Motif Kain
Motif Kain
Kain Kepulauan Bangka Belitung Pangkal Pinang
Kain Cual Khas Bangka Belitung
- 29 Desember 2015

Kain Cual Khas Bangka Belitung

Asal mula kain cual, berasal dari kain songket Palembang. Awal mula perkembangan kain ini ada di Kota Muntok, Bangka, pada sekitar abad ke-17. Kain cual pertama kali diperkenalkan oleh kakek buyut pendiri toko Kain Cual Ishadi yang berada di Pangkal Pinang. Seiring berjalannya waktu, kain cual mulai dikenal masyarakat sebagai kain khas Provinsi Bangka Belitung. 

Kain cual memiliki beberapa motif, seperti motif Gajah Mada, Ubur-ubur, Kembang Sumping, Merak, Kucing tidur, Burung Hong, Bunga Cina, Kembang Setangkai, Naga bertarung, Kembang Rukem, Bebek Setaman, Kembang Rukem Berantai dan Kembang Setaman, Bebek-bebekan, Kembang Kenanga dan motif lain nya. Beberapa motif sudah mendapatkan hak paten dari pemerintah.

Motif kain cual ini biasa disebut juga dengan motif batik cual. Yang mana jika di daerah Yogyakarta dikenal dengan salah satu motifnya yaitu Sekar Jagad, Ciptoning, Udan Liris, dan sebagainya. Di kota Solo kita mengenal motif batik Kawun, Truntum, dan sebagainya. Di Bangka Belitung kita menyebutnya dengan motif batik cual.

Beberapa motif kain cual ada yang dibuat dengan menggunakan benang sutra dan bahkan ada yang dibuat dengan benang emas 18 karat. Kain cual terdiri dari dua jenis. Ada bahan hasil dari cetakan mesin dan ada yang dibuat dari hasil tenun - pengerjaan secara manual oleh orang yang sudah profesional dalam hal seni membatik cual.

Jika diperhatikan, motif tersebut mengambil dari nama-nama tumbuhan, hewan dan binatang berupa flora dan fauna. Dari ragam motif di atas pastinya memiliki filosofi tersendiri, hal tersebut dilihat dari corak dan warna dari masing-masing motif kain cual. Misalnya saja, motif kain cual bergambar bebek yang memiliki makna persatuan dan kesatuan dan kain cual bermotif bunga yang melambangkan kesucian, keanggunan rezeki dan segala kebaikan yang digunakan oleh pemakai.

Di daerah Belitung Timur, motif batik cual yang terkenal adalah motif gelas kopi yang mencerminkan pada suatu daerah Kecamatan Manggar memang dikenal dengan minuman dengan aroma menggoda bewarna hitam tersebut dengan sebutan 1001 warung kopi. Beda lagi dengan motif naga pada kain cual yang melambangkan kegagahan dan keperkasaan bagi si pemakai.

Pada masa dahulu, kain cual yang yang digunakan menggambarkan status sosial yang dimiliki oleh seseorang. Biasanya digunakan pada acara pesta perkawinan, menjadi pakaian kebesaran, serta digunakan sebagai pakaian pengantin. Masa kini, batik cual bukan hanya digunakan oleh orang tertentu saja yang mana pada masa dulu, yang menggunakan batik cual menandakan status sosial semata. Penggunanya pun merambah kesemua kalangan. Mulai dari PNS - hingga masyarakat pada umumnya.

Harga kain cual tergantung dari kualitasnya, biasanya dapat diukur dari kerumitan motif, lama pengerjaan dan bahan dasar kain. Untuk kain tenun nomor satu, harga yang ditawarkan mulai berkisar antara 7-18 juta. Untuk kain tenun kualitas nomor dua, harga yang dikenakan sekitar 2,5-5 juta ke atas. Untuk harga kain tenun nomor tiga harga berkisar 1,2 juta sampai 1,8 juta. Namun ada pula kain cual dengan harga per meternya yang dapat ditaksir kisaran angka puluhan ribu - hingga ratusan ribu.

Berkunjung ke provinsi ini, dapat ditemukan beberapa toko yang khusus menjual kain cual. Salah satunya adalah Toko Kain Cual Ishadi. Di toko yang terletak di Jalan Ahmad Yani No. 46, Pangkalpinang, Bangka, ini, pengunjung dapat melihat-lihat aneka jenis kain cual. Salah satu kain cual yang dipajang di sini konon sudah berusia ratusan tahun. Kain ini merupakan milik kakek buyut sang pemilik toko, yang juga memperkenalkan kain cual kepada masyarakat Bangka Belitung.

Sumber :

http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/kain-cual-kain-kebanggaan-masyarakat-bangka diakses pada 27 Desember 2015

http://zonabangkabelitung.blogspot.co.id/2015/08/mengenal-filosofi-kain-cual-khas-bangka.html diakses pada 27 Desember 2015

http://v3.visitbangkabelitung.com/content/kain-cual diakses pada 29 Desember 2015

 

 

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu