Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta Yogyakarta
KISAH GUA KISKENDA
- 18 Juli 2018

Gua Kiskenda adalah sebuah gua besar yang di dalamnya menyerupai istana. Gua ini terletak di Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulonporogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Hingga kini, gua ini masih dianggap sebagai tempat keramat oleh masyarakat setempat terkait dengan kisah mitos yang melegenda melatarbelakanginya. Menurut cerita, pada zaman dahulu pernah terjadi sebuah peristiwa yang mengerikan di dalam gua tersebut.

KISAH%2BGUA%2BKISKENDA.png

 

Di Pegunungan Menoreh, Kulonporogo, terdapat sebuah gua bernama GUA KISKENDA. Gua tersebut merupakan istana kerajaan dua makhluk kakak beradik yang bernama MAHESA SURA dan LEMBU SURA. Mereka adalah pemimpin berbagai macam binatang buas di daerah itu. Keduanya memiliki tubuh yang tinggi dan besar, berbadan manusia, tapi berkepala binatang. Kakak beradik itu juga memiliki kesaktian yang luar biasa. Konon, jika salah seorang di antara mereka yang meninggal, ia dapat hidup kembali setelah tubuhnya dilangkahi oleh saudaranya yang hidup.
 
Pada suatu malam, Mahsesa Sura bermimpi sedang bersanding di pelaminan bersama DEWI TARA, PUTRI SANG BATHARA INDRA dari Kahyangan. Keesokan hari, Mahase Sura bermaksud mewujudkan mimpi itu. Ia pun meminta adiknya, Mahesa Lembu, untuk melamar Dewi Tara di Negeri Kahyangan. Betapa terkejut Lembu Sura saat mendengar permintaan kakaknya itu.
  • “Jangan, Kanda! Dewi Tara adalah bidadari yang paling cantik di Kahyangan. Bagaimana mungkin dewa-dewa akan menerima lamaran makhluk seperti kita ini. Sebaiknya, urungkanlah niat Kanda itu!” ujar Lembu Sura.
  • “Tidak, Adikku! Mereka pasti takut menolak lamaranku karena akulah yang paling sakti di Jagat Raya ini,” kata Mahase Sura dengan sombong.
Mendengar tekad kuat kakaknya itu, Lembu Sura terpaksa berangkat ke Kahyangan untuk melamar Dewi Tara. Benar apa yang dikatakan Lembu Sura. Setibanya di Kahyangan, lamaran kakaknya langsung ditolak oleh para dewa. Akhirnya Lembu Sura kembali ke bumi tanpa membawa hasil.
 
Alangkah marah Mahesa Sura saat mendengar kabar buruk tersebut. Ia tidak bisa menerima penolakan itu.
“Kurang ajar! Para dewa itu telah menghinaku. Mereka harus diberi pelajaran,” ujar Mahasa Sura dengan geram.
Pada saat itu pula Mahesa Sura mengajak adiknya untuk menyerang Negeri Kahyangan. Begitu tiba di Kahyangan, mereka langsung mengamuk. Tak satu pun dari para dewa yang mampu mencegah perbuatan biadab kakak beradik itu karena kesaktian mereka yang luar biasa. Setelah menghacurkan seluruh isi Kahyangan, Mahesa Sura membawa Dewi Tara ke bumi untuk dinikahi.
 
Sementara itu, para dewa segera bermusyawarah untuk mencari cara agar dapat menumpas Mahesa Sura dan Lembu Sura serta membawa Dewi Tara kembali ke Kahyangan. Akhirnya, mereka bersepakat untuk menggunakan kesaktian kadewatan yang bernama Aji Pancasona. Menurut mereka, hanya itulah satu-satunya cara yang dapat mengalahkan Mahesa Sura dan adiknya. Namun, kesaktian yang maha dahsyat itu hanya bisa digunakan oleh orang yang berhati luhur, suci, dan mampu mengendalikan nafsu sehingga ajian itu tidak digunakan secara sewenang-wenang.
 
Setelah bermusyawarah, para dewa bersepakat untuk menyerahkan kesaktian Aji Pancasona tersebut kepada seorang pertapa bernama Subali. Ia adalah putra Resi Gotama yang sedang bertapa di Suryapringga. Sudah bertahun-tahun Subali bertapa di tempat itu dengan cara mematikan seluruh raga dan memusatkan seluruh pancaran jiwanya kepada sang Pencipta untuk memohon ampunan atas segala perbuatannya.
Dalam keadaan konsentrasi penuh, tiba-tiba Subali terbangun dari pertapaan karena kedatangan Bathara Guru bersama Bathara Narada dan para dewa untuk menemuinya.
“Wahai, Subali! Aku akan memenuhi segala permohonanmu, tapi dengan syarat terlebih dahulu kamu harus menumpas angkara murka yang bersemayam di tubuh Mahesa Sura dan Lembu Sura,” ujar Bathara Guru.
Tanpa berpikiran panjang, Subali langsung menyanggupi tawaran menarik tersebut.
  • “Baik Bathara Guru! Saya bersedia memenuhi syarat itu. Tapi, bagaimana caranya saya bisa melakukannya? Bukankah kedua makhluk kedua orang kakak beradik itu sangat sakti?” tanya Subali.
  • “Tenang Subali! Kami akan memberimu Aji Pancasona. Tapi dengan syarat pula, kamu harus berjanji untuk mempergunakannya bagi perdamaian di alam ini,” ujar Bathara Guru.
Subali pun berjanji dengan sunguh-sungguh untuk menepati janji tersebut. Setelah menerima ajian pamungkas itu, Subali kemudian mengajak adiknya Sugriwa untuk membantu memerangi Mahesa Sura dan Lembu Sura. Setibanya di mulut Gua Kiskenda, Subali meminta adiknya untuk tetap waspada dan berjaga-jaga di depan mulut gua.
“Adikku, kamu di sini saja! Biar aku saja yang masuk ke dalam gua untuk menghadapi kedua makhluk itu,” ujar Subali.
Setelah itu, Subali segera masuk ke dalam Gua Kiskenda. Tak berapa kemudian, ia sudah kembali membawa Dewi Tara yang dirampas dari tangan Mahesa Sura. Sementara itu, Subali akan menyelesaikan pertarungan dengan kedua penguasa Gua Kiskenda itu. Sebelum kembali masuk ke dalam gua, ia berpesan kepada adiknya.
“Adikku, tolong kamu jaga Dewi Tara di sini! Jika darah yang mengalir keluar dari Gua Kiskenda berwarnah merah, maka akulah memenangi pertarungan itu. Namun, jika darah berwarna putih yang mengalir, maka itu pertanda aku yang kalah. Jika peristiwa yang kedua ini terjadi, maka segeralah kamu menutup gua ini dengan batu besar!” ujar Subali.
Ketika Subali masuk di dalam gua, maka terjadilah pertarungan sengit melawan Mahesa Sura dan Lembu Sura. Meskipun tubuhnya kecil, Subali dapat mengimbangi perlawanan kedua musuhnya yang bertubuh besar itu. Justru dengan tubuhnya yang kecil, ia dapat menghindar dan menyerang dengan gesit. Dengan Aji Pancasona, ia berhasil membinasakan Lembu Sura. Namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat Lembu Sura hidup kembali setelah tubuhnya dilangkahi oleh Mahesa Sura. Demikian pula ketika ia berhasil membinasakan Mahesa Sura dan bisa hidup kembali setelah tubuhnya dilangkahi oleh Lembu Sura.
 
Subali sangat heran dan bingung melihat kesaktian kedua musuhnya. Setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan satu cara untuk menghadapinya yaitu membinasakan mereka secara bersamaan. Dengan cara itu, mereka tidak bisa lagi saling melangkahi satu sama lain. Subali kemudian mengubah tubuhnya menjadi besar sebesar tubuh Mahesa Sura dan Lembu Sura. Pada saat yang tepat, ia memegang tanduk kedua musuhnya lalu membenturkannya. Tak ayal lagi, kepala kedua makhluk tersebut pecah sehingga darah bercampur otak yang berwarna putih mengalir keluar gua.
 
Saat melihat darah yang berwarna merah bercampur warna putih, Sugriwa yang berada di depan mulut gua mengira saudaranya tewas bersama salah satu dari musuhnya. Dengan cepat, ia menutup mulut gua itu dengan batu besar. Setelah itu, ia segera meninggalkan tempat itu dan membawa Dewi Tara ke Kahyangan. Sesampai di sana, mereka disambut oleh para dewa dengan perasaan suka cita. Para dewa merasa gembira karena Dewi Tara dapat kembali ke Kahyangan dengan selamat. Namun, mereka juga bersedih karena Subali tewas dalam pertarungan itu.
 
Sugriwa yang berhasil membawa pulang Dewi Tara dianugerahi hadiah yaitu mempersunting bidadari cantik itu. Sebenarnya, Sugriwa merasa berat menerima hadiah tersebut karena merasa bahwa yang lebih berhak menerimanya adalah Subali. Namun, karena yakin kakaknya telah tewas, ia pun bersedia menerima hadiah itu. Tak berapa lama kemudian, pesta perkawinan Sugriwa dan Dewi Tara pun dilangsungkan.
 
Sementara itu, Subali yang baru saja mengalahkan Mahesa Sura dan Lembu Sura terperanjat ketika melihat pintu Gua Kiskenda tertutup rapat dengan batu besar. Merasa dihianati oleh adiknya, ia langsung naik pitam dan marah kepada Sugriwa. Dengan kesaktiannya, ia menendang batu besar yang menutupi mulut gua hingga hancur berkeping-keping. Setelah itu, ia segera mencari Sugriwa ke Negeri Kahyangan. Sesampainya di sana, ia mendapati Sugriwa sedang bersanding di pelaminan bersama Dewi Tara. Melihat hal itu, Subali semakin geram kepada adiknya.
“Hai, Sugriwa! Dasar Adik tidak tahu diri! Diberi amanat malah berhianat,” tuduh Subali dengan geram.
Baru saja Sugriwa akan menjelaskan kejadian yang sebenarnya, Subali langsung menghajarnya. Sugriwa pun berusaha mempertahankan diri karena merasa dirinya tidak bersalah. Akhirnya, pertarungan sengit antara kedua saudara itu tidak terelakkan lagi. Pertarungan itu tidak akan berakhir sekiranya sang ayah, Resi Gotama, tidak segera melerai mereka. Setelah mendengar penjelasan dari Sugriwa mengenai pemicu terjadinya pertarungan tersebut, Resi Gotama menjadi marah kepada Subali karena telah membuat malu keluarga dan mengaku berdarah putih.
 
Menurut Resi Gotama, tidak ada manusia di dunia yang berdarah putih. Oleh karena ketakaburannya itu, Subali dikutuk oleh ayahnya sendiri. Kutukan itu disebutkan dalam sabdanya bahwa Subali akan mati oleh kesatria titisan Bathara Wisnu bernama Prabu Rama Wijaya. Kutukan itu kelak terbukti dengan matinya Subali terkena panah sakti Prabu Rama Wijaya. Menurut cerita, sebelum menghembuskan nafas terakhir, Subali sempat mengucapkan terima kasih kepada Rama karena telah membebaskan nafsu amarah yang melekat pada dirinya.
 
Sementara itu, Sugriwa mendapat restu dari Resi Gotama untuk tetap menikah dengan Dewi Tara.Setelah menikah, Sugriwa membangun kerajaan yang diberi nama Pancawati di Gua Kiskenda.
 
∞∞∞
 
 
KISAH%2BGUA%2BKISKENDA-2.png
 
Demikian dongeng KISAH GUA KISKENDA daerah Kulonprogo, Yogyakarta. Hingga saat ini, masyarakat setempat masih meyakini bahwa Gua Kiskenda merupakan tempat pertarungan antara Subali dengan Mahesa Sura dan Lembu Sura. Kisah atau alur cerita tentang peristiwa tersebut digambarkan pada dua relief di depan mulut gua. Keyakinan masyarakat setempat tentang pristiwa itu juga dibuktikan dengan adanya sebuah batu yang menyerupai lidah di dalam gua itu. Batu itu diyakini sebagai lidah Mahesa Sura yang dipotong oleh Subali agar Mahesa Sura tidak bisa hidup kembali. Selain itu, ada juga yang disebut babat kandel, yaitu bebatuan yang menyerupai usus manusia. Menurut cerita, babat kandel itu merupakan isi perut Mahesa Sura yang dibuang oleh Subali.
 
Sumber: http://agathanicole.blogspot.com/2017/09/kisah-gua-kiskenda.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu