Karamo adalah istilah dalam bahasa Isirawa, Kabupaten Sarmi Provinsi Papua, untuk menggambarkan aktivitas menari dalam kebudayaan orang Saveri (Isirawa). Karamo biasanya dilakukan dalam situasi, kondisi dan saat-saat tertentu sebagai: wujud kegembiraan, ungkapan syukur dan kebanggaan atas suatu tahapan prestasi budaya tertentu. Contohnya, pelaksanaan karamo pada saat membawa anak turun tanah; memindahkan tulang-belulang leluhur yang telah meninggal dunia; maupun situasi lainnya.
Karame merupakan istilah yang diberikan oleh orang Saveri, untuk lagu-lagu yang dikarang oleh mereka berdasarkan kisah yang dialami atau menceritakan kekayaan alam; berisikan pantun dan syair sindiran, juga syair kisah came, dan lirik lagu came yang berisikan kisah came. Karena itu, lagu karame orang Saveri sangat banyak.
Tarian karamo biasanya dilakukan dalam formasi dua pihak yang saling berhadapan, namun tidak dalam kompetisi, tetapi hanya sebagai ajang memamerkan prestasi untuk mendapatkan pujian. Nilai budaya karamo adalah hidup perlu disyukuri dan dirayakan secara nyata, agar membangkitkan optimisme positif dan keyakinan akan masa depan yang lebih baik, yakni, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.
Dalam tarian karamo, terdapat beberapa gerakan dasar, antara lain: memegang panah, memukul tifa, melangkah dengan sedikit melompat. Gerakan yang utama adalah gerakan maju mundur sesuai dengan irama lagu, dan memainkan pucuk nibun. Gerakkan dasar tersebut juga terdapat pada tarian came, hal ini karena kedua tarian ini berasal dari satu kisah raksasa perempuan yang oleh orang Saweri dipercaya sebagai pencipta tarian came dan karamo.
Adapun fungsi dari tarin karamo antara lain :
Pada saat ditarikan biasanya seorang anak laki-laki maupun seorang anak perempuan akan memperhatikan para penari yang masih sendiri. Hal yang diperhatikan adalah sikap dan tingkah laku serta kelincahan seseorang dalam menarikan tarian karamo, apakah seorang gadis itu sopan dan baik; serta lincah dalam menari karamu; ataupun seorang anak laki-laki itu baik, sopan dan pandai tidak dalam menabuh tifa, serta bagaimana ia memegang panah.
Karame merupakan lagu yang dikarang oleh orang Saweri, untuk tujuan: menuangkan perasaan yang dialami, menceritakan keindahan alam dan kejadian yang dialami. Contohnya, menceritakan sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan sekian lama, namun di pertengahan jalan mereka berdua harus berpisah. Kejadian ini membuat si pria merasa sedih. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia menuangkannya lewat karame, sehingga ia menjadi tidak sedih lagi.
Melalui tarian karamu, semua orang baik anak kecil, remaja, pemuda, dan orang dewasa yang bisa berpartisipasi untuk menari, bahkan dapat berinteraksi dengan orang dari kampung lainnya, maupun dengan orang dari etnis yang berbeda. Adapun beberapa makna yang terkandung dalam tarian karamo ini di antaranya adalah nilai kekeluargaan, nilai religious dan nilai kesopanan.
Sumber : Buku Penetapan WBTB 2018
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...