Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Produk Arsitektur Jawa Barat Ciamis
Kabuyutan Ciburuy
- 20 Februari 2015

Merupakan situs peninggalan jaman Prabu Siliwangi yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya yaitu Prabu Kian Santang. secara administrasi Kabuyutan Ciburuy terletak Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut berada di titik koordinat 7° 17' 18" S, 107° 49' 43" E.  

Di daerah Situs Kabuyutan Ciburuy terdapat tiga buah rumah adat yang bernama Bumi padaleman (tempat menyimpan benda-benda naskah kuno,daun lontar dan nipah), Bumi Patamon (tempat penyimpanan benda tajam seperti keris, kujang trisula, dan alat kesenian goong renteng) dan lumbung padi atau “leuit”, (tempat menyimpan bahan makanan terutama padi). Alat kesenian goong renteng yang ditemukan di daerah ini merupakan cikal bakal dari kesenian degung yang ada sekarang ini.  Luas daerah Kabuyutan Kabuyutan Ciburuy ini sekitar 1 hektar. Panorama indah serta suasana damai dengan udara yang sejuk akan dijumpai ketika kita berada di kawasan situs ini. Setiap hari rabu minggu ke tiga bulan Muharam sekitar jam 19.30, selalu diadakan upacara “Seba”, yang merupakan upacara syukuran kepada orang-orang yang berkedudukan tinggi ilmu dan wawasannya dengan disertai penyerahan sesuatu yang baik. Syukuran upacara tersebut dihajatkan kepada Prabu Siliwangi dan Prabu Kiansantang sebagai tokoh atau pemuka masyarakat pada jaman dulu yang memiliki ilmu, wawasan dan kesaktian yang tinggi. Masyarakat sekitar secara rutin mengadakan upacara pencucian keris yang dilaksanakan setiap 1 Muharam. Di kawasan situs Ciburuy juga terdapat larangan berupa pantangan dimana setiap hari jumat dan hari sabtu tidak boleh seorangpun memasuki kawasan Kabuyutan Ciburuy. 

Pengertian Kabuyutan Pada masa pra Islam Sunda dikenal suatu tempat yang dinamakan Kabuyutan (Mandala). Kabuyutan atau Mandala adalah sebuah tempat khusus yang diistimewakan diperuntukan kegiatan keagamaan dan intelektual. Misalnya seperti di Kawali (Ciamis), tepatnya di kompleks Astana Gede, berkedudukan dan berperan selain sebagai ibukota Kerajaan Galuh, juga sebagai sebuah kabuyutan. Di situ terdapat beberapa buah prasasti batu yang ditulis dalam aksara dan bahasa Sunda Kuna. Seperti halnya Astana Gede Kawali di Kabupaten Garut ada sebuah tempat yang hingga sekarang masih tetap dipelihara dan dilestarikan keberadaannya karena merupakan situs peninggalan sejarah purbakala. Tempat yang dimaksud adalah Kabuyutan Ciburuy (sangat menarik tempat ini oleh sebagian masyarakat, terutama oleh keluarga kuncen masih disakralkan bahkan setiap tahun diadakan upacara Seba). Menurut Ayat Rohaedi, Kabuyutan atau bangunan suci di Jawa Barat tidak selalu disamakan dengan bangunan-bangunan atau artefak-artefak, atau struktur candi seperti anggapan umum dewasa ini. Dalam sumber naskah sejarah periode Kerajaan Sunda ada istilah kabuyutan. Pada dahulu kala kabuyutan ini dipakai sebagai pusat kekuatan raja dan kerajaannya oleh sebab itu kabuyutan ini merupakan tempat pertama yang diserang apabila ada penyerangan anatara kerajaan. Asal Usul Situs Kabuyutan Ciburuy Ciburuy adalah nama sebuah kampung di desa Pamalayan Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut. Letaknya di kaki Gunung Cikuray, terlewati oleh tiga wahangan (sungai kecil), yakni sebelah timur wahangan Cisaat, sebelah utara Baranangsiang, dan wahangan Ciburuy di sebelah barat. Gunung Cikuray dahulunya biasa disebut Srimanganti, yang berkaitan dengan peristiwa ditemukannya naskah lontar Sunda Kuna di sekitar daerah itu oleh Raden Saleh tahun 1856, yang kemudian diserahkan pada Bataviaasche Genootschap (sekarang Museum Nasional Jakarta).

Naskah lontar terdapat pada kropak no. 410 dan diberi tulisan : Carita Pakuan naskah Raden Saleh, Pantun Sunda pada daun lontar, penulisannya Kai Raga, cucu pertapa di Gunung Cikuray (CM. Pleyte, TBG. 1914, halaman 371). Jika dikaitkan dengan letak Kabuyutan Ciburuy yang berada di lereng sebelah barat Gunung Cikuray, ada kesamaan dengan penjelasan di atas sebagai yang disucikan karena tempat kegiatan keagamann di mana pemukanya ialah Kai Raga. Bangunan fisik kabuyutan Ciburuy sama dengan kabuyutan yang lainnya, yakni menghadap ke Gunung Cikuray, salah satu gunung yang tinggi di Kabupaten Garut. Luasnya sekarang tidak kurang dari satu hektar dan ditanami bermacam pepohonan besar dan kecil, hal ini juga yang menonjolkan ciri-ciri dari sebuah kabuyutan. Sebagai tempat yang memiliki peninggalan arkeologis Kabuyutan Ciburuy memiliki rupa-rupa bangunan seperti Bumi Patamon (tempat menerima tamu), Leuit, Saung Lisung dan Padaleman yang digunakan untuk menyimpan rupa-rupa titinggalan karuhun seperti trisula, mata tombak, genta, naskah, dan sebagainya. Dahulunya Padaleman digunakan untuk tinggal para wiku atau pandita (agamawan Hindu/ Budha) yang letaknya lebih tinggi daripada bangunan lainnya dan agak tersembunyi karena tertutup rimbunan pohon yang tinggi dan besar. Oleh sebab itu maka Kabuyutan Ciburuy disebut Scriptorium atau temapt kegiata membuat naskah-naskah dan atau tempat menyimpan naskah-naskah dari luar, juga terbukti ditemukan data pendukungh seperti banyaknya naskah lontar dan nipah, pisau, pangot, gunting, dan frame kacamata dari tanduk yang kemungkinan besar di pkai para wiku waktu menulis naskah. Kabuyutan Ciburuy ini bermula ketika pada zaman dahulu tempat tersebut digunakan oleh Prabu Kiyan Santang sebagai arena pertarungan dengan jawara-jawara di Pulau Jawa. Ini bermula pada saat Prabu Kiyan Santang menemukan sebuah keris dan beliau mendapat amanat untuk menancapkannya pada sebuah batu , sehingga dari batu keluar air. Lalu beliau disuruh mengikatkan keris tersebut pada sorbannya dan dihanyutkan sampai keris itu berhenti. Di tempat keris itu berhentilah Prabu Kiyan Santang akan menemukan lawannya. Pada suatu hari Prabu Kiyan Santang sedang mengadakan pertarunagan di daerah tersebut tetapi tidak ada satupu lawan yang dapat mengalahkannya, hingga datanglah utusan Sayyidin Ali yaitu K.H mustofa yang berhasil mengalahkannya yang memebri amanat kepada beliau untuk pergi ke tanah suci untuk bertemu Sayyidin Ali dan senjata-senjata Prabu Kiyan Santang ditinggalkan di Ciburuy yang menurut penuturan Juru Kunci senjata tersebut di tinggalkan dalam sebuah gentong. Di Situs Kabuyutan Ciburuy ini terdapat larangan-larang yaitu setiap hari selasa dan jumat ada larangan utnuk berkunjung atau mendatangi tempat tersebut. Di Situs Kabuyutan Ciburuy ini juga sering mengadakan upacara-upacara ritual yaitu pada tanggal 1 .Muharam sering mengadakan upacara Seba. Penghitungan hari d daerah ini punberbeda yaitu dimulai dari jam 4 sore bukan dari jam 1 pagi seperti biasanya. Pemilihan kuncen taua juru kunci itu berdasarkan keturunan tetapi tidak setiap keturunan bisa menjadi Juru Kunci hanya yang mendapat ilham atau mimpi yang mampu utnuk menjadi Juru Kunci. Juru kunci pada saat ini yaitu Yana Mulayan yang merupakan keturunan ke-149. Menurut penuturan sang Juru Kunci pada masa kolonial tempat ini tidak dimasuki oleh para pemerintah Belnada karena konon katanya jika tempat ini dilihat dari luar bagaikan hamparan padang rumput atau tegal.  

Peninggalan-Peninggalan Kabuyutan Situs Ciburuy Luas Situs Kabuyutan Ciburuy bagaikan museum mini yang menyimpan benda cagar budaya. Benda-benda peninggalan sejarah dan purbakala di situs Kabuyutan Ciburuy berasal dari peninggalan masa Megalitik dan Klasik. Peninggalan-peninggalan Kabuyutan Situs Ciburuy yaitu : Terdapat Lima rumah adat:

a. Bumi Padaleman, untuk menyimpan benda-benda pusaka yang berupa naskah kuno daun lontar dan nipah, juga terdapat kujang, untuk menyimpan benda yang berupa senjata tajam seperti keris, kujang, trisula, dan alat-alat kesenian yaitu Goong Renteng yang menjadi cikal bakal kesenian degung sekarang. Yang dikeluarkan pada bulan muharam dan dimandikan dengan menggunakan kembang tujuh rupa serta penduduk sekitarnya pun harus menggunakan baju adat.      

b. Bumi Patamon, adalah sebuah tempat yang digunakan untuk menerima tamu dari luar juga untuk tinggal juru kunci, jadi bisa disebut juga rumah dinas juru kunci.

c. Lumbung padi, untuk menyimpan padi yang biasanya disumbangkan oleh penduduk sekitar sertelah mereka panen.    

d. Tempat pangsujudan, yaitu berupa batu-batu yang merupakan tempat bertapa dan tempang pangsujudan K.H Mustofa yang disebut sebagai nama lain dari Prabu Kiyansantang, yang ada sujud ketiga mendapat ilham sehingga di situs ini jumlah gerbang ada 3 sebagai symbol dari hal tersebut.    

e. Pangalihan, tempat untuk menyimpan pagar, jadi maksudnya pada bulan muharam pagar yang mengelilingi bumi padaleman harus diganti sebelum diganti pagar itu terlebih dahulu harus disimpan di bumi pangalihan terlebih dahulu. Kelima bangunan itu merupkan wujud atau dismbolkan dari rukun islam yang berjumlah 5 rukun.Dan ada satu bangunan lagi sehingga sering disimbolkan sebagai rukun iman bangunan tersebut yaitu adanya saung lisung yang sering digunakan tempat untuk menumbuk padi oleh para penduduk. Terdapar juga peninggalan senjata berupa keris, bende ( lonceng yang terbuat dari perunggu ), kujang ( senjata Prabu Siliwangi ), trisula, tombak. Dan ada juga yang berupa Naskah Kuno,tulisan Jawa Kuno yang ditulis oleh Prabu Kenyan Santang di atas daun nipa dan daun lontar. Naskah ini merupakan naskah yang paling tua di Situs Ciburuy, isi naskah ini disusun pada abad ke-15 Masehi. Naskah ini dinamakan “ Amanat Galunggung “. Dinamakan tersebut karena isinya berupa nasihat-nasihat mengenai etika dan budi pekerti Sunda lama. Jumlah naskah yang tersimpan di Kabuyutan Ciburuy saat ini sebanyak 27 keropak yang tersimpan dalam 3 peti. Setiap keropak jumlahnya bervariasi, antara 15 sampai dengan 30 lempir( lembar ). Dari jumlah tersebut hanya tinggal sepuluh keropak yang masih utuh. Sementara sisanya tidak lengkap karena sudah rusak dan patah. Transliterasi Teks Naskah Lontar :

1a.1. tangkeun bumi / care kaki hamay cogwang / samapun panteu tandanging / hwarengngan eukeur nu bwabwat / datang ka bulan ala-

2. eun / twahaaning tuluy nu ngowo / care kaki hamay conggwang / twahaan paraiyatna / na ngawawwa hanteu nu nulung / saur taa-

3. n deuwi sita / akiing sabeunang-beunang wengina / ditanem inya balina / meunang pakeun puluh wengi /

4. neut ageing sakamantrian / saur taan deuwi sita / bwah aki urang ngaranan / eucu kita kasep teuing / care kaki hamay

1.b.1. n kita / aki aing disasara / awaking ku ramadewa / di kadatwan panycawati / sugana kita hamwa nyahwa / awaking si deuwi sita /

2. pawarang sang ramadewa / care kaki hamay canggong / aduh ila-ila teuing / lamun kitu twang saur / ngaranna tandang

3. ing / nam onam urang ka batur / tohaan tuluy nu angkat / diiringkeun ku akiing / saundurna ti saapan /

4. angkat turut tajur ngwara / jauh piraku jauhna / cuduk sakali ka batur / deung akiing hamay cogwang / tuluy dipen-

2a.1 rung aing mujur / ja hade impyian aing / saleumpang aing ka cai / nyanglandeuh ka tampyiankeun / sadatang inya ka cai / datang ka

2. saapanana / teka najeur ngareungeuhheun / diheueum di dalem beuteung / rarasan di jembawasa / lemek dina jero hate /

3. satembeyna diwekaskeun / carekna karah skini / na naha ieu ngaranna / beunang saapanawaking / elong tulis dipa-

4. rada / dibalun ku boeh larang / satembey inya dipaku / na naha rah ieu ngaranna / mama ieu beurat teuing / dibaw kana parakan /

2b.1. hamwa hurung bwaga rampes / syieup pisis syieup omas / ja ini dihade-hade / satembeyna bray dibuka / ku aki-

2. ing hamay conggwang / reg meneng nu ngareungngeuhheun / hajetwong nepak hareugu / teher dideuleu diteuteuh / nyeueung iny putri geulis /

3. hanteu babandinganana / demuk teher timbun buuk / na geulis hanteu bandingna / na akiing hamay conggwang / na rasa sema wala-

4. ngati / nyaur taan deuwi sita / aki ulah walangati / baaning ka batur kita / aing jieun ebwan-ebwan / aing mupulihha-

3a.1. n / tuluyna lumpat ka cai / sadatang ka twang ambu / saur taan deuwi sita / anaking bujanggalawa / hwarengan siya nuturkeun / asingna aki

2. leungiteun / utun aing ngamandyan geura urang pulang deui / ikeun mangkana di ci / na ambu deung tuang seuwu / & / tucap aki hamay conggwang / bwat-

3. na eukeur milangngan / nywaryeng kana ayunan / nyeueung inya ageus kwaswang / ka mana eta angkatna / mwa burung aing disaur / ras reuwas

4. hajeter geder / rasa dwasa kanywahaan / mwa burung aing diseuseul / awaking dwengkap ka paeh / ja kini teuing rasana / leungiteun ku na asu-

3b.1. conggwang / aing dingaranan inya / ngarana bujanggalawa / ja seuweu ramadewa / datang ka lelengser mapah saur taan deuwi sita / aki asuh eun-

2. cu kita / nembal aki hamay canggwang / rampes kami ngasuh inya / satembey inya dyiayum / twahaan angkat ka cai /

3. mawa kateh seuseuhheun / ikeun mangkana di cai / & / tucap aki hamay canggwang / eukeur ngayun-ngayun bwancah / teher maca

4. watang ageung / rwana twagwy milangan / dingaran bujanggalawa / bwat di jeba ayunan / neut hudang malepas maten / galusur tina ayuna-

4a.1. han / kena hamwa reuwas / manusa awwar dewata / wenang ganal wenang alit / aing mijil kasedaan / metukeun kasemba-

2 wan / na watang dijyieun bwanycah / mangka sarwa ageungna / bitanna bujnggalawa / saageus nyaur sakitu / dicwakot na apus a-

3. geung / diteudeun kana ayunan / sabwat dina ayunan / dikawihhan bangbalikan ku akiing hamay canggwang / tuluy nu satuduh metu /

4. sakecap mretyaksa / satembeyna jadi bwanycah / na sanghyang watang ageung / teka sarwa ageungna / deungeunna bujanggawala / ingkeun mangkana diayun /

4b.1. pupulihkeun deuwi sita / sapulang taan ti cai / teher ngais twang seuweu / sacuduk taab ka batur / nywaryeang na hamay canggwang / nyeueung inyangais /

2. bwanycah / lemek dina jero hate / rarsaan di jembawasa / kini lamun diwekaskeun / hwarengngan lumpat ka cai / si utun bujangga-

3. lawa / na akiing hamay canggwang / rec tungkul dibeka lain / saugah taan ka bumi / ngahusir ka ba ayunan / dek ngayun na

4. tuang seuweu / breah bwanycah dina ayunan / reuwas teher ngareungngeuhheun / rasa kelar dina seuweu / teka sarwa kasepna / deu-

5a.1. ngeun na seuweu / sup nyaluuh di pucuk / nalengkahhan na gapaten / saundur ti batur manggu / ti akiing hamay cang-

2. gwang / na angkat jwangjwang mwaretang / sakeudeung hateu kajeueung / nyawarang leuweung sakeukeudeung / nywarang reuma sababatan / megat pasir mwa-

3. twang mwanggwar / malingping najak nyalandeuh / jauh piraku jauhna / datang ka catihhanna / datang sakali ka dayeuh / ka kadatwan

4. lengkawati / mipir pager tebeh wetan / sacunduk ka pitunggwan / bat ngaliwat sasakali / carek urang lengkawati / mu-

5b.1. jeung deungna twang seuweu / ulang panapak ka lemah / dingaran na pupalawa / galasar di panahtaran / galusur na twang ambu / pingping kwaneng mwatwang watwan /

2. ti katuhu ngeumbing layeun / ti kenyca neueulkeun linycar / meresutkeun twang ramwa / kajungjung ku ali pyung / cab tuy tapih

3. meubeut keuneung / ngeureut kana bitis kwaneng / bat lempay dina panahtaran / pug deui bujanggalawa / saurna bujanggalawa / utu-

4. n prebu puspalawa / adiing sya ti heula / ambuing mangka di tengah / ikeun aing ti peudeuri / lumalenggwak lumalenghway / na ambu deu-

Lokasi:  Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut

Koordinat : 7° 17' 18" S, 107° 49' 43" E

Telepon:

Email:

Internet:

Arah:  Untuk mencapai situs Ciburuy dapat menggunakan berbagai jenis kendaraan baik angkutan umum maupun mobil pribadi. Namun demikian, angkutan umum dan ojeg hanya mencapai 200 - 300 m sebelum pintu masuk kawasan. Jarak kawasan dari Kabupaten Garut sejauh  12 km. Waktu yang diperlukan ± 1,5 jam dari Cileunyi Bandung sampai Terminal Ciawitali Kota Garut. Kemudian naik angkutan kota jurusan Bayongbong sekitar 30-50 menit. Dari jalan raya kecamatan dapat ditempuh dengan menggunakan ojeg ± 3 Km dengan tarif Rp. 5000,-. Kemudian berjalan kaki sedikit menurun beberapa saat untuk sampai di rumah adat Kabuyutan Ciburuy.

Fasilitas: Kios Cinderamata

Jam Buka:

Tutup:

Tiket:

Informasi Lebih Lanjut:

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu