- “Ampun, Baginda. Bukannya hamba bermaksud merendahkan Baginda,” kata Ki Juru Martani,
- “Ki Ageng Mangir bukanlah lawan yang setara buat Baginda. Ia memiliki tombak Kyai Baru Klinthing yang sakti. Di samping itu, sebagai keturunan Majapahit, ia tentu memiliki pengaruh yang sangat kuat di Mangir.”
- “Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Panembahan Senopati.
- “Ampun, Baginda. Untuk menghadapi Ki Ageng Mangir, kita harus menggunakan siasat,” kata Ki Juru Martani.
- “Siasat apakah itu?” Panembahan Senopati penasaran.
- “Kita harus menggunakan siasat apus karma atau tipu daya halus. Bukankah Ki Ageng Mangir sangat menggemari tarian ledhek (ronggeng). Jika Baginda berkenan, kita utus putri Baginda, Putri Pembayun, ke Mangir dengan menyamar sebagai penari,” usul Ki Juru Martani,
- “Bila terpikat pada kecantikan sang Putri, Ki Ageng Mangir tentu akan menikahinya. Dengan begitu, penguasa Mangir itu sudah pasti menjadi menantu Baginda dan niscaya dia akan menghadap dan menghormati Mataram.”
- “Wahai, Ki Dalang. Siapakah gerangan wanita cantik itu?” tanya Ki Ageng Mangir.
- “Dia putri hamba, Tuan. Namanya Waranggana,” aku Ki Dalang Sandiguna.
- “Jika berkenan, izinkanlah aku meminang putri Ki Dalang,” pinang Ki Ageng Mangir.
- “Kanda, Dinda ingin mengatakan suatu hal kepada Kanda. Tapi, Dinda mohon Kanda mau berjanji tidak akan marah setelah mendengarnya,” pinta Waranggana.
- “Ada apa, Dinda? Katakanlah,” kata Ki Ageng Mangir,
- “Kanda berjanji tidak akan marah.”
- “Sebenarnya, nama Dinda bukan Waranggana, tapi Putri Sekar Pembayun. Dinda adalah putri Panembahan Senopati dari Mataram,” ungkap Putri Pembayun.
“Baiklah, Dinda. Demi cintaku pada Dinda dan demi hormatku kepada mertua, Kanda bersedia sowan ke Mataram,” jawab Ki Ageng Mangir.
“Kembalilah ke Mangir! Jika Tuan meneruskan perjalanan hingga ke Mataram, nyawa Tuan di pal (pasti) akan melayang,” demikian bisikan pusaka itu.
“Maaf, Ki Ageng Mangir! Sungguhlah tidak sopan jika seorang menantu membawa senjata saat sungkem kepada mertuanya,” ujar Ki Juru Martani.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...