan bibit tanaman pagi. Seluruh sesajen tersebut yang akan digunakan untuk selamatan juga beberapa akan ditempatkan di perempatan jalan di dusun krajan. Selain para ibu - ibu , seluruh pemuda desa juga iktu mempersiapkan tanaman palawija seperti ketela pohon, pisang, tebu, jagung, pala kesimpar , pala gemantung dan pala kependem yang akan di tanam di sepanjang jalan dusun Krajan. Acara di mulai sejak pagi dengan seremonial dari panitia yang dilanjutkan doa dengan kenduri/selamatan bersama - sama dengan 12 tumpeng, yang memilki filosofi perputaran roda kehidupan manusia 12 jam sehari dan 12 jam semalam. Yang kemudian acara puncak ider Bumi/arak - arakan kerbau keliling kampong yang berakhir di petahunan (persawahan). Di depan iring - iringan kerbau berdiri sosok dewi sri (Dewi Padi) yang membawa benih untuk disebarkan. Setelah penanaman / tersebar benih padi, seluruh penonton yang ikut berebut ini akan berhadapaan dengan kebo - keboan yan telah di buat trance / tidak sadarkan diri oleh sang pawing. Kerbau yang telah tidak sadarkan diri ini menganggap penonton yang ingin berebut benih ini sebagai pengganggu. Penonton yang akan merangsek masuk ini akan di seruduk, dan dilempar kekubangan sawah dengan lumuran lumpur di sekujur tubuhnya. Bagi penonton yang mendapatkan hasil padi yang berhasil mereka ambil, benih - benih padi ini di percaya akan mendapatkan berkah dan panen pani yang melimpang. Seluruh rangkaian akan di tutup dengan pagelaran wayang kulit di tempat yang sama dengan memrankan dewi Sri (Dewi Padi) pada malam harinya.
Sumber :http://www.banyuwangitourism.com/content/kebo-keboan-aliyan-dan-alas-malang#http://www.banyuwangitourism.com/images/gallery/resize/Kebokeboan015f6ea.jpg
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...