Musik dan Lagu
Musik dan Lagu
Lagu daerah Nusa Tenggara Barat NTB
Kadal Nongaq
- 3 Januari 2019
Lagu kadal nongak merupakan berasal dari Nusa Tenggara Barat. Lagu ini merupakan bentuk  syair nasihat yang sering kali diberikan kepada anak-anak. Karena di dalam lagu ini memiliki nasihat dan petuah yang sangat penting. Menurut keterangan dari beberapa Narasumber, lagu kadal nongak ini berasal dari kisah ketika seorang anak gadis (berasal dari keluarga Kerajaan Selaparang di pulau Lombok) yang tidak mau mendengar kata-kata kakaknya (beliau adalah seorang pangeran) sehingga mendapat ganjaran atas kesalahan yang diperbuatnya sehingga ibunya (Permaisuri) yang dilanda rasa iba mencoba menasehati sang buah hati dengan cara menyairkannya. Lagu ini kemudian menjadi sangat populer seiring dengan insafnya sang putri dan membudaya di masyarakat Lombok. Kini lagu tersebut telah menjadi salah satu lagu daerah yang sangat populer di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Liriknya adalah sebagai berikut :


Kadal nongak leq kesambiq
Benang kataq setakilan
Aduh dende
Te ajah onyak ndek ne matiq
Payu salaq ke jarian
Aduh dende
Mun cempake siq kembang sandat
Saq sengake jari sahabat


Makna syair nasihat Kadal Nongak :

Kadal Nongak yang menghadap atas
Le' Kesambi' artinya di pohon kesambi' (berduri)
Benang kata' artinya benang yang mentah (telah rapuh di makan usia)
Setekilan artinya satu gantung besar nan padat dan penuh.
Tajah Onya' artinya dinasehati dengan baik-baik
De' Ne Mati' artinya tidak mau mendengar
Payu Sala' Kejarian artinya sehingga terkena kualat.
Ado Dende adalah sebutan atau bahasa halus ala suku sasak untuk menegur seorang gadis dengan penuh kasih sayang.
Mun Cempake si’ kembang sonda’ artinya bunga cempaka dan bunga labu
Sa' Sengake jari Sahabat artinya (semestinya) yang lebih tua itu dijadikan sahabat, sehingga mesti di dengar nasihatnya.
 

Filosofinya,  sang putri, dalam hal ini, diumpamakan sebagai seorang kadal yang notabene berpijak di tanah . Namun, sang ratu memposisikan kadal yang bertahtakan pohon berduri itu menghadap ke atas, ia seolah angkuh dan acuh terhadap apa yang sedang ia pijaki. Begitulah, sang putri yang angkuh tidak menyadari dirinya bahwa sebenarnya tahta yang ia miliki adalah duri yang akan melukai dirinya sendiri. Tindakan putri yang tidak mendengar kata kakaknya membawa sang putri merasa tersisihkan di masyarakatnya sendiri.  Seorang Kakak Mestinya Menjadi Sahabat bagi sang Adik.
 
Sumber :http://alcop.blogspot.com/2017/09/siap-rilis-lirik-kadal-nongaq-ntb.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker