Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Papua Papua
KISAH PEU MANA MEINEGAKA SAWAI
- 21 Juli 2018
Peu Mana Meinegaka Sawai merupakan bahasa dari daerah Papua yang berarti kabut membawa petaka. Kabut yang dianggap sering membawa petaka itu berada di puncak Gunung Zega di daerah Bilai, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua, Indonesia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, jika kabut itu sewaktu-waktu muncul di puncak gunung pertanda akan terjadi petaka besar.
 

Peu%2BMana%2BMeinegaka%2BSawai.png

Alkisah, di daerah Paniai, Papua, terdapat sebuah kampung bernama Kampung Bilai. Tidak jauh dari kampung terdapat sebuah gunung yang berdiri tegak dan tinggi bernama Gunung Zega. Penduduk kampung Bilai percaya bahwa gunung itu ada penghuninya. Apabila terserang wabah penyakit, mereka meminta sering bantuan kepada penghuni gunung itu melalui seorang pawang yang diyakini memiliki kesaktian yang tinggi.
 
Suatu hari, penduduk Bilai ingin mengetahui dan melihat langsung wujud penunggu gunung itu. Oleh karena rasa penasaran tersebut, para penduduk mengundang seorang pawang untuk bermusyawarah di Balai Desa.
  • “Maaf, Pawang! Kami mengundang sang pawang untuk berkumpul di tempat ini atas permintaan seluruh warga,” ungkap tetua kampung membuka musyawarah itu.
  • “Kalau boleh saya tahu, ada apa gerangan?” tanya sang pawang penasaran.
Tetua kampung kemudian menjelaskan mengenai maksud mereka. Setelah mendengar penjelasan tersebut, sang pawang pun dapat memahami keinginan seluruh warga.
  • “Baiklah kalau begitu. Saya akan mengantar kalian menuju ke puncak Gunung Zega. Saya pun merasa penasaran ingin mengetahui siapa sebenarnya penghuni Gunung Zega itu. Selama ini saya selalu meminta bantuan kepadanya, tetapi belum pernah bertemu secara langsung,” ungkap sang pawang.
Keesokan hari, para penduduk dari kaum laki-laki berangkat bersama sang pawang menuju ke puncak Gunung Zega dengan membawa senjata berupa tombak. Perjalanan yang mereka lalui cukup sulit karena harus melewati hutan lebat, menyeberangi sungai, dan memanjat tebing yang terjal. Meski demikian, mereka berjalan tanpa mengenal lelah dan pantang menyerah demi menghilangkan rasa penasaran mereka.
 
Setibanya di puncak Gunung Zega, para penduduk beristirahat untuk melepaskan lelah. Suasana di puncak gunung itu sangat dingin dan sunyi mencekam. Yang terdengar hanya suara-suara binatang dan kicauan burung memecah kesunyian. Saat mereka tengah asyik beristirahat, tiba-tiba seekor biawak besar melintas tidak jauh dari tempat mereka beristirahat.
  • “Hai, lihat! Makhluk apakah itu?” teriak salah seorang anggota rombongan ketika melihat biawak itu.
Mendengar teriakan itu, anggota rombongan lainnya segera beranjak dari tempat duduk mereka. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat Seekor Biawak Besar Berkepala Manusia, kakinya seperti kaki cicak, dan berkulit keras seperti kulit biawak. Dengan tombak di tangan, mereka kemudian mengepung biawak itu.
  • “Ayo kita habisi saja makhluk aneh itu!” seru seorang warga.
  • “Tenang saudara-saudara! Kita tidak perlu gegabah. Saya yakin, makhluk inilah penghuni gunung ini,” kata sang pawang.
  • “Lalu, apa yang harus kita lakukan terhadap makhluk ini?” tanya seorang warga. 
  • “Sebaiknya kita tangkap saja biawak ini,” ujar sang pawang.
Akhirnya para penduduk bersepakat untuk menangkap biawak itu dan membawanya pulang ke kampung. Setiba di kampung, biawak berkepala manusia itu menjadi tontonan seluruh warga. Mereka sangat heran melihat wujud makhluk itu. Kaum lelaki segera membuatkan kandang biawak itu untuk dipelihara. Jika suatu ketika mereka mendapat musibah, mereka dengan mudah meminta bantuan kepada biawak yang diyakini sebagai penghuni Gunung Zega itu. Tanpa mereka duga, ternyata biawak itu dapat berbicara layaknya manusia.
  • “Wahai seluruh penduduk kampung ini! Saya berjanji akan memenuhi segala keinginan kalian tetapi dengan satu syarat,” kata biawak itu.
  • “Apakah syaratmu itu wahai biawak?” tanya sang pawang.
  • “Kalian harus memberikan saya satu kepala suku atau kepala kepala perang sebagai tumbal,” pinta biawak itu.
Para penduduk pun tergiur mendengar janji biawak itu. Setiap penduduk menginginkan harta benda. Untuk itulah, mereka berlomba-lomba mencari satu kepala suku atau kepala perang untuk diserahkan kepada biawak itu.
 
Perang antar suku pun tak terhindarkan sehingga banyak kepala perang dan kepala suku yang menjadi korban. Lama-kelamaan, kaum lelaki di daerah itu semakin hari semakin berkurang. Setelah melihat akibat dari menuruti permintaan biawak itu, para penduduk menjadi sadar. 
 
Akhirnya mereka bersepakat untuk membinasakan biawak itu agar tidak ada lagi warga yang menjadi korban. Mereka pun menombak biawak itu hingga tewas. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, biawak itu sempat menyampaikan sebuah pesan kepada warga.
  • “Jika ada kabut yang muncul di puncak Gunung Zega, maka itu pertanda akan terjadi perang.”
Sejak itulah, penduduk Bilai percaya bahwa kabut di puncak Gunung Zega adalah kabut pembawa petaka atau Peu Mana Meinegaka Sawai.
 
 
Sumber: http://agathanicole.blogspot.com/2017/12/kisah-peu-mana-meinegaka-sawai.html

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum