Alat Musik
Alat Musik
Alat Musik Tradisional Kalimantan Tengah Palangkaraya
Katambung
- 6 September 2012 - direvisi ke 3 oleh hokky saavedra pada 6 September 2012

Katambung adalah alat musik perkusi sejenis gendang yang biasa digunakan dalam upacara - upacara adat seperti dalam upacara Tiwah agama Kaharingan. Katambung berarti PUKUL. Bentuknya hampir menyerupai intrumen musik Tifa dari Papua. Ukuran panjang kurang lebih 75cm terbuat dari kayu ulin dan bagian yang dipukul dengan telapak tangan terbuat dari kulit ikan Buntal (sejenis ikan yang kulitnya dapat menggembang apabila terancam atau terkena rangsangan/gesekan) yang telah dikeringkan ber-diameter kurang lebih 10 - 18 cm. Jenis instrumen ini diperkirakan sudah ada sebelum abad ke X Masehi, banyak terdapat di wilayah suku Dayak Ngaju.

Katambung dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu:
(1) katambung untuk orang dewasa dan
(2) katambung untuk anak-anak.

Katambung yang pertama (terbuat dari kayu) umumnya berukuran panjang lebih kurang 70 sampai 75 cm dengan garis tengah (tempat melekatkan kulit membran) antara 15--18 cm. Sedangkan, katambung yang kedua (terbuat dari bambu) umumnya berukuran panjang sekitar 40--60 cm. Katambung ini garis tengahnya bergantung pada diameter luas ruas bambu yang dipakai.

Pembuatan Katambung
Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat katambung antara lain adalah: rotan, kayu, bambu, kulit, dempul, baji, dan penyang. Rotan yang diambil adalah rotan yang sudah tua. Rotan itu dipotong sepanjang 4 meter dari pangkalnya. Kemudian, dijemur sampai kering, lalu dianyam. Anyaman ini, dalam sebuah katambung, ditujukan untuk bagian-bagian tertentu yang disebut: tambut, saluang sarak, dan pelimping.

Kayu yang dipilih untuk dijadikan sebagai katambung untuk orang dewasa adalah kayu kayu besi atau meranti. Kayu-kayu tersebut diambil tengahnya yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai "teras". Sedangkan, bambu yang dipilih untuk membuat katambung anak-anak adalah bambu yang juga sudah tua. Kulit yang dalam katambung berfungsi sebagai selaput getar berasal dari kulit binatang: mengkas, kubung atau kulit ikan buntal yang besar. Kulit-kulit tersebut dijemur sampai kering agar tahan lama (kuat) dan tidak mengeluarkan aroma (bau) yang tidak sedap. Dempul terbuat dari sarang binatang serangga yang oleh masyarakat setempat disebut "pamburep". Pemburap dibentuk menyerupai bola-bola kecil yang pada saatnya akan ditempelkan pada kulit katambung. Sementara, baji digunakan untuk mengeraskan dan mengencangkan kulit katambung. Baji terbuat dari teras kayu atau tanduk binatang yang panjangnya lebih kurang 10 cm yang satu sisinya datar dan sisi lainnya membentuk setengah silinder dengan ujung lebih tipis dari pangkalnya dan agak runcing. Sedangkan, penyang terdiri atas berbagai jenis bentuk merjan, gigi binatang, cula badak dan lain-lain. Penyang ini dianggap benda yang mempunyai kekuatan gaib (mistik) yang fungsinya untuk melindungi seseorang dan dapat menambah wibawa serta pengaruh pada yang bersangkutan. Adapun peralatan yang dipergunakan untuk pembuatan katambung adalah: parang (mandau), beliung, pahat, gandin, ampelas, pisau peraut (langgei).

Pembuatan Katambung
Pembuatan katambung diawali dengan pelingkaran rotan. Dalam hal ini rotan yang sudah kering dibentuk menyerupai silinder. Salah satu ujungnya dibuat lekukan yang cukup dalam lalu dilicinkan dengan menggunakan beliung. Lalu, diteruskan dengan pembuatan ornamen. Caranya, mata beliung disilangkan pada lekukan, kemudian badan katambung diukir dengan menggunakan pahat dan langgei. Selanjutnya, bagian tengah badan katambung dibuat lubang lebar untuk ruang resonansi. Setelah lubang resonansi terbentuk, diperluas dengan menggunakan ampelas. Selanjutnya, badan katambung diukir dengan pahat dan diberi warna: kuning (campuran kunyit dengan kapur sirih), hitam (campuran jelaga dengan minyak kelapa), dan putih (campuran air dengan kapur sirih). Setelah selesai, dilanjutkan dengan pemasangan kulit selaput getar yang dibentuk menyerupai lingkaran yang telah diberi beberapa lubang pada beberapa bagian pinggirnya. Pada lubang tersebut dipasang rotan tambit yang terbuat dari belahan rotan yang agak besar. Anyaman tambit ini disebut anyaman pelimping. Lebih kurang satu jengkal dari mulut katambung, dianyam helai-helai rotan yang membentuk anyaman saluang sarak yang dibentuk sedemikian rupa dengan memasukkan baji yang berfungsi untuk mengencangkannya dan sekaligus mengencangkan kulit selaput getar. Anyaman saluang sarak ini biasanya menggunakan rotan irit yang halus. Baji-baji pengencang ini biasanya terbuat dari kayu keras seperti kayu ulin atau tanduk.

Untuk mengatur panjang-pendeknya getaran pada kulit membran, dipasang biji-biji dempul (sebesar telur cecak) yang berbentuk kelerang-kelereng kecil. Dempul tersebut dipasang melingkari sebuah titik yang dianggap sebagai pusatnya. Cara merekatkannya pada kulit membran cukup dengan menekannya. Setelah kulit terpasang pada tempatnya dan telah dikencangkan dengan tambit dan baji, maka pembuatan katambung pun selesai. Selanjutnya, tinggal menambah sifat magisnya yakni dengan menggantungkan penyang-penyang pada saluang sarak.

Teknik Menabuh Katambung
Agar katambung mengeluarkan bunyi yang indah, ada tekniknya, yaitu kulit membran dipukul dengan jari-jari tangan kanan, sementara tangan kiri memegang badan katambung atau diletakkan di atas pelimping dengan dengan posisi jari-jarinya menjulur ke depan (menjuntai ke bawah permukaan kulit membran). Hal ini dimaksudkan ,jika sewaktu-waktu diperlukan, dapat dilakukan dengan mudah (biasanya meredam bunyi atau menghentikan getaran membran). Sedangkan, bagian tengah katambung cukup hanya dengan disanggah.

Katambung biasanya dimainkan dalam bentuk kelompok yang beranggotakan 5--7 orang. Pemimpinnya, oleh masyarakat setempat, disebut "upu". Seorang upu biasanya dibantu oleh basir yang duduk di kiri-kanannya. Saat sedang memainkannya, adakalanya seorang upu menyanyi sendiri, sementara para basir hanya diam atau membunyikan katambung. Akan tetapi, adakalanya mereka secara serentak menyambut dengan mengulangi bait-bait (syair) yang telah diucapkan oleh upu. Cara menabuh atau memukul membran dilakukan menurut irama atau pukulan-pukulan tertentu yang disesuaikan dengan syair mantra/doa yang diucapkan atau dilakukan oleh penabuhnya.

Penggunaan Alat Musik Katambung
Katambung digunakan pada upacara yang berkaitan dengan upacara gawi belom (memotong pantan) dan gawi matey. Pada upacara gawi belom, katambung digunakan untuk mengiringi penyambutan tamu. Sedangkan pada gawi matey, katambung ditabuh pada saat upacara tiwah (kematian), termasuk pada upacara balian ngarahang tulang (mengangkat tulang belulang), balian tantulak (penguburan), balian untung (upacara syukuran setelah penguburan maupun mengangkat tulang-belulang). Tulang belulang yang sudah diangkat dimasukkan ke dalam guci kemudian diletakkan di dalam suatu rumah kecil yang dibuat memakai tiang penyanggah.

Sumber Info: http://dayak-artmusic.blogspot.com

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu