Tarian
Tarian
Tarian Banten Kampung Yudha
Kampung Seni Yudha Asri
- 14 Agustus 2011
KAMPUNG SENI YUDHA ASRI

Kota : Kabupaten Serang - Banten

Deskripsi :
Pada mulanya, Kampung Seni Yudha Asri yang terletak di Jl. AMD Koramil KM. 2 Kampung Yudha, Desa Mander, Kec. Bandung, Kab. Serang - Banten adalah sebuah sanggar seni yang tercipta dari kecintaan sang pendirinya mengenai hasil karya/seni. Berbekal dari kecintaan itulah beliau Bpk. M. Jupri Noor mendirikan sebuah sanggar yang diberi nama "Padepokan Asri Bangbuskolbebesanan" pada tahun 1982, yang mana didalamnya terdapat banyak sekali ciptaanya baik dalam bentuk Seni Tari, Rampak Bedug, Bedug Kerok, Beluk, Dzikir Saman, Bendrong/Lesung, Tongtrong/Kentongan, Terbang Gede/Rebana dan Gambus. Selain itu, kecintaan beliau mengenai seni juga bisa kita lihat dalam bentuk bangunan, rumah, serta perangkat alat musik. Misalnya saja "Saung", Saung adalah tempat istirahat pengunjung menyerupai villa yang dibuat dari bahan bambu, kayu, serta atapnya terbuat dari injuk/daun rumbia. Diantara saung-saung itu memiliki perbedaan arsitektur dan ciri khas masing-masing, ada yang bertingkat tiga, berbentuk bulat, kotak dan masih banyak keunikan lainnya. Alat musiknya pun memiliki keunikan lain, misalnya tongtrong yang menyerupai ikan, serta "Boboko"atau tempat nasi terbuat dari bambu yang diameternya sekitar 3 meter. Di Kampung Seni Yudha Asri, kita juga bisa menjumpai tradisi masyarakat setempat, misalnya "Ngaruat bumi", "Ngembang", "Mamaca", Rasulan, Ruwahan dan Marhaban. Ketika tradisi ini dilaksanakan, biasanya terakhir kesenian seperti Rampak Bedug, Bedug Kerok, Dzikir saman dan yang lainnya, juga ikut ditampilkan untuk menghibur, atau dalam acara tertentu, seperti kedinasan, peresmian tempat, pembukaan "event", pernikahan, dan peringatan hari besar nasional.

Dalam perkembangannya, Kampung Seni Yudha Asri, telah banyak berpartisipasi dalam berbegai event seni tradisional, baik dalam tingkat Kabupaten, Provinsi maupun tingkat Nasional, dan berbagai penghargaan pun telah banyak ditorehkannya.

Merupakan suatu kebanggan bagi masyarakat setempat, serta kita semua dimana seni tradisional yang kian hari kian terkikis oleh jaman, Kampung Seni Yudha Asri mampu mempertahankan kesenian dan kebudayaan tersebut dari generasi ke generasi, sehingga saat ini dan dimasa yang akan datang, kesenian dan kebudayaan daerah yang merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia masih tetap eksis.

Kampung Seni Yudha Asri atau yang dulu lebih dikenal Padepokan Asri Bangbuskolbebesanan diresmikan keberadaanya sebagai Desa Wisata yaitu Kampung Seni Yudha Asri pada tanggal 29 Januari 2010 oleh Bupati Kab. Serang, Bpk. H. Taufik Nuriman. Kampung Seni Yudha Asri diberikan kepercayaan oleh pemerintah daerah Kab. Serang-Banten sebagai tempat rujukan untuk membina, membimbing dan mengembangkan seni tradisional kepada masyarakat luas. Sehingga saat ini para seniman cilik seperti anak-anak tingkat SD, SMP, SMA atau masyarakat umum sedang gigih berlatih untuk menjadi seniman. Pada saat-saat seperti peringatan 17 Agustus, Hari Kartini, Hari Kebangkitan Nasional dan Pelepasan Siswa, Seniman-seniman cilik inilah yang biasanya tampil mengisi acara kesenian tradisional dengan penuh suka cita.

Berbekal kepedulian, kemauan, serta motivasi tinggi generasi-generasi seperti inilah yang nantinya akan menjadi pelestari budaya kita dimasa yang akan datang.

Info Lebih Lanjut :

Kontributor Youtube : http://www.youtube.com/user/kampungseniyudhaasri#g/u

Kontributor Website : http://kampung-seni-yudha-asri.blogspot.com

Hak Cipta : Kampung Seni Yudha Asri




Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker