Kampung Jalawastu adalah sebuah kampung kecil yang masih teguh memegang adat budaya dari para leluhurnya. Letaknya cukup terpencil, berada di Desa Ciseureuh Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes Brebes.
Untuk menuju lokasi dari ibu kota kabupaten, harus menempuh jarak sekitar 50 kilometer, atau bisa ditempuh dengan waktu 2,5 jam. Akses jalan yang rusak dan naik turun perbukitan, membuat wilayah tersebut sulit dijangkau. Di pedukuhan ini, terdapat 120 keluarga, di mana 242 orang di antaranya sudah memiliki hak pilih.
Jalawastu saat ini sudah ditetapkan oleh Pemkab Brebes sebagai kampung adat, karena masih terjaganya kultur budaya dari nenek moyang mereka. Selain masih melestarikan berbagai kegiatan upacara adat, seperti Ngasa dan aneka tarian, penduduk setempat juga masih mempertahankan konstruksi dan tata ruang klasik khas di masa lampau, seperti terlihat dari sebagian besar rumah penduduk yang berarsitektur kuno.
Warga setempat, bahkan masih menganggap membangun rumah dari semen dan material modern sebagai pamali. Keunikan warga Jalawastu lainnya bahwa rumahnya tidak boleh beratap genting serta bersemen atau berkeramik. Dalam sistem nilai kepercayaan penduduk, istilah pamali yang berarti pantangan untuk melakukannya juga masih dipegang kuat.
Pamali kalau rumah pakai itu (genting dan semen), juga tidak boleh menanam bawang merah, kedelai, serta memelihara kerbau, domba, dan angsa. Kalau melanggar maka akan ada bencana yang menimpa," ujar Pemangku Adat Jalawastu, Dastam.
Pamali selalu dihindari saat melaksanakan prosesi adat tertentu. Dalam upacara ngasa, misalnya, semua sesaji dan perjamuan tidak diperkenankan menggunakan bahan baku beras dan daging.
Semua bahan sebagian besar terbuat dari jagung, seperti nasi jagung (jagung yang ditumbuk halus, red) dengan lauk pauk berupa umbi-umbian. Selain itu, alat penyuguhannya juga tidak boleh menggunakan bahan kaca seperti piring maupun gelas.
Pantangan-pantangan tersebut didasari cerita awal, dimana Ngasa, berarti pula perwujudan syukur kepada
Batara Windu Buana yang merupakan pencipta alam. Batara mempunyai utusan yang disebut Burian Panutus.
Konon, Burian Panutus selama hidup tidak pernah menanak nasi, dan hanya makan jagung serta umbian talas dan umbi lain. Selain pula tidak memakan yang bernyawa.
Sumber lain menyebutkan, Ngasa berarti mangsa kasanga dalam hitungan kalender Jawa. Adat upacara Ngasa dilakukan sebagai bentuk sodakoh gunung kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia sekaligus juga merupakan permohonan doa keselamatan.
Di sini selama upacara ngasa berlangsung tidak boleh makan nasi dan daging, semua berasal dari tumbuh-tumbuhan dengan nasi dari jagung. Alat makan yang boleh dipakai adalah piring bahan seng, dedaunan, dan alat makan atau alat berbahan plastik,? ujarnya.
Tak hanya memelihara warisan leluhur mereka melalui upacara-upacara rutin, komunitas adat juga menjaga upacara adat yang bersifat insidentil, yang hanya dilakukan pada saat-saat tertentu saja. Atau saat ekologi alam terancam dan sendi kehidupan masyarakat mulai terganggu.
Di saat kemarau dan kekeringan berkepanjangan menimpa, misalnya, mereka akan melaksanakan prosesi ngaguyang kuwu, sebuah ritual memohon hujan kepada Yang Maha Kuasa. Ngaguyang dalam bahasa Sunda berarti menyiram, sedang kuwu adalah sebutan mereka untuk sang kepala desa.
Prosesi adat ini biasanya dilakukan di Curug Rambu Kasang, dipimpin seorang tetua adat atau Dewan Kokolot yang merapal doa. Kemudian, pemangku adat lain yang berbusana serba putih, mengambil air yang masih tersisa dari curug tersebut ke badan kades, lalu diikuti oleh puluhan warga lain beramai-ramai.
Sang kades pun pasrah meski tubuhnya basah kuyup. Giliran Kuwu akhirnya membalas siraman air ke tokoh adat dan warga lainnya.
Dastam menyebut tradisi ini sebagai bentuk ungkapan ikhtiar memintakan hujan pada Tuhan saat terjadi kekeringan yang cukup parah.
Curug Rambu Kasang yang membelah wilayah ini, selama ini menjadi menjadi sumber air utama yang mencukupi kebutuhan air sehari-hari maupun untuk irigasi pertanian. Air di sungai tersebut menjadi simbol kemakmuran. Semakin deras dan melimpah air, semakin bergiat penduduknya.
Kepala Dusun (Kadus) I Grogol-Jalawastu Wardi Raharjo menyatakan, sebagian masyarakat Jalawastu bermatapencaharian sebagai petani. Dengan keasrian hutan yang dan hasil pegunungan yang masih terjaga, banyak masyarakat setempat memanfaatkan hasil perkebunan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
?Sebagian masyarakat masih mengandalkan hasil bumi. Misalnya palawija, jagung, kacang, pisang, kelapa, padi, singkong, dan tanaman lainnya yang bisa dimanfaatkan,? jelasnya.
Meski masih kental dengan adat yang dianut, yakni menganut kepercayaan Sunda Wiwitan, tapi sudah banyak masyarakat dari Dukuh Jalawastu yang merantau di Jakarta. ?Tetap ada warga yang pergi ke Jakarta, khususnya anak muda. Kalau kata mereka, kalau nggak ke Jakarta ketinggalan zaman,? ungkapnya.
Sumber:
https://radartegal.com/berita-lokal/di-brebes-ada-kampung-adat-jalawastu-yang-tak.14363.html
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...